Oleh: hendrinova | Desember 14, 2012

Hikmah Hidup Kedua

<!–[if !mso]>st1\:*{behavior:url(#ieooui) } <![endif]–>

Judul: Shirat
Penulis : Riyanto el-Harist
Penerbit : DIVA Press
Cetakan : Pertama, Februari 2011
Tebal : 406 Halaman
PERISTIWA jatuhnya pesawat mewah dalam perjalanan menuju Singapura, telah mengubah jalan hidup sang politikus Muhammad El Faridz. Dari semua penumpang, hanya ia yang dinyatakan masih hidup dengan kondisi tubuh hangus terbakar.
Saking parahnya, tim dokter di rumah sakit Palembang tempat terdekat perawatan dari lokasi jatuhnya pesawat, tidak berani menyentuh tubuhnya. Mereka hanya bisa menjaga detak jantung El Faridz agar tetap berdenyut.
Selama satu bulan koma, ia dijaga sangat ketat dengan perawatan terbaik. Suatu hari, ia didatangi seorang pria berpakaian putih yang sangat mirip dengan wajahnya di saat muda. Ia kemudian membawa El Faridz menembus waktu 30 tahun lalu.
Saat itulah ia tersadarkan bahwa selama ini ia telah hidup dengan bergelimang dosa. Sebagai seorang politikus, dosanya sangat banyak dan tak lagi menghiraukan ibadah pada Allah SWT.
Ia berubah 180 derajat, dari seorang tukang ikan yang dulu terkenal keshalehannya. Dari petualangan itulah, ia seolah disadarkan betapa ia telah jauh dari Allah SWT. Ia berharap Allag memberinya waktu memperbaiki diri, agar bisa menembus kesalahan yang telah dibuat.
Saat ia merasakan tubuhnya beranjak sejuk, ia pun dinyatakan sudah kembali dari koma. Tim dokter kemudian memindahkannya dari ICU ke ruang VVIP. Selama itu, ia pun mengalami bedah plastik untuk mengembalikan kondisi kulit dan wajahnya yang kehilangan bentuk.
Begitu perban dibuka, ia melihat wajahnya yang baru, jauh lebih muda dari wajahnya yang sudah berusia mendekati 60 tahun. Namun satu keputusan nekat ia ambil, agar bisa memulai hidup dengan lembaran baru.
Pada tim dokter dan aparat kepolisian, ia mengaku bukan El Faridz, tapi pembantunya. Ia pun menolak analisa DNA atau bukti apapun juga yang mengatakan ia adalah El Faridz.
Sukses mengelabui dokter dan aparat kepolisian, ia mendatangi surau tua di tempat ia pernah mengaji dulunya. Di situ ia melihat sosok ayahnya kembali sedang berdiri di mimbar. Sewaktu ia mau mendekat, kaki mendadak sakit dan jaringan kulit barunya robek dan mengeluarkan darah. Setelah itu, ia tak sadarkan diri sampai ia disadarkan warga sekitar.
Novel berjudul Shirat ini, mencoba memberikan sentuhan lain perjalanan di alam lain dalam posisi seseorang koma. Ini memang cara lain bagi Allah untuk menyadarkan hamba-Nya yang terpilih. El Faridz bersyukur, karena masih diberi kesempatan hidup kedua untuk memperbaiki diri.
Bagi anda yang ingin mendapatkan pencerahan, maka novel ini bisa dijadikan teman untuk mendapatkannya dengan bahasa yang menarik. Jadi simak pesannya, agar dapat ditarik hikmahnya. Peresensi : Hendri Nova

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: