Oleh: hendrinova | April 24, 2012

Negeri 5 Menara ; Usaha Mengejar Mimpi

Alif (Gazza Zubizzaretha) pemuda asal Maninjau, Minangkabau yang baru saja lulus Pondok Madani ingin sekali melanjutkan pendidikan sarjana di Institut Teknologi Bandung (ITB). Ia sangat terobsesi dengan Habibie dan ia sangat ingin jadi Habibie kedua.

Sayang impiannya harus kandas di tengah jalan, karena sang ibu, Amak (Lulu Tobing) dan ayahnya (David Chalik) tidak ingin anaknya jadi Habibie. Keduanya menyimpan mimpi pula agar anaknya melanjutkan sekolah di pesantren, agar kelak menjadi Buya Hamka kedua, tokoh asal Maninjau yang sangat harum namanya hingga kini.

Maklum, sejak Buya Hamka wafat, hampir tidak ada generasi muda Minang yang bisa menyamainya apalagi melebihi beliau. Maka dari itu, kedua orang tua Alif, berharap Alif-lah Buya Hamka kedua itu.

Sebuah dilema, antara mewujudkan mimpi sendiri dengan mewujudkan mimpi orang tua sebagai bukti berbakti pada keduanya.
Walau berat hati, Alif akhirnya mengikuti perintah kedua orangtuanya. Dengan ditemani sang ayah, Alif beranjak meninggalkan Maninjau menuju pondok pesantren Gontor di Pulau Jawa.

Di pesantren, ia pun berkenalan dengan Raja (Jiofani Lubis) pemuda asal Medan, Baso (Billy Sandi) remaja asal Gowa, Atang (Rizki Ramdani) dari Sunda, lalu Dulmajid (Aris Ananda Putra) dari Sumenep dan Said (Ernest Samudra) remaja asal Surabaya. Mereka pun akhirnya berteman, sebagai santri dan sama-sama anak rantau.

Di hari pertama mengikuti wejangan ustad di pesantren, mereka seolah tersihir dengan ‘mantra’ ustaz Salman (Doni Alamsyah), tentang konsep ‘Man Jadda Wa Jadda’, yakni siapa yang bersungguh-sungguh ia akan berhasil. Semangat mereka langsung bergelora khas anak muda, untuk mewujudkan mimpi yang sudah memenuhi benak masing-masing.

Keenam anak muda itu semakin dekat dan persahabatan mereka kian terjalin akrab.  Kebiasaan mereka di sore menjelang azan Magrib, berkumpul di bawah menara masjid sembari memandangi awan yang berarak menghiasi langit.  Dari kebiasaan itu, mereka menamakan diri ‘Sahibul Menara‘, alias Pemilik menara.

Saat memandang awan itulah, impian mereka diucapkan. Sebuah impian diucapkan, sambil berharap awan-awan itu melukiskan impian-impiannya. Alif melihat awan-awan menyerupai benua Amerika, karena ia bermimpi kelak bisa mengunjunginya setelah lulus.

Sementara temannya Baso, Raja, Atang menggambarkan awan-awan itu seperti negara Arab Saudi, Mesir dan Benua Eropa, yang kelak ingin mereka jelajahi. Mereka berharap, mimpi-mimpi itu bisa menjadi nyata.

Saat kebersamaan mereka makin kental, mereka harus menerima kenyataan pahit. Baso harus meninggalkan pesantren, untuk menjaga neneknya di kampung. Keharuan menyungkup mereka, karena harus berpisah entah sampai kapan.

Sementara Alif, kembali diingatkan pada mimpi-mimpinya untuk meneruskan pendidikan di Kota Kembang. Ia pun teringat kata bijak “Man Shabara Zhafira” yang artinya “Siapa yang bersabar akan beruntung.”

Waktu berlalu, dan tak terasa sudah 15 tahun sudah. Enam sekawan akhirnya menemukan nasib yang secara ajaib mendaratkan mereka di 5 negara berbeda. Ini merupakan wujud nyata mimpi-mimpi mereka ketika duduk-duduk di kaki menara Pondok Madani. Baso, Atang, Raja dan Alif terdampar di hiruk-pikuk kemodernan London dan Washington DC dan eksotisme Kairo dan Madinah.

Sebaliknya Dulmajid dan Said memutuskan pulang kampung. Menempuh jalan sunyi mengajar mengaji di surau dan madrasah. Tangan Tuhan, melalui mimpi, tekad bulat, kerja keras dan doa menuntun mereka ke “menara” hidup mereka masing-masing.

Film garapan Sutradara Affandi ini begitu ringan mengalir sehingga gampang dicerna. Sekali-sekali ada komedi ringan dalam mewarnai jalannya kisah babak demi babak. Suasana pesantren begitu kental dan berhasil digambarkan dengan mantap, sehingga terasa begitu dekat dengan penonton.

Dari segi akting, kemampuan para remaja pemula di jagad perfilman Indonesia lumayan hidup dan natural. Semua tentu kembali pada Man Jadda Wa Jadda tadi. Kesungguhan mereka dalam berakting, menghasilkan film yang cantik untuk dinikmati penonton dan diambil intisarinya.

Film produksi Kompas Gramedia Production dan Million Pictures ini sarat akan makna. Pesan persatuan, persahabatan, kekeluargaan, pengorbanan dan semangat mencari ilmu dapat mempengaruhi penonton, agar bisa pula mewujudkan mimpi-mimpi mereka. Man Jadda Wa Jadda.

Penasaran dengan akting dan efek psikologisnya, film ini sudah tayang serentak di bioskop Tanah Air sejak 1 Maret lalu. Jangan sampai tidak menontonnya.

Jenis : Drama
Pemain     : Donny Alamsyah, Lulu Tobing, Ikang Fawzi, David Chalik, Andhika Pratama
Sutradara : Affandi Abdul Rachman


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: