Oleh: hendrinova | April 22, 2012

Kesetiaan Tanpa Ujung


Judul                : Tunggu Aku di Sungai Duku
Penulis             : Hary B. Kori’un
Penerbit            : Palagan Press
Cetakan           :  Pertama, Januari 2012
Tebal                : vi + 112 Halaman
Budi yang ditanam Martin pada diri Umi, karena pernah menyelamatkannya dari keganasan arus Sungai Siak, membuat wanita itu mau menunggunya di Sungai Duku sampai uban memutih di kepala. Hasrat berpetualang pada diri Martin yang ingin mengarungi tujuh samudera, membuat wanita yang ia cintai jadi perawan tua.
Martin memang merasa dirinya tidak kejam dan berharapkan kesetiaan. Budi sepertinya ia jadikan untuk menggantung Umi dalam ketidakpastian. Sejak perpisahan di Sungai Duku, Umi setia menunggu berharap Martin segera kembali dan membina rumah tangga dengannya.
Umi boleh saja berutang nyawa pada Martin, karena tidak hanya peristiwa Sungai Siak itu saja yang membuat hatinya susah berpaling. Martin juga pernah menyelamatkan banyak penduduk desa dari ancaman beruang yang masuk kampung.
Janji Martin bagi Umi satu kepastian. Ia yakin  Martin pasti kembali kepadanya, sebagaimana janji-janjinya terdahulu. Berbekal keyakinan itulah, ia tetap setia menunggung Martin, hingga lelaki petugas pelabuhan meninggal sepuluh tahun yang lalu.
Namun Umi tetap setia sampai rambut hitamnya permisi satu persatu. Kesetiaan tetap dirawat, meski surat tak lagi datang. Entah cinta apa yang dianut Umi, sehingga rasa setianya begitu gila.
Sayang penantian itu berbuah pahit, karena Martin tak lagi datang. Cerita pun jadi bergalau di kalangan masyarakat Sungai Duku. Ada yang mengatakan Umi sebenarnya tidak sekuat itu menunggu, ia akhirnya menikah dengan lelaki lain.
Sewaktu Martin pulang dan melihat Umi dengan lelaki lain, ia memutuskan kembali berlayar. Ada juga yang mengatakan sebaliknya, sehingga kisah Umi jadi tak jelas.
Itulah satu kisah dari 11 cerita yang disuguhkan Hary B. Kori’un dalam kumpulan cerpen yang mengandalkan kisah “Tunggu Aku di Sungai Duku”. Sepuluh cerita lainnya tentu juga memiliki daya tarik yang tak kalah hebat dibanding cerita andalan.
Bagi anda yang suka baca koran, tentu rasa-rasanya pernah membaca cerpen-cerpen ini. Bedanya, tentu sudah ada sedikit revisi yang lebih membuat pembaca nyaman dalam menyelusuri alur kisah.
Sebagaian besar kisah yang ditawarkan mengambil seting di Riau, sebagai tempat domisili penulis. Dari kisah-kisah yang ditawarkan, kisah cinta tetap lebih mendominasi, baik itu cerita kesetiaan, rasa kecewa atau lainnya.
Tidak rugi rasanya memiliki buku ini, karena ada hikmah yang bisa dipetik untuk menjalani hidup. Setidaknya kisah Umi, menjadi pelajaran bagi laki-laki agar tidak egois. Setidaknya beri batas waktulah untuk menunggu bagi perempuan. 
Kalau sudah sekian tahun tidak kembali, silahkan menikah dengan lelaki lain. Itu baru kiranya adil bagi kaum perempuan. Peresensi : hendri nova

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: