Oleh: hendrinova | April 24, 2012

THE ARTIST ; THE ARTIST ; Lunturnya Ego si Aktor Kondang

Pemutaran perdana film bisu A Russian Affair berlangsung sukses. Nama George Valentin (Jean Dujardin) sebagai aktor utama makin berkibar dan makin banyak penggemar.

Salah seorang fansnya Peppy Miller (Berenice Bejo) ikut berdesak-desakan saat ada jumpa pers, untuk sekedar minta tanda tangan. Tanpa sengaja George bersenggolan dengan Peppy dan bukunya terjatuh. George berupaya mengambil buku itu dan tak sengaja besenggolan lagi.

Keduanya bersitatap dan kesempatan itu dengan kilat digunakan Peppy untuk mencium pipi kiri orang yang dikaguminya itu. Saat ciuman mendarat, saat itulah kamera berhasil mengabadikannya dan besoknya keluar di halaman depan koran Variety dengan judul “Who’s That Girl?”.

Pertemuan keduanya secara tidak sengaja kembali terjadi di Kinograph Studios. Saat itu Peppy sedang mengikuti audisi untuk menjadi penari latar dalam sebuah film. Ia sama sekali tidak tahu kalau di studio itu tempat George bekerja.

George sendiri waktu itu sedang berbincang dengan Al Zimmer (Jhon Goodman) yang merupakan bos dari Kinograph Studios. Zimmer sedang membicarakan keberatannya dengan foto yang terpajang di halaman depan koran Variety. Ia marah-marah, karena menurutnya hal itu bisa memiliki dampak tidak baik atas film yang akan dibintangi George selanjutnya.

George tidak terlalu peduli dengan omelin Zimmer, karena matanya terpesona pada gerakan kaki di balik dinding pemisah. Gerakan kaki si penari sangat lincah, sama dengan tarian yang ada di film A Russian Affair.

Ia mengikuti tarian itu tanpa sepengetahuan Peppy yang berada di balik dinding. Saat dinding di pindah keduanya masih menari dan Peppy terkejut bukan main, karena George mengikuti gerakannya. Apalagi George yang tidak menyangka, kalau wanita yang diikutinya, pemilik wajah di foto di koran Variety.

Al Zimmer yang melihat adegan itu tambah marah. George merasa Al Zimmer sudah terlalu berlebihan dan mencoba membuat Peppy untuk tidak usah merasa bersalah atas hal itu.

Pertemuan demi pertemuan yang tidak di sengaja, membawa Peppy ke takdir sebagai artis terkenal. George berhasil meyakinkan Al Zimmer untuk menjadikan Peppy pasangan mainnya di film berikutnya.

Peppy yang sudah sangat jatuh cinta pada George, masih malu untuk mengungkapkannya. Ia ingin dipeluk dan itu ia lampiaskan pada jas George yang tergantung di ruang ganti. Ia memasukkan tangannya di lengan jas, dan membayangkan seolah-olah dia dipeluk oleh George dengan sangat mesra. Ia tak menyadari kalau George melihat tingkahnya itu.

Waktu terus berlalu dan di tahun 1929, munculnya pembuatan film bersuara (dialog). Zimmer langsung memberitahu George, kalau era kesuksesan film bisu akan berakhir dan beralih ke film yang menggunakan suara.

Sayang George tidak percaya dan yakin hal itu tidak mungkin terjadi. Ia menganggap film yang menggunakan suara para pemainnya, hanya akan menjadi sesuatu yang membosankan.

Ia nekad mendirikan rumah produksi film bisu sendiri dengan biaya sendiri. Ia ingin membuktikan, film bisu masih diminati. Biaya produksi yang besar, menjadi taruhan atas hidup dan kekayaan yang ia miliki. Harapannya kini tertopang pada film yang akan segera diputar.

Namun sungguh sayang, karena saat pemutaran perdana film bisu hasil karyanya itu, bersamaan pula dengan film bersuara yang ternyata di bintangi Peppy. Fansnya itu kini sudah menjelma menjadi bintang film terkenal. Poster film George tanpak diinjak-injak penonton di jalanan.

Inilah awal kehancuran hidup George. Ia membayangkan dirinya tenggelam di dalam pasir secara perlahan, hingga akhirnya ia ditelan bumi. Peppy yang hadir menonton, tak kuasa menahan tangis.

Satu per satu orang-orang di dekat George menghilang dari kehidupannya. Dimulai dari istrinya, Dores (Penelope Ann Miller), kemudian supirnya, Clifton (James Cromwell), hingga akhirnya George hanya ditemani oleh anjing kesayangannya.

George akhirnya tinggal di sebuah apartemen kecil, sendirian dan serba kekurangan. Sebaliknya kehidupan Peppy makin sukses dan terkenal, sebagai artis papan atas Hollywood.

Kebangkrutan memaksa George melelang barang-barang pribadinya. Keadaannya pun semakin memburuk, dan mengalami depresi berat. Puncak dari kekalutannya itu, ia menghancurkan semua koleksi filmnya lalu membakarnya di apartemen.

Untunglah anjing peliharaan George tergolong anjing pintar. Ia berlari keluar apartemen dan berusahan memanggil polisi. Gerakannya mencoba memberitahu, kalau majikannya terkurung di dalam ruangan penuh api.

George berhasil diselamatkan dan dibawa ke rumah sakit. Dalam pelukannya ada gulungan film yang ternyata berisi salah satu film yang dibintanginya bersama Peppy, kala masih berstatus penari latar.

Peppy yang mengetahui peristiwa nahas yang dialami orang yang dicintainya itu, berusaha menolong. Ia membawa George kerumah dan tinggal bersamanya.

Ia pun memohon pada Zimmer, untuk memasangkannya dengan George dalam film selanjutnya. Zimmer yang semula tidak mau, akhirnya menurut setelah diancam Peppy.

George yang sadar dari sakitnya, terkejut ketika menyadari dia berada di rumah Peppy. Ia pun bertemu dengan Clifton (mantan supir pribadinya), yang kini bekerja untuk Peppy sebagai supir pribadi.

George makin shock ketika mendapati semua barang pribadi yang dilelangnya pada masa kehancuran karirnya dulu, ternyata ada di rumah Peppy. Semua barang itu dibeli Peppy dan disembunyikan disebuah ruangan di rumah Peppy.

Film arahan Sutradara Michel Hazanavicius ini, membawa penonton modern ke era masa lalu, saat film tak ada dialog alias bisu. Di tengah film 3D yang terus menjadi tren saat ini, secara mengejutkan diterima luas penonton.

Bahkan The Artist baru saja meraih kategori film terbaik dalam ajang Piala Oscar. Selain film terbaik, empat kategori lainnya Aktor Terbaik : Jean Dujardin, Sutradara Terbaik: Michel Hazanavicius, Desain Kostum Terbaik, dan Musik Terbaik, juga berhasil diraih.

Sebelumnya, film ini juga sukses meraih 3 piala Golden Globe. Disusul 7 piala BAFTA Awards kategori Best Film, Best Director dan Best Actor untuk Jean Dujardin. Hazanavicius juga membawa pulang Best Original Screenplay, Best Original Score, Cinematography, dan Costume Design.

The Artist juga ingin menyampaikan pesan tahap demi tahap tentang sejarah film. Dimulai dari film bisu tanpa zoom shot kemudian menuju film bersuara (dialog) yang akhirnya menggunakan teknologi zoom shot. Tahap demi tahap yang ditunjukan akan menjadi kejutan tersendiri bagi para penikmat film.

Film ini memberikan pelajaran, kalau hidup itu harus bisa menyesuaikan diri dengan keadaan. Jangan terlalu berprinsip, kalau memang sudah tidak saatnya berkeras kepala.

Penasaran dengan ending film ini ? Jangan kuatir, di Indonesia sudah diputar, meski lumayan terlambat dari Amerika yang sudah tayang sejak 12 Oktober 2011. Hendri Nova

Jenis : Drama
Pemain : Jean Dujardin, Berenice Bejo, Jhon Goodman
Director : Michel Hazanavicius
Lunturnya Ego si Aktor Kondang

Pemutaran perdana film bisu A Russian Affair berlangsung sukses. Nama George Valentin (Jean Dujardin) sebagai aktor utama makin berkibar dan makin banyak penggemar.

Salah seorang fansnya Peppy Miller (Berenice Bejo) ikut berdesak-desakan saat ada jumpa pers, untuk sekedar minta tanda tangan. Tanpa sengaja George bersenggolan dengan Peppy dan bukunya terjatuh. George berupaya mengambil buku itu dan tak sengaja besenggolan lagi.

Keduanya bersitatap dan kesempatan itu dengan kilat digunakan Peppy untuk mencium pipi kiri orang yang dikaguminya itu. Saat ciuman mendarat, saat itulah kamera berhasil mengabadikannya dan besoknya keluar di halaman depan koran Variety dengan judul “Who’s That Girl?”.

Pertemuan keduanya secara tidak sengaja kembali terjadi di Kinograph Studios. Saat itu Peppy sedang mengikuti audisi untuk menjadi penari latar dalam sebuah film. Ia sama sekali tidak tahu kalau di studio itu tempat George bekerja.

George sendiri waktu itu sedang berbincang dengan Al Zimmer (Jhon Goodman) yang merupakan bos dari Kinograph Studios. Zimmer sedang membicarakan keberatannya dengan foto yang terpajang di halaman depan koran Variety. Ia marah-marah, karena menurutnya hal itu bisa memiliki dampak tidak baik atas film yang akan dibintangi George selanjutnya.

George tidak terlalu peduli dengan omelin Zimmer, karena matanya terpesona pada gerakan kaki di balik dinding pemisah. Gerakan kaki si penari sangat lincah, sama dengan tarian yang ada di film A Russian Affair.

Ia mengikuti tarian itu tanpa sepengetahuan Peppy yang berada di balik dinding. Saat dinding di pindah keduanya masih menari dan Peppy terkejut bukan main, karena George mengikuti gerakannya. Apalagi George yang tidak menyangka, kalau wanita yang diikutinya, pemilik wajah di foto di koran Variety.

Al Zimmer yang melihat adegan itu tambah marah. George merasa Al Zimmer sudah terlalu berlebihan dan mencoba membuat Peppy untuk tidak usah merasa bersalah atas hal itu.

Pertemuan demi pertemuan yang tidak di sengaja, membawa Peppy ke takdir sebagai artis terkenal. George berhasil meyakinkan Al Zimmer untuk menjadikan Peppy pasangan mainnya di film berikutnya.

Peppy yang sudah sangat jatuh cinta pada George, masih malu untuk mengungkapkannya. Ia ingin dipeluk dan itu ia lampiaskan pada jas George yang tergantung di ruang ganti. Ia memasukkan tangannya di lengan jas, dan membayangkan seolah-olah dia dipeluk oleh George dengan sangat mesra. Ia tak menyadari kalau George melihat tingkahnya itu.

Waktu terus berlalu dan di tahun 1929, munculnya pembuatan film bersuara (dialog). Zimmer langsung memberitahu George, kalau era kesuksesan film bisu akan berakhir dan beralih ke film yang menggunakan suara.

Sayang George tidak percaya dan yakin hal itu tidak mungkin terjadi. Ia menganggap film yang menggunakan suara para pemainnya, hanya akan menjadi sesuatu yang membosankan.

Ia nekad mendirikan rumah produksi film bisu sendiri dengan biaya sendiri. Ia ingin membuktikan, film bisu masih diminati. Biaya produksi yang besar, menjadi taruhan atas hidup dan kekayaan yang ia miliki. Harapannya kini tertopang pada film yang akan segera diputar.

Namun sungguh sayang, karena saat pemutaran perdana film bisu hasil karyanya itu, bersamaan pula dengan film bersuara yang ternyata di bintangi Peppy. Fansnya itu kini sudah menjelma menjadi bintang film terkenal. Poster film George tanpak diinjak-injak penonton di jalanan.

Inilah awal kehancuran hidup George. Ia membayangkan dirinya tenggelam di dalam pasir secara perlahan, hingga akhirnya ia ditelan bumi. Peppy yang hadir menonton, tak kuasa menahan tangis.

Satu per satu orang-orang di dekat George menghilang dari kehidupannya. Dimulai dari istrinya, Dores (Penelope Ann Miller), kemudian supirnya, Clifton (James Cromwell), hingga akhirnya George hanya ditemani oleh anjing kesayangannya.

George akhirnya tinggal di sebuah apartemen kecil, sendirian dan serba kekurangan. Sebaliknya kehidupan Peppy makin sukses dan terkenal, sebagai artis papan atas Hollywood.

Kebangkrutan memaksa George melelang barang-barang pribadinya. Keadaannya pun semakin memburuk, dan mengalami depresi berat. Puncak dari kekalutannya itu, ia menghancurkan semua koleksi filmnya lalu membakarnya di apartemen.

Untunglah anjing peliharaan George tergolong anjing pintar. Ia berlari keluar apartemen dan berusahan memanggil polisi. Gerakannya mencoba memberitahu, kalau majikannya terkurung di dalam ruangan penuh api.

George berhasil diselamatkan dan dibawa ke rumah sakit. Dalam pelukannya ada gulungan film yang ternyata berisi salah satu film yang dibintanginya bersama Peppy, kala masih berstatus penari latar.

Peppy yang mengetahui peristiwa nahas yang dialami orang yang dicintainya itu, berusaha menolong. Ia membawa George kerumah dan tinggal bersamanya.

Ia pun memohon pada Zimmer, untuk memasangkannya dengan George dalam film selanjutnya. Zimmer yang semula tidak mau, akhirnya menurut setelah diancam Peppy.

George yang sadar dari sakitnya, terkejut ketika menyadari dia berada di rumah Peppy. Ia pun bertemu dengan Clifton (mantan supir pribadinya), yang kini bekerja untuk Peppy sebagai supir pribadi.

George makin shock ketika mendapati semua barang pribadi yang dilelangnya pada masa kehancuran karirnya dulu, ternyata ada di rumah Peppy. Semua barang itu dibeli Peppy dan disembunyikan disebuah ruangan di rumah Peppy.

Film arahan Sutradara Michel Hazanavicius ini, membawa penonton modern ke era masa lalu, saat film tak ada dialog alias bisu. Di tengah film 3D yang terus menjadi tren saat ini, secara mengejutkan diterima luas penonton.

Bahkan The Artist baru saja meraih kategori film terbaik dalam ajang Piala Oscar. Selain film terbaik, empat kategori lainnya Aktor Terbaik : Jean Dujardin, Sutradara Terbaik: Michel Hazanavicius, Desain Kostum Terbaik, dan Musik Terbaik, juga berhasil diraih.

Sebelumnya, film ini juga sukses meraih 3 piala Golden Globe. Disusul 7 piala BAFTA Awards kategori Best Film, Best Director dan Best Actor untuk Jean Dujardin. Hazanavicius juga membawa pulang Best Original Screenplay, Best Original Score, Cinematography, dan Costume Design.

The Artist juga ingin menyampaikan pesan tahap demi tahap tentang sejarah film. Dimulai dari film bisu tanpa zoom shot kemudian menuju film bersuara (dialog) yang akhirnya menggunakan teknologi zoom shot. Tahap demi tahap yang ditunjukan akan menjadi kejutan tersendiri bagi para penikmat film.

Film ini memberikan pelajaran, kalau hidup itu harus bisa menyesuaikan diri dengan keadaan. Jangan terlalu berprinsip, kalau memang sudah tidak saatnya berkeras kepala.

Penasaran dengan ending film ini ? Jangan kuatir, di Indonesia sudah diputar, meski lumayan terlambat dari Amerika yang sudah tayang sejak 12 Oktober 2011. Hendri Nova

Jenis : Drama
Pemain : Jean Dujardin, Berenice Bejo, Jhon Goodman
Director : Michel Hazanavicius


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: