Oleh: hendrinova | Desember 14, 2012

Pengorbanan Nyonya Mendut


Judul: Khutbah di Bawah Lembah

Penulis : S.Jai
Penerbit : Najah
Cetakan : Pertama, Februari 2012
Tebal : 308 Halaman
Fajar Abdillah layak diacungi jempol soal keberaniannya mengejar berita, tak peduli pada seorang walikota. Ia dengan berani menerobos rapat yang digelar walikota bersama antek-anteknya, untuk mendapatkan informasi yang ia targetkan. Bahkan lebih gila lagi, ia dengan beraninya mengancam walikota, bahwa ia boleh merasa tidak aman sejak kedatangannya.
Tentu jarang-jarang ada jurnalis yang seperti ini, karena rata-rata sangat dekat dengan walikota. Apalagi yang berposko di kantor walikota, hubungan emosionalnya lumayan tinggi. Sementara bagi wartawan lain, melawan walikota secara terang-terangan dianggap hanya buang-buang waktu, karena kukunya sangat tajam.
Walikota menurut Fajar telah menerima uang dari pejabat, hasil dari bagi hasil dari perusahaan-perusahaan rokok.. Siangnya warga berkumpul di kantor walikota menuntut penjelasan akan kabar yang mereka dengar. Turut dalam barisan demonstrasi Man Sapar dan istrinya Mendut yang bernama asli Lailatus Sa’diyah.
Mereka juga menuntut pengendalian dana dari pemerintah, untuk program kesejahteraan. Sebagian besar dana itu diduga dikembalikan ke pusat, karena sang walikota tidak mampu membuat program yang bisa dipertanggungjawabkan.
Novel berjudul Khutbah di Bawah Lembah ini, sedikit kurang singkron dengan isi cerita. Entah khutbah apa yang dimaksud penulis, karena sampai akhir cerita permasalahan terfokus pada masalah rokok dan perlawanan yang dilakukan Nyonya Mendut.
Berulang kali perempuan ini mengalami peristiwa sedih dengan wafatnya anggota keluarga. Ia kini hanya memiliki Mening anak perempuannya. Ia kini harus menjalani hari, tanpa kehadiran sang ibu. Nyonya Mendut dibawa petugas kepolisian, untuk satu perbuatan yang disinyalir melibatkan dirinya.
Mungkin pembaca harus membaca beberapa kali, sebelum akhirnya menutup buku untuk berhenti membaca. Mudah-mudahan, khutbah di bawah lembah ditemukan, sehingga cerita jadi nyambung. 
Peresensi ;  Hendri Nova

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: