Oleh: hendrinova | Januari 6, 2012

Kota Tua Padang, Perlahan Lenyap

Oleh Hendri Nova

Gempa 30 September 2009 lalu di Sumatra Barat, menjadi angin segar bagi mereka yang tidak menyukai bangunan tua peninggalan Belanda di kawasan Pondok Padang, untuk menghancurkannya dan mengganti dengan bangunan baru. Beberapa di antaranya kini sudah lenyap, diganti dengan arsitektur yang lebih baru.

Jika dihitung dengan jari, tidak beberapa bangunan lagi yang bersisa. Sementara yang hancur karena gempa, belum juga direhab sehingga kembali ke bentuk aslinya.

Anak bangsa yang menyintai warisan sejarah jadi miris melihatnya, namun tak bisa berbuat banyak. Sebagian bangunan tua malah dibiarkan ditumbuhi pohon-pohon liar yang akan menghancurkan bangunan itu secara perlahan.

Janji pemerintah yang akan memugar bangunan-bangunan tua itu, hanya tinggal janji saja. Bahkan mantan Gubernur Gamawan Fauzi yang kini menjadi Menteri Dalam Negeri seperti dikutip melayuonline.com terbitan 23 Februari 2009 pernah berjanji memugar, sampai saat ini belum terealisasi, sehingga berganti dengan Irwan Prayitno.

Kawasan kota tua Padang merupakan bukti sejarah peninggalan Belanda yang kini sebagian besar dijadikan gudang, perkantoran, dan hotel. Beberapa bangunan tua bersejarah kini hanya menunggu waktu hancur karena termakan usia dan bekas dilanda gempa.

Kota tua juga berdekatan dengan kawasan pinggir sungai Batang Arau. Di area itu juga terdapat pusat peribadatan kelenteng yang kondisinya juga hancur terkena gempa beberapa waktu lalu.

Selain itu juga ada gedung pertemuan Himpunan Bersatu Teguh dan bangunan sejenis. Kawasan kota tua dekat dengan Jembatan Siti Nurbaya. Pada malam hari, kawasan ini menjadi tempat untuk menikmati wisata kuliner. Beragam makanan lokal seperti sate padang, soto padang dan lainnya, dijual dengan harga terjangkau.

Sejarah Ringkas

Kota tua Padang sebagaimana dirilis pelangiholiday.wordpress.com, terletak di pantai barat Sumatera di Lautan Hindia. Menurut sumber sejarah pada awalnya (sebelum abad ke-17) Padang dihuni oleh para nelayan, petani garam dan pedagang.

Ketika itu Padang belum begitu penting karena arus perdagangan orang Minang mengarah ke pantai timur melalui sungai-sungai besar. Namun sejak Selat Malaka tidak lagi aman dari persaingan dagang yang keras oleh bangsa asing serta banyaknya peperangan dan pembajakan, maka arus perdagangan berpindah ke pantai barat Pulau Sumatera.

Suku Aceh adalah kelompok pertama yang datang setelah Malaka ditaklukkan oleh Portugis pada akhir abad ke XVI. Sejak saat itu Pantai Tiku, Pariaman dan Inderapura yang dikuasai oleh raja-raja muda wakil Pagaruyung berubah menjadi pelabuhan-pelabuhan penting karena posisinya dekat dengan sumber-sumber komoditi seperti lada, cengkeh, pala dan emas.

Kemudian Belanda datang mengincar Padang karena muaranya yang bagus dan cukup besar serta udaranya yang nyaman dan berhasil menguasainya pada Tahun 1660 melalui perjanjian dengan raja-raja muda wakil dari Pagaruyung. Tahun 1667 membuat Loji yang berfungsi sebagai gudang sekaligus tangsi dan daerah sekitarnya dikuasai pula demi alasan keamanan.

Belanda lah yang menyulap kawasan Muara Padang, sehingga memiliki gedung-gedung kuat di zamannya. Bahkan kantor Walikota Padang yang diarsiteki Belanda, kuat berdiri walau dilanda gempa. Hal itu berbanding terbalik dengan bangunan disebelahnya dengan arsitek modern. Bangunan itu tidak kuat menahan gempa 30 September 2009.

Kini, bangunan tua hanya bisa menatap pembangunan selepas gempa. Mereka belum tersentuh, karena pemerintah masih terfokus pada bidang lain. Perlahan namun pasti, ia akan lenyap kalau tak segera diselamatkan.

Pada anak cucu tentu hanya bisa diceritakan, kalau di kawasan Muara Padang dulunya ada Kota Tua yang kini lenyap dimakan zaman. Atau hanya bisa bercerita, bahwa bangunan megah yang berdiri sekarang, berdiri di atas bangunan tua yang menyimpan cerita bahwa di kawasan Muara Padang, pernah jaya dengan perdagangan antar negara.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: