Oleh: hendrinova | Juni 10, 2012

Obati Deman dengan Tanjung

HARUM BERKHASIAT – Pohon tanjung yang rimbun, sering dijadikan pohon pelindung di tepi jalan. Hendri Nova  

Pohon tanjung banyak dijumpai di pinggir-pinggir jalan, sebagai pohon pelindung. Daunnya yang rimbun dan batang yang tak cepat tinggi menjulang, membuat pohon tanjung (mimusops elengi) dijadikan pilihan pohon lindung.

Tentu tak hanya lindungan dan kesejukan yang mampu diberikan pohon tanjung, wangi bunganya juga sanggup menenangkan pikiran. Sayangnya, kalau kita berada di bawah batang pohonnya, bau bunga tak terlalu kentara, apalagi di pinggir jalan.

Aromanya baru tercium, saat beberapa kuntum bunga dikumpulkan dan cium. Aromanya yang harum akan masuk ke pusat saraf dengan kemampuan menenangkan yang layak diacungi jempol.

Di kampung-kampung, dulunya gadis-gadis sering menjadikannya mainan rambut. Sayang begitu pewangi rambut banyak diproduksi pabrik, kebiasaan ini jadi hilang begitu saja. Tinggallah pohon tanjung dengan bunga wanginya meluruh ke tanah.

Menurut data yang didapat dari id.wikipedia.org, pohon tanjung disebut berasal dari India, Sri Lanka dan Burma. Ia dibawa masuk ke Nusantara semenjak berabad-abad yang silam.

Nama di tiap daerah berbeda. Kalau di Minangkabau lebih populer degan sebutan bunga tanjuang. Sementara di tempat lain, ada yang menyebutnya dengan nama tanjong, tanju, angkatan, wilaja, keupula cangè (Aceh), dan kahekis, karikis, kariskis, rekes (aneka bahasa di Sulut).

Dari segi bentu fisik, pohon berukuran sedang, tumbuh hingga ketinggian 15 m. Daun-daun tunggal, tersebar, bertangkai panjang, daun yang termuda berambut coklat, yang segera gugur.

Helaian daun bundar telur hingga melonjong, panjang 9–16 cm, seperti jangat, bertepi rata namun menggelombang. Bunga berkelamin dua, sendiri atau berdua menggantung di ketiak daun, berbilangan-8, berbau enak semerbak.

Kelopak dalam dua karangan, bertaju empat-empat, mahkota dengan tabung lebar dan pendek, dalam dua karangan, 8 dan 16, yang terakhir adalah alat tambahan serupa mahkota, putih kekuning-kuningan. Benang sari 8, berseling dengan staminodia yang ujungnya bergigi.

Buah seperti buah buni, berbentuk gelendong, bulat telur panjang seperti peluru, 2–3 cm, akhirnya merah jingga, dengan kelopak yang tidak rontok. Biji kebanyakan satu, gepeng, keras mengilat, coklat kehitaman.

Bunganya yang wangi mudah rontok dan dikumpulkan di pagi hari untuk mengharumkan pakaian, ruangan atau untuk hiasan. Bunga ini, dan aneka bagian tumbuhan lainnya, juga memiliki khasiat obat. Buahnya dapat dimakan. Sayang rasa sepat, membuat buahnya tidak jadi favorit.

Air rebusan pepagannya digunakan sebagai obat penguat dan obat demam. Rebusan pepagan beserta bunganya digunakan untuk mengatasi murus yang disertai demam. Daun segar yang digerus halus digunakan sebagai tapal obat sakit kepala.

Sementara daun yang dirajang sebagaimana tembakau, dicampur sedikit serutan kayu secang dan dilinting dengan daun pisang, digunakan sebagai rokok untuk mengobati seriawan mulut.

Kayu pohon tanjung berbentuk padat, berat, dan keras. Kayu dari varietas parvifolia yang biasa tumbuh dekat pantai dipilih sebagai bahan pasak dalam pembuatan perahu, untuk tangkai tombak dan tangkai perkakas lain, almari dan mebel, serta untuk tiang rumah.
Varietas ini bisa tumbuh setinggi 25 m dan segemang 40 cm. Kayu tanjung juga baik untuk dijadikan bahan ukiran, patung, penutup lantai, jembatan, dan bantalan rel kereta api.

Kayu teras tanjung coklat tua, sedangkan kayu gubalnya berwarna lebih muda dengan batas-batas yang jelas. Teksturnya halus dan merata, dengan arah serat lurus, agak bergelombang atau sedikit berpadu.

Berat jenis kayu berkisar antara 0,92–1,12 (rata-rata 1,00), dan termasuk kelas kuat I. Kayu tanjung tergolong mudah dikerjakan dengan hasil yang amat baik; ia dapat diserut, dibor, dilubangi persegi, dan diamplas dengan hasil yang sangat baik; serta dibentuk dan dibubut dengan hasil yang baik hingga sangat baik.

Keawetan kayu tanjung termasuk dalam kelas I-II. Daya tahannya terhadap jamur pelapuk kayu termasuk kelas II, sementara terhadap rayap kayu kering termasuk kelas IV (tidak awet). Dalam pada itu, keterawetannya tergolong sedang.

Sayangnya, kayu tanjung tidak mudah dikeringkan dengan hasil baik. Kayu ini cenderung melengkung, pecah ujung dan retak-retak permukaannya apabila dikeringkan. Meskipun relatif mudah dikupas, akan tetapi venir (lembaran tipis bahan kayu lapis) yang dihasilkan cenderung menggelombang. Pengeringan alami harus dilakukan dengan hati-hati dan dalam waktu lama; pengeringan papan setebal 3 cm (dari kadar air 39% hingga 15%) membutuhkan waktu sekitar 63 hari.

Nah, tentu tidak hanya bunganya saja yang kini bisa diambil manfaatnya. Bagi anda yang rokok herbal, ada baiknya mencoba irisan daun bunga tanjung. Moga-moga saja, tidak berbahaya sebagaimana rokok dari tembakau. Hendri Nova


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: