Oleh: hendrinova | Januari 6, 2012

Indang yang Tinggal Kenangan di Pariangan


PARIANGAN-Satu persatu surau-surau tua di Nagari Tuo Pariangan bakal rubuh. Soalnya, surau kaum yang dulunya dipakai bersuluk oleh setiap suku, kini tak ada lagi yang mengurus. Terutama suku yang sebagian besar anggotanya pergi merantau.

Sementara mereka yang masih tinggal di Pariangan, mengambil inisiatif tinggal di surau, agar bisa dirawat dengan baik. Bagi surau yang tak berpenghuni, tumbuhan liar merambat, tampak berusaha menutupi surau-surau tua itu.

“Kalau tidak dijadikan tempat tinggal, maka surau saya ini bisa bernasib seperti surau di seberang yang telah rubuh,” kata Ani, salah seorang warga penghuni Surau Batu Banyak.

Dulu, Ani dan kaumnya menjadikan surau ini tempat bersuluk di setiap bulan Ramadhan. Pada saat itu, surau bisa berisi 20-30 anggota suku. Mereka akan mengisi Ramadhan dengan banyak membaca Alquran dan amal baik lainnya.

“Sejak anak kemenakan pergi merantau, surau jadi kehilangan fungsi. Akhirnya lapuk dimakan usia tak ada yang merawat. Sementara rayap ikut memakan tiang dan akhirnya rubuh,” tambahnya.

Di sekitar Surau Batu Banyak, juga ada Surau Datuk Pono, Surau Panarian, Surau Datuk Suri dan lainnya. Letaknya terkadang hanya berjarak lima langkah atau di seberang jalan.

“Dulu masyarakat aman mengikuti pelajaran di surau masing-masing. Meski berdekatan, tak ada istilahnya perpecahan,” kata Datuk Garang, tetua Nagari Pariangan.

Bagi surau yang masih dihuni, tampak masih tegak berdiri. Sementara surau yang tak lagi berpenghuni, hanya tinggal menunggu waktu rubuh ke menyungkur bumi.

Menurut Datuk Garang, Pemda Batusangkar tidak ada memberikan dana untuk perawatan surau-surau tua. Padahal hanya surau-surau tua itu yang tersisa, menjaga ciri khas Nagari Tuo Pariangan.

Jika surau-surau itu roboh sujud ke bumi, maka yang akan tersisa bangunan modern belaka. Kalau begitu, daya tarik tempat itu dengan sendiriya akan berkurang.

Rumah gadang di Pariangan pun sudah banyak yang tak terawatt. Rumah-rumah dengan arsitektur khas itu banyak yang ditinggal tanpa penghuni. Atap bocor, dinding berayap hingga lantai yang copot, tak ada yang memperbaiki. Dari luar terlihat sangatlah kusam.

Di tengah keterbengkalaian rumah gadang di Pariangan, warga di sana malah berlomba-lomba membangun rumah megah bergaya modern. Bangunan-bangunan besar bertingkat dengan arsitektur Eropa itu biasaanya dibangun orang rantau yang sukses di perantauan. “ Yang sukses di rantau membangun rumah-rumah besar itu,” ujar Jama’an, warga Pariangan.

Masih banyak lagi keunikan Pariangan yang hilang ditelan zaman. Di masa mudanya, Jamaa’an masih menyaksikan Tari Piring Pariangan yang unik. Uniknya, penari meletakkan api di kepala dan di ruas piring yang dipegangnya. Tak ada lagi randai, indang pun sudahlah hilang. “ Sesudah PRRI saya masih sempat menyaksikan. Sesudah itu, tak ada lagi,” terang Jama’an.

Yang paling khas di Pariangan adalah tradisi padi nan tujuah. Tradisi menyabit padi menjelang panen ini memang benar-benar hilang. Dahulu sebelum panen, warga menyembit padinya tujuh macam untuk kemudian disimpan di atas pagu atau langit-langit rumah gadang. Ini dilakukan sebagai do’a agar panen berjalan dengan baik dengan hasil yang mengembirakan. “ Sekarang memang sudah banyak yang hilang. Anak-anak muda tak tertarik lagi dengan adat dahulu,” ujar Jama’an miris. Hendrinova/009


Responses

  1. nagari yg elok budi bahaso nyo

    • stuju


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: