Oleh: hendrinova | April 22, 2012

Polemik Remaja Modern

<!–[if !mso]>st1\:*{behavior:url(#ieooui) } <![endif]–>

Judul Buku       : Dugem
Penulis              : G.A. Divana Perdana
Penerbit            : Laksana
Cetakan           : Pertama, November 2011
Tebal buku       : 181 Halaman
Gaya hidup Dugem atau dunia gemerlap menjadi taruhan gengsi anak-anak modern. Jangan mengaku anak kota, jika tak kenal dengan Dugem. Mereka yang tidak Dugem dicap sebagai remaja kuper, telmi, tulalit, dan sebagainya.
Sementara mereka yang akrab dengan Dugem, dianggap sebagai generasi masa kini yang melek dengan kemajuan. Mereka yang mengenal dunia Dugem, tak lagi menghormati dengan yang namanya perjaka ataupun keperawanan.
Mereka hidup ala binatang, kalau suka sama suka boleh langsung diembat. Tempatnya sangat banyak, mau di hotel berbintang ataupun hanya di toilet. Dugem memang menyediakan segala perangkat gaul, fungky, cool, hippies, nudies, having fun hingga making love.
Anak Dugem terkenal akrab dengan gemerlap lampu diskotik, hentakan house music, erotisme seksualitas, galmornya cinta, dan sensasi narkoba. Dugem benar-benar dijadikan sebagai ekspresi cinta, seks dan jati diri.
Agama bagi mereka hanyalah pelengkap di KTP atau sekedar pelepas tanya. Sudah pasti tidak ada kewajiban agama yang mereka kerjakan dan menyibukan diri dengan berasyik masyuk dengan hidup tanpa ikatan.
Mereka yang  menganut hidup ala Dugem, tinggal serumah dengan lawan jenis tanpa ikatan bukanlah masalah pelik. Bahkan punya anak pun dari hubungan mereka bukanlah aib yang harus disembunyikan.
Mereka enjoy membimbing anak dan dengan bangga mengatakan itu buah cintanya dengan si anu. Rasa malu bagi mereka hanyalah debu yang terbang bila ditepiskan. Persetan denan segala nasehat dan sindiran, yang penting hidupnya berjalan semau gue.
Anak-anak Dugem juga memandang bertukar pasangan sesuatu yang tidak tabu. Asal suka di hati, bisa langsung dibawa pergi. Ujung-ujungnya tetap bermuara pada hubungan ranjang, untuk melepaskan nafsu sesaat.
Buku berjudul ‘Dugem’ ini secara telanjang memberikan gambaran tentang kehidupan anak-anak Dugem. Meski begitu, target buku ini bukanlah memasyarakatkan Dugem di tengah pembacanya.
Secara halus penulis menyelipkan pesan-pesan agama, untuk mengarahkan buruknya perilaku dugem. Begitu juga di akhir tulisan, ada butiran nasehat tentang lebih baik kembali ke fitrah manusia sebagai makhluk yang mulia. Hendri Nova

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: