Oleh: hendrinova | Februari 1, 2012

Ibu Harus Lebih Kenal Makanan Berbahaya

Kaum ibu harus bisa mengenali secara fisik makanan berbahaya. Tentu saja kaum bapak yang sering membantu istrinya berbelanja, juga harus mengetahuinya.

Soalnya, pelaku pencari untung tanpa nurani, akan tetap menggunakan zat berbahaya, untuk melipatgandakan keuntungannya. Minimal mereka tidak mau rugi, jika dagangannya cepat rusak.

Makanan berbahaya seperti mengandung borak, formalin dan sebagainya, akan tetap ada sampai hari kiamat. Kecuali kalau semua pedagang makanan sudah beriman dan rasa takut pada Allah tinggi, maka mereka akan jujur dalam berdagang.

Kebanyakan makanan dengan zat berbahaya ada pada bahan makanan basah seperti mi dan tahu. Jajanan anak di sekolah juga tak luput dari ancaman bahan kimia berbahaya.

Sebagaimana dirilis majalahmaya.com, dari hasil pengambilan sampel rutin yang dilakukan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI dalam beberapa tahun terakhir, ada empat jenis bahan berbahaya yang sering disalahgunakan dalam makanan. Bahan berbahaya itu bernama formalin, boraks, pewarna rhodamin B, dan methanyl yellow.

Sebenarnya, tanpa melakukan uji laboratorium agak sulit menentukan apakah bahan makanan yang dijual aman atau bebas dari bahan kimia berbahaya. Namun, menurut Chandra Irawan, staf pengajar dari Akademi Kimia Analisis Bogor, secara umum kita dapat mengenali makanan yang mengandung zat berbahaya dari bentuk fisiknya, seperti warna, tekstur, dan rasa.

Makanan yang mengandung formalin, bisa ditandai dari bentuknya. Mi basah berformalin, biasanya tidak lengket, lebih mengkilap, tidak rusak sampai dua hari pada suhu kamar, dan bertahan lebih dari 15 hari pada suhu lemari es (10 derajat celsius).

Sementara tahu berformalin, bisa dilihat dari teksturnya terlampau keras, kenyal tetapi tidak padat. Ia tidak akan rusak sampai 3 hari dalam suhu kamar dan bisa tahan 15 hari dalam kulkas.

Sedangkan ikan berformalin, bisa ditandai dari warna insang yang merah tua alias tidak cemerlang, bukan merah segar, dan warna daging ikan putih bersih. Tidak rusak sampai 3 hari pada suhu kamar.

Untuk ikan asin berformalin, bentuknya bersih cerah dan tidak berbau khas ikan asin. Tidak dihinggapi lalat di area berlalat, tidak rusak sampai lebih dari 1 bulan pada suhu 25 derajat celsius.

Sementara bakso berformalin bisa ditandai dengan teksturnya yang sangat kenyal. Ia tidak akan rusak sampai 2 hari pada suhu kamar. Warna tidak kecoklatan seperti penggunaan daging, tetapi lebih cenderung keputihan.

Sedangkan ayam berformalin, terlihat dari teksturnya yang kencang. Tidak disukai lalat, tidak rusak sampai 2 hari pada suhu kamar.

Untuk snack seperti lontong, teksturnya menjadi sangat kenyal, berasa tajam, sangat gurih, dan memberikan rasa getir. Untuk kerupuk, teksturnya renyah dan bisa menimbulkan rasa getir.

Sementara ciri makanan menggunakan pewarna rhodamin B dan Methanyl Yellow, terlihat dari warnanya yang mencolok, cerah mengilap, warnanya tidak homogen (ada yang menggumpal), dan ada sedikit rasa pahit. Lalu muncul rasa gatal di tenggorokan setelah mengonsumsinya.

Kaum ibu tentu harus bisa memastikan, bahwa apa yang dibelinya untuk konsumsi keluarga, terbebas dari zat-zat tersebut. Hasilnya, keluarga jadi sehat dan jarang terkena penyakit. Hendri Nova


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: