Oleh: hendrinova | April 4, 2014

Caleg Perempuan Bukan Lagi Pilihan Alternatif

Caleg perempuan berkualitas merupakan pilihan yang tepat untuk kemajuan Indonesia di masa datang. Makin banyak caleg perempuan berkualitas yang duduk sebagai legislatif di parlemen, maka Indonesia bisa dibawa ke arah yang lebih baik.

Memang butuh usaha yang ekstra untuk menghadirkan caleg perempuan berkualitas agar bisa duduk di parlemen. Masih tingginya dominasi kaum pria karena adat ketimuran yang masih membelenggu, membuat caleg perempuan berkualitas masih malu-malu untuk tampil.

Padahal untuk masalah wakil rakyat, yang berkualitaslah yang layak mendapatkannya. Kuota tidak seharusnya dijadikan alasan, menghalangi caleg perempuan berkualitas menguasai parlemen.

Sayangnya, meski sudah banyak caleg perempuan yang muncul di setiap pemilu, mereka masih belum bisa meraih simpati masyarakat luas. Jangankan dari kalangan kaum Adam, dari kaum Hawa pun caleg perempuan belum mendapatkan tempat.

Padahal kalau dihitung secara matematika, seharusnya kaum perempuanlah yang menguasai parlemen. Caleg perempuanlah yang bakal mendominasi setiap keputusan yang ada.

Oleh karena itu, kaum perempuan harus disadarkan, karena selayaknya mereka memilih caleg perempuan berkualitas. Jika ada caleg perempuan berkualitas di jajaran pilihan, dialah yang layak untuk mendapat suara kaum perempuan.

Agar hal ini menjadi nyata, maka caleg perempuan harus berani memperlihatkan kualitasnya, agar pemilih semakin yakin tentang dirinya. Koalisi perempuan juga selayaknya dimaksimalkan fungsinya, mencari kaum perempuan yang berkualitas, untuk dijadikan caleg.

Makin banyak caleg perempuan berkualitas menjadi anggota legislatif (aleg) maka akan menjadi tiang parlemen Indonesia. Parlemen akan kuat, karena disokong oleh perempuan-perempuan hebat di bidangnya.

Predikat tiang merupakan predikat sangat hebat dan terkuat dalam bangunan. Tidak akan berdiri kokoh bangunan, jika tidak disokong dengan tiang yang kuat. Kokohnya tiang, juga akan memberikan kenyamanan bagi yang menghuninya.

Sebaliknya, lemahnya tiang, maka akan membawa kecelakaan bagi penghuninya. Tentu bisa dibayangkan jika tiang runtuh, maka runtuhlah semuanya. Hal itu juga berlaku bagi negara, karena perempuan itu tiang negara. Maka tak salah kiranya perempuan dilibatkan dalam membangun negara.

 

Perempuan di Parlemen

 

Kehadiran perempuan dalam parlemen sangat urgen, karena ia akan membuat parlemen memiliki tiang. Perempuan yang berpredikat tiang, tentunya hanya perempuan yang memiliki karakter, bukan perempuan boneka yang malah menjadi kurir korupsi di parlemen.

Saat ini kondisi perempuan di parlemen masih menyedihkan yang hanya diperalat untuk kepentingan partai. Kasus Anggelina Sondakh telah mencoreng akan peran sebenarnya perempuan di parlemen.

Perempuan parlemen yang dirindukan dan diharapkan adalah sosok perempuan yang bisa menjadi tiang dalam setiap keputusan. Hanya perempuan yang memiliki perhitungan cermat, meski terkadang bermain perasaan terhadap segala sesuatu.

Bisa dibayangkan akibat besar yang akan terjadi, jika perempuan tidak mengambil peran dalam parlemen. Perempuan akan jadi korban kebiadaban keputusan kaum lelaki, seperti dengan diizinkannya pembukaan lokalisasi dan pengiriman TKW tak berkualitas yang berpotensi jadi human trafficking atau perdagangan perempuan.

Keberadaan perempuan di parlemen, tidak hanya diharapkan bisa berbuat banyak untuk kaumnya sendiri, tapi juga untuk anak-anak dan kegiatan sosial lainnya. Paling dekat terkait keberadaan hutan dan taman-taman kota. Hanya perempuan yang lebih sensitif jika dikaitkan dengan keberadaan ekosistem dan makhluk hidup.

Banyak harapan yang disandarkan bangsa Indonesia dengan adanya perempuan di parlemen. Sayang hingga saat ini, belum ada perempuan di parlemen Indonesia yang menonjol seperti Margaret Thatcher di Inggris, atau Hillary Clinton di Amerika Serikat. Selain mereka berdua, juga ada Madeleine Albright yang kiprahnya dikenang dunia sepanjang masa.

Perempuan Indonesia di parlemen diharapkan bisa melebihi mereka. Mereka bersatu padu memperjuangkan nasib perempuan, sehingga mendapat tempat terhormat. Tidak seperti sekarang, masih menjadi konsumsi kaum kapitalis dan orang-orang yang memanfaatkan mereka.

Isu Perempuan

Kehadiran perempuan di parlemen baru diperhitungkan sejak Pemilu 2009. Sayangnya yang muncul politisi perempuan dari kalangan artis. Mereka adalah Angelina Sondakh, Vena Melinda, Rieke Diah Pitaloka, Wanda hamidah, dan sebagainya.

Mereka ini kiprahnya tidak terlalu menonjol dan mendapat simpati masyarakat. Apalagi perempuan di luar artis, mereka kadang hanya dimanfaatkan saat voting suara berlangsung.

Angin segar sedikit berhembus dengan adanya Undang-undang Pemilu Nomor 8 Tahun 2012 Pasal 55, terkait kuota perempuan. Perempuan di daftar bakal calon legislatif sedikitnya 30% (tiga puluh persen). Bila dalam daerah pemilihan (Dapil) tidak memenuhi kuota 30% keterwakilan perempuan, maka Partai Politik yang bersangkutan terancam tidak memiliki calon legislatif.

Walau sebenarnya kuota 30 % masih belum adil, karena semua masyarakat laki-laki dan perempuan memiliki hak yang sama dalam negara. Seharusnya kalau banyak perempuan yang berkualitas, tak harus 30 persen, bahkan bisa di atas 75 persen.

Jika perempuan memiliki banyak suara di parlemen, maka isu-isu perempuan bisa di urai. Apalagi banyak undang-undang yang masih bias gender. Misalnya UU Kesehatan, UU Perkawinan, UU Pemilu, UU Parpol, UU Susduk, UU Otonomi Daerah,UU Tenaga Kerja, UU Sisdiknas, UU Kependudukan, Revisi KUHP, UU Buruh Migran,UU Pornografi dan Pornoaksi, UU Perlindungan Anak dan UU Lingkungan Hidup.

Semoga saja Kuota ini hanyalah kebijakan sementara, bisa di koreksi di masa datang. Sudah selayaknya mereka yang duduk di parlemen orang-orang berkualitas, tidak lagi memandang gender.

Sosok perempuan yang akan menduduki parlemen, tentu saja diharapkan juga menjadi teladan di tengah masyarakat. Jangan pula malah menjadi bahan olokan karena perilaku yang tidak profesional.

Meski jadi tiang parlemen, mereka hendaknya juga bisa menjadi tiang keluarga di tengah anak-anaknya. Jangan sampai ibu sibuk diparlemen, lalu anak ditemukan mati sakau di dalam mobil atau diskotik dan tempat lainnya.

Perempuan parlemen yang seperti ini, akan membuat masyarakat kembali mencibir, karena tidak becus mengurus keluarga apalagi masyarakat. Jadi hendaknya perempuan parlemen menjaga kesuksesannya di rumah tangga, karena itulah harga dirinya.

Perempuan harus menunjukkan eksistensinya di parlemen, sebagai pembuat keputusan yang diperhitungan. Masukannya ditunggu, karena terkait dengan kemajuan negara.

Perempuan di parlemen hendaknya menjadi pengawal setiap perundang-undangan yang akan lahir. Mereka harus menjadi perpanjangan lidah bangsa Indonesia, yang menginginkan UU yang berpihak pada bangsa, bukan pada segelintir orang.

Sudah saatnya perempuan di parlemen Indonesia bangkit menjadi teladan bagi perempuan lain di seluruh bangsa di dunia. Dunia sangat rindu akan sosok perempuan seperti Cut Nyak Dien, Kartini, Rohana Kudus, dan lainnya. Meski mereka tidak semua berkiprah di parlemen, setidaknya eksistensi mereka diperhitungan dunia dan ditulis dalam tinta emas sejarah.

Semoga saja dengan kuota sementara 30 persen, bisa melahirkan perempuan tiang parlemen yang membuat parlemen Indonesia berwibawa di mata dunia internasional. Saatnya perempuan di parlemen menunjukkan eksistensi diri mereka yang sesungguhnya. *


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: