Oleh: hendrinova | November 23, 2012

Media Sosial, Jadikan Berdagang Tak Harus Punya Toko

Saat dapat surat PHK dari kantornya, Hanif memang sempat terpuruk. Ia bingung mencari pekerjaan lainnya, karena mencari pekerjaan sekarang tidaklah mudah.

Pada sang istri, Susi, keluh kesah itu ia luahkan begitu saja. Untuk beberapa bulan ke depan, biaya rumah tangga terutama susu anak, mungkin masih bisa ditanggulangi dengan uang pesangon.

Namun setelah itu, maka anaknya bisa terancam tak bisa minum susu lagi. Lama suami istri itu termenung akan jalan keluar dari masalah hidup yang mulai terasa berat menghimpit.

“Saat itu, istri saya dengan sedikit ragu mengajukan idenya pada saya. Ia ingin membuat boneka kecil yang bisa dijual untuk hadiah anak TK, atau buat pajangan,” kata Hanif.

Rupanya, selama ini sang istri diam-diam melanjutkan hobinya membuat mainan untuk anak-anak sendiri. Berbekal kain flanel dan perca, ia berkreasi membuat boneka-boneka mungil yang banyak digemari anak-anak.

“Setelah merenung agak lama, saya akhirnya menyetujui idenya. Saya akan bertindak sebagai pemasaran, baik menjual langsung ke TK-TK, toko, maupun lewat sosial media Facebook dan Twitter,” ujar Hanif.

Sekali-sekali, Hanif membantu sang istri memasukkan busa ke dalam boneka-boneka yang sudah dirancang istrinya. Setelah terkumpul beberapa model, ia kemudian memamerkannya di media sosial dan menawarkannya ke beberapa toko.

Ajaibnya, jika beberapa toko hanya mengajak kerjasama penjualan alias konsinyasi, di media sosial ia banyak mendapat tawaran cash. Demi menghitung modal, maka prioritas utama ia dahulukan yang membeli cash.

Pemesannya tak hanya dari Sumatra Barat, tapi hampir di seluruh Indonesia. Karena banyak yang pesan, ia pun meminta anggota keluarga membantu proses pembuatan boneka.

Kini boneka-boneka kecil mungil buatan istri Hanif, sudah tersebar di Indonesia. Bisnis itu berkembang, berkat kejujuran dan inovasi di sosial media.

Tak jarang ia menerima order boneka yang diinginkan pemesan. Hal itu ia penuhi dengan sepenuhnya menjaga kualitas.

Sekali lagi, sosial media membuat mimpi Hanif dan istrinya menjadi pengusaha tanpa toko kesampaian. Ia berharap, agar bisnisnya bisa terus berkembang dan membesar.

Ia berharap, untuk bisa memasarkan produknya lebih luas lagi, pihak perguruan tinggi seperti Prasetiya Mulya Business School mau memberikan edukasi pada masyarakat. Hanya dengan cara itu, maka semangat menjadi wirausaha menggema dalam masyarakat.*


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: