Oleh: hendrinova | Januari 6, 2012

Benteng Terakhir Nagari Tuo di Minangkabau


PARIANGAN-Shalat Zuhur baru saja usai di nagari tuo Pariangan, Kabupaten Tanah Datar. Mendekati Masjid Pariangan beberapa kaum ibu, yang masih menyandang mukena dan sajadah di pundak. Perlahan-lahan ibu-ibu paruh baya dan juga berusia lanjut itu, menaiki tangga-tangga yang berujung pada tempat kediaman mereka di atas bukit. Sekali-sekali tampak mereka menoleh.

Pemandangan itu sesuatu yang biasa di Pariangan. Ada rumah gadang yang masih kokoh, surau dan orang-orang dengan kesederhanaannya. Namun, pemandangan sederhana itu begitu berarti karena menjadi sisa terakhir kehidupan bernagari di Pariangan yang merupakan nagara tertua di Minangkabau.

Jama’an, lelaki 70 tahun itu sedang sibuk mencari rumput di area persawahan yang berjenjang Beberapa waktu lalu menurut lelaki itu baru saja dilaksanakan alek nagari pacu jawi. Kegiatan tahunan menyambut panen padi itu menjadi satu lagi tradisi di Pariangan yang masih hidup. Penghulu, ninik mamak hingga fungsi pemerintahan nagari juga tetap berjalan. “ Sekarang juga masih ada yang mandi di tapian, masih ada yang pandai berpepatah-petitih,” ujar Jama’an.

Datuk Garang, tokoh masyarakat Pariangan mengaku warga Pariangan memang masih suka mandi di tapian. Ia sendiri baru pulang dari tepian dengan handuk yang masih berselempang di pundaknya. Tapian mandi di Pariangan memang tak bisa dihilangkan. Bagaimana tidak, tapian di sini sangat unik. Airnya panas, berasal dari Gunung Merapi.

Selain pemandian, peninggalan masa lalu di Pariangan juga tetap terjaga.”Nah ini namanya Tungku Tigo Sajarangan, makanan urang tigo luhak yaitu luhak Agam, Tanah Datar dan 50 Kota,” kata datuk sambil menunjuk satu batu gunung yang menonjol besar.

Batu-batu itu hanya sebagai filosofi semata. Ia sebagai pelambang. Masih banyak pelambang lainnya. Sejumlah peninggalan masa lalu itu pun telah dilindungi sebagai benda cagar budaya. Misalnya, ada kuburan panjang yang merupakan makam tokoh pendiri Nagari Pariangan. Kuburan panjang itu menjadi salah satu situs cagar budaya.

Kehidupan masyarakat Pariangan pun masih kental dengan tradisinya. Ani, misalnya. Wanita itu sedang sibuk di surau kaumnya. “ Surau-surau di sini ada yang berpenghuni, ada juga yang sudah ditinggalkan, “ ujarny a sambil bersih-bersih di halaman suraunya.

Walaupun surau sudah banyak yang lengang, bukan berarti aktivitas keagamaan berhenti di sana. Anak-anak di Pariangan tetap belajar mengaji. Mereka umumnya mengaji di masjid.

Namun, sejumlah tradisi dan cirri khas nagari tuo Pariangan mulai terancam hilang.”Kaji badabuih itu masih ada warga yang menguasainya. Sayang untuk pelakunya, generasi muda sekarang banyak yang tidak mau jadi objek,” ujar Datuk Garang menyenutkan kekhawatirannya akan hilangnya tradisi badabuih.

Ia lalu menyebut tari indang, tari piriang dan beberapa tradisi lainnya yang sudah mulai punah. Generasi muda Pariangan, berbondong-bondong pergi ke rantau mengadu nasib, sehingga pewaris budaya lokal hampir tak ada. Datuk Garang sendiri mengaku baru betah pula berada di rumah, setelah sekian lama merantau. Ia menunjukkan rumahnya yang cantik, terletak anggun dan manis di atas ketinggian.

Menurut Datuk Garang, Pemda Batusangkar harus segera mengamankan aset-aset sejarah di Pariangan. Ia mengaku termasuk orang yang kecewa, ketika Masjid Raya Pariangan diubah dari bentuk aslinya.

Beberapa turis dari Malaysia pernah menuturkan kepadanya, bahwasanya mereka kecewa dengan arsitek baru masjid yang menghilangkan ciri khas lama. Lama kelamaan, bangunan-bangunan asli sebagai benteng terakhir budaya Minang itu, bakal tergusur oleh arsitek modern, sehingga tak ada lagi yang namanya ‘kampuang tuo’.

Salah satu yang bisa dilakukan Datuk Garang untuk nagarinya itu, berupa pelarangan keras pengaspalan jalan. Menurutnya, jenjang yang ada di kiri kanan, kalau dijadikan pula jalan beraspal, maka habis sudah ciri-ciri nagari tuo.

Beberapa ciri khas Pariangan yang sudah masuk cagar budaya pun tak terawatt dengan baik. Erman Kari yang sibuk mencat pagar besi. Ia sedang membenahi situs batu basurek. “Dulu batu ini masih banyak tulisan Arab Melayunya, sebagai prasasti. Sekarang agak susah dilihat, karena terkikis sedikit demi sedikit,” katanya.

Tungku kedua yang disebut juga batu basurek itu dipagar sejak tahun 1992, oleh dinas terkait. Erman sendiri menerima order mencat satu kali dalam dua bulan. Jika tak mencat, biasanya ia bekerja sebagai petani.Ia kemudian mengambil air, untuk mencari sisa-sisa tulisan yang masih ada. Sayang, tidak beberapa baris yang ketemu, karena semuanya sudah tak berbentuk lagi.Dari atas tungku kedua, pemandagan Nagari Tuo Pariangan jelas terpampang nyata. Masjid Pariangan yang ada kolam ikan di depannya, tampak seperti berada di sebuah lembah. Gonjong-gonjong dari surau tua, memberikan sentuhan masa lalu yang kental. Memang hanya surau-surau inilah yang tersisa, sebagai pencerita kalau di Pariangan dulu ada masa lalu yang begitu damai. hendri nova/009


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: