Oleh: hendrinova | Juni 10, 2012

Buah Doa Negatif

<!–[if !mso]>st1\:*{behavior:url(#ieooui) } <![endif]–>
Judul: Bercinta dalam Tahajjudku

Penulis : Anshela
Penerbit : DIVA Press
Cetakan : Pertama, Agustus 2010
Tebal : 216 Halaman
            Doa yang dipinta memang harus selalu yang baik-baik saja. Sedapat mungkin hindari berdoa buruk, karena tak ada yang tahu kalau suatu saat nanti doa buruk itu akan menimpa diri sendiri. Setidaknya itulah yang dialami Kisi, dalam novel yang berjudul “Bercinta dalam Tahajjudku”.
            Status sebagai wartawan kampus, membuatnya harus berurusan dengan Bangga, salah seorang mentor di kelompok Rohis sekolahnya. Sebagai gadis yang ceplas ceplos, ia tak bisa memungkiri hatinya, kalau ia suka pada Bangga.
            Suatu hal kebetulan, Bangga tinggal dekat dengan rumahnya, tepatnya di rumah pak haji. Hal itu membuat Kisi yang ditemani Riris sahabatnya, jadi minat dengan ilmu agama. Walau motivasi awalnya, hanya untuk menatap hanya si pujian hati.
            Di sekolahnya, Bangga mengajar pelajaran agama. Kisi sangat senang, jika Bangga sudah masuk kelas. Benih-benih cinta telah tumbuh subur dalam hatinya. Ia berharap Bangga tahu akan isi hatinya dan penuh doa agar suatu saat nanti Bangga jadi miliknya.
            Sayang di sekolah, seorang gadis kaya bernama Velly, juga suka pada Bangga. Kisi merasa dapat saingan, apalagi dengan tindakan agresif Velly. Hingga suatu hari, keduanya bertengkar di tepi jalan.
            Kisi yang menampar muka Velly, dapat balasan yang mengakibatkan ia kecelakaan. Kakinya harus diamputasi, demi menyelamatkan hidupnya. Kisi merasa hidupnya tak berguna dengan kondisi tubuh cacat.
            Saat Velly dan orang tuanya minta maaf, dengan kasar Kisi menolaknya. Walau untuk biaya operasinya, orang tua Velly yang akhirnya menanggung. Akibat peristiwa itu, Velly jatuh sakit hingga sekarat.
Velly wafat, dan Kisi datang dengan mengabulkan permintaan maaf keluarga Velly. Ia pun merasa tak ada beban, karena telah memaafkan Velly.
Di sisi lain, tebersit kabar Bangga akan menikah. Wanita yang akan dijadikan istri, adalah Kisi.Namun kabar itu disembunyikan darinya, hingga Kisi sebal dan berdoa wanita yang akan jadi istri Bangga tak jadi menikah.
Saat acara lamaran, barulah semua jelas bagi Kisi. Ia pun langsung mengiyakan dan persiapan pernikahan digelar. Sayang di hari H itu, Kisi harus menerima sebuah kenyataan pahit, buah dari doanya sendiri.
Novel karya Anshela ini, digarap dengan bahasa khas remaja. Maka jangang heran jika, bahasanya memakai bahasa tutur, sebagaimana remaja bertutur.
Namun ide tentang doa yang berbalik, tentu memberikan kejutan pada akhir cerita. Soalnya kehilangan Bangga, membuat Kisi harus bertemu dengan pria bernama sama, dikelanjutan cerita hidupnya.
Hikmah yang bisa diambil dari novel ini, tentu terkait doa yang diucapkan. Sedapat mungkin jangan berdoa keburukan, agar tak jadi boomerang yang akan berbalik pada diri sendiri.
Lebih baik berdoa yang baik-baik saja, dan berharap suatu saat menjadi kenyataan. Soalnya hanya Allah SWT, waktu terbaik doa yang akan Ia kabulkan. Hendri Nova

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: