Oleh: hendrinova | April 24, 2012

Langsing Berkat Kecipir

Kecipir (Psophocarpus tetragonolobus) lumayan banyak ditemui di Sumbar. Sayang buahnya tak sepopuler kacang panjang, kacang padi, buncis, atau tumbuhan jenis kacang-kacangan lainnya.

Semua bukan karena tumbuhan jenis kacang yang satu ini tidak berkhasiat, namun karena baunya yang masih kurang bisa diterima. Bagi yang sudah akrab, ia menjadi pangan yang menjanjikan gizi dan khasiat tinggi.

Dirunut dari asalnya, seperti dirilis
komunitascintatanaman.blogspot.com disebutkan kecipir berasal dari Indonesia bagian timur. Maka tak heran, di Minang pun ia tumbuh dengan sangat gampang. Rata-rata ditanam di pekarangan, tepatnya sebagai penutup pagar.

Kecipir di daerah Sumatra lainnya juga dikenal dengan nama kacang botol atau kacang belingbing / kacang embing. Sementara ada juga disebut dengan nama jaat (Sunda), kelongkang (Bali), biraro (Ternate), dan cubilet (Banda). Sementara orang Inggris menyebutnya Winged bean.

Dibanding dengan hasil produksi kacang tanah, produksi kecipir cukup menjanjikan. Produksi kecipir mencapai 2.380 kg /ha, sedangkan kacang tanah dan kedelai masing –masing hanya 1.000 kg /ha dan 900 kg/ha ( Rismunandar,1986 ).

Kecipir termasuk tanaman tahunan, menjalar di atas tanah atau merambat pada tanaman lain atau dapat juga dibuatkan penyangga untuk merambat, bunga mampu menyerbuk sendiri. Kecipir cocok ditanam di dataran rendah hingga dataran tinggi (sampai ketinggian 1600 m dpl).

Ia bisa hidup di tanah dengan bahan organik rendah, lempung, berpasir, maupun tanah kering. Batangnya bulat beralur, beruas dan berwarna hijau.

Sementara daunnya majemuk berbentuk segitiga, beranak daun tiga, ujung lancip pangkal tumpul. Tepi rata dengan panjang kurang lebih 7- 8,5 cm pertulangan menyirip, dan letak berseling. Tangkai daun bulat beralur, bagian atas berlekuk memanjang, pangkal dan ujung menebal , berwarna hijau dengan noda-noda kuning.

Kecipir berakar tunggang dan berwarna putih kecoklatan. Buahnya berpolong dengan 4 siku yang bersayap atau bergelombang. Untuk bijinya berbentuk bulat warna hitam kecokelatan. Memiliki kulit biji keras karena mengandung hemiselulosa dan selulosa.

Gizi dalam kecipir mencakup karbohidrat dan protein. Biji kecipir tua, komposisi gizinya paling baik. Mengandung protein, lemak , karbohidrat, vitamin dan mineral cukup tinggi dibanding polong muda, umbi maupun daunnya. Protein dan karbohidrat biji kecipir bahkan mengungguli kacang tanah dan hampir setara kacang kedelai.

Ia juga kaya akan asam amino yang hampir sama dengan kedelai, sebagai sumber protein yang baik. Namun pada biji kecipir juga kekurangan asam amino seperti sistein, methionin, triftofan, sehingga pemanfaatan protein oleh tubuh kurang efisien.

Kecipir kaya akan asam amino lisin mencapai 413 – 600 mg per 100 g N, sedang pada kedelai hanya 399 mg per 100 g N. Asam amino lisin berperan penting dalam proses pertumbuhan. Untuk menutupi kekurangan asam amino lisin dapat dikombinasikan bahan pokok lain seperti beras, jagung, dan umbi-umbian, karena itu biji kecipir layak dijadikan lauk dalam hidangan.

Sementara juga diketahui banyak mengandung vitamin seperti betakaroten, thiamin, riboflavin, niasin, asam askorbat. Tokoferol dalam minyak biji kecipir dapat mengkatalis Vitamin A.

Sedangkan mineral yang terkandung didalamnya mencakup kalsium (2,3 g), magnesium (2,25 g), kalium (1,10 g), fosfor (4,5 g)dan besi (10,8 g dapat mengatasi /mencegah anemia) Baik untuk ibu hamil maupun menyusui.

Biji kecipir menghasilkan bau langau sehingga hasil olahan makanannya belum dapat diterima masyarakat luas. Bau langau disebabkan oleh aktivitas Enzym lipoksigenase yang secara alami terdapat pada kacang-kacangan.

Perendaman biji selama empat jam diikuti dengan pengukusan pada suhu 100 derajat celcius selama 10 menit, sudah cukup untuk menginaktifkan enzym lipoksigenase dan memperbaiki bau pada olahan.

Untuk penjagaan kesehatan kecipir bisa sebagai pelangsing tubuh dan gairah seksual. Pada masyarakat Arab, Pakistan dan Cina, biji kecipir dapat dijadikan obat tradisional yaitu untuk kesehatan kulit, pelangsing tubuh dan peningkat gairah seksual.

Selain itu juga untuk obat sariawan. Di Indonesia umbi kecipir dapat dijadikan sebagi obat sariawan, dengan cara ditambah gula batu.

Untuk obat kebugaran tubuh dan pemulih energi juga bagus. Daun kecipir yang berwarna gelap dapat dijadikan sebagai obat pemulih energi / kebugaran tubuh.

Sebagai penurun LDL dan menaikkan HDL juga mantap. Selain protein, lemak biji kecipir relatif tinggi sekitar 15-20 %. Sekitar 71 % nya merupakan asam lemak tidak jenuh, terutama asam linoleat, Asam linoleat merupakan asam lemak tidak jenuh omega 6.
Asam lemak omega 6 (dari biji-bijian) dan omega 3 (ikan laut) dibutuhkan untuk kesehatan tubuh yang prima. Lemak dalam kecipir terdiri atas asam lemak tak jenuh yang bermanfaat menurunkan kadar total kolesterol. Sementara lemak yang bisa meningkatkan kadar kolesterol adalah lemak jenuh yang banyak terdapat pada daging.

Lemak tak jenuh mampu menurunkan kolesterol LDL dan meningkatkan HDL. LDL disebut kolesterol jahat karena dapat menyebabkan penempelan kolesterol di dinding pembuluh darah, LDL merupakan pembawa kolesterol terbanyak, yaitu kurang lebih 60 persen dari total plasma , HDL disebut kolesterol baik, HDL dapat membersihkan kelebihan kolesterol dari dinding pembuluh darah dengan mengangkutnya kembali ke hati.

Sebagai tanaman pangan multimanfaat, semua bagian kecipir dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan. Buahnya /polong yang masih muda, bunganya dapat dijadikan sayur atau sebagai lalap , direbus atau dicampur sayuran lain sebagai sayur asam, sayur
lodeh, urap, karedok, pecel, gado-gado, ditumis atau dioseng dibuat salad atau sup. Disamping dapat dibuat sayur bunga kecipir dapat diolah menjadi bumbu, rempah-rempah, permen, dan bahan pewarna alami.

Sementara bijinya sama dengan biji kacang kedelai atau kacang-kacangan yang lain biji dapat diolah menjadi tempe . Pembuatan tempe kacang kecipir yang dikombinasi dengan beras dapat diolah menjadi tempe yang tinggi protein.

Sedangkan umbi, rasanya agak manis, daging berwarna putih gading, berserat kokoh seperti apel tetapi bau kurang sedap. Umbi ini dapat dolah sebagai bahan pangan yang kaya akan zat gizi. Hendri Nova


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: