Oleh: hendrinova | April 22, 2012

Perjodohan Dua Anak Kyai

Judul                : Kidung Shalawat Zaki & Zulfa

Penulis             : Taufiqurrahman al-Azizy
Penerbit            : DIVA Press
Cetakan           :  Pertama, Desember 2010
Tebal                : 403 Halaman
Status sebagai anak kyai Masduqi, pemilik pesantren sederhana,  membuat Zaki harus manut atau menurut pada kehendak sang ayah. Termasuk masalah jodohnya yang telah diatur sejak usianya tujuh bulan dalam kandungan.
Ayahnya menjodohkan dengan anak perempuan sahabat karib, Kyai Ahmad, yang kiranya mendapat anak perempuan bernama Zulfa. Kepatuhan Zaki pada keputusan orang tuanya, karena beranggapan pilihan dari ayahnya tentu yang terbaik bagi dirinya.
Hingga saat pertemuan untuk merekatkan hubungan kedua keluarga tiba, di kala Zaki berumur 22 tahun. Ia akan segera melihat Zulfa anak Kyai Ahmad pemilik pesantren besar dan modern, yang menurut keterangan santri lainnya berwajah bak bidadari.
Sayang di tengah perjalanan, rombongan Kyai Masduqi yang berjalan kaki terhalang dengan usaha menolong warga yang sedang dihajar rentenir. Ayah Zaki terpaksa pulang bersama rentenir, untuk melunasi hutang warga yang teraniaya.
Baru saja hendak berangkat kembali ke rumah Kyai Ahmad, datang pula rombongan keluarga di sekitaran pesantren yang mengadukan nasib. Rumah mereka mau digusur aparat, karena menempati tanah negara.
Alhasil, dua utusan yang diutus Kyai Masduqi untuk Kyai Ahmad pulang dengan membawa kekecewaan dari tuan rumah. Bahkan perjodohan kedua anak kyai itu jadi terancam gagal, karena Zulfa juga disukai Dimas, seorang anak pejabat rekanan Kyai Ahmad.
Esoknya, Zaki mencoba mendatangi Kyai Ahmad untuk meminta maaf. Ia pun bertemu Mubarok,  salah seorang santri Kyai Ahmad. Dari keterangan Mubarok, Zaki menjadi panas hatinya, karena Dimas diberi hak khusus berdua-dua dengan Zulfa oleh sang kyai.
Ancaman pembatalan perjodohan itu, disampaikan Zaki pada ayahnya. Namun ayahnya tidak terlalu respek, karena prioritas mencarikan jalan keluar untuk warga lebih utama.
Di sisi lain, Zaki mendapat adik angkat bernama Salma, seorang mantan pelacur yang memilih mondok di pesantren ayahnya. Salmalah yang membuka mata hati Zaki, kalau Zulfa tidak termasuk wanita shalehah. Status seorang foto model, menunjukan siapa Zulfa sebenarnya.
Sementara rasa penasaran Zaki untuk melihat wajah Zulfa tercapai, saat ada pertemuan remaja masjid. Meski dalam kondisi belum sehat, Zaki puas karena melihat wajah Zulfa yang memang cantik jelita.
Bunga-bunga cinta bermekaran dalam hati Zaki, sampai mereka bertemu kembali di bawah sebuah jembatan. Lagi-lagi Zulfa datang bersama Dimas. Zaki cemburu dan itu membuatnya kecewa pada Zulfa yang sifatnya lumayan egois.
Singkat kata, kedua keluarga kembali bertemu. Zulfa langsung mengatakan setuju dan mau menjadi istri Zaki. Tapi apa yang terjadi di dalam rumah. Kyai Ahmad ternyata memiliki agenda lain untuk Kyai Masduqi.
Ayah Dimas, Handoko, temannya Kyai Ahmad, ingin membeli tanah pesantren ayah Zaki. Disitulah Kyai Masduqi tahu, kalau yang menggusur warga ada kaitannya dengan Handoko.
Kontan Kyai Masduqi menolak, walau dibayar dua kali lipat. Namun Handoko tidak patah arang, dengan cara mendekati warga yang kini bermukim dalam pesantren. Mereka dikasih uang dan disuruh pindah dengan membawa serta anak-anak mereka yang notabene santri pesantren.
Zaki sendiri terjebak skenario jahat Dimas dengan mengajaknya ke kota. Ia diberi obat perangsang, dan difoto-foto bugil bersama Ivone, salah seorang santri Kyai Ahmad. Berita pun menyebar luas dan Kyai Ahmad mendapat umpatan warga. Zaki dijebloskan dalam penjara.
Novel berjudul “Kidung Shalawat Zaki & Zulfa” ini, mengalir lancar bak air mengalir. Masalah perjodohan klasik, berhasil dibawa Taufiqurrahman al-Azizy di zaman modern.
Di puncak konflik, pemakaian obat perangsang menjadi lazim untuk menjerat seorang anak kyai. Tapi memang salah Zaki sendiri yang mau pula berdua-dua di dalam kamar hotel, bersama gadis yang tidak terlalu dikenal akan tabiatnya.
Novel ini juga mengkritisi seorang kyai yang menjerumuskan putrinya sendiri dalam khalwat dengan lawan jenis. Apa memang ada ya kyai di Jawa yang seperti ini ? Kalau iya, alangkah sudah rusaknya pesantren tersebut.
Kisah diakhiri dengan fakta mengejutkan, dengan tidak bersatunya Zaki dan Zulfa. Semuanya kembali pada hukum Allah, bahwa lelaki baik untuk wanita baik, pezina akan berpasangan dengan pezina pula. Wallahu’alam. Peresensi : Hendri Nova


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: