Oleh: hendrinova | Desember 30, 2011

Akibat Salah Pergaulan


Nina memang terbilang nekat, ketika ia menghabiskan hari samapi sore di Pantai Gandoriah bersama Riko, mahasiswa asal Jakarta yang baru dikenalnya. Sikapnya yang ramah dan sudah lama tak disentuh suami, membuatnya lupa status kalau masih istri Rizal.

Suaminya itu pergi merantau meninggalkan Sungai Geringging Pariaman, untuk memperbaiki nasib. Sayang sudah tiga bulan, ia membiarkan Nina dan empat anaknya hidup tanpa kiriman uang.

Nina yang kala itu pusing memikirkan kehidupan rumah tangganya, merasa ada teman tempat curhat. Sayang, ia melakukan curhat sambil jalan di bibir lantai, hingga si Raja Siang kembali ke peraduannya.

Akibat ulahnya itu, mertuanya tidak senang hati. Gunjingan menyebar dengan teman bermacam-macam. Salah satunya, Nina berpacaran dengan lelaki lain. Bak kata orang Minang, Nina terkena tulah salah cando dilihat orang.

Gunjingan makin deras dan itu sampai juga di telinga Rizal yang baru pulang merantau. Ia tidak langsung ke rumah istrinya, Nina, tapi malah pulang ke rumah emaknya. Sewaktu Nina datang menjemput, ia langsung emosi dan menjatuhkan talak satu.

Bagi Nina, itu bencana sekaligus anugerah. Dikatakan bencana, karena ia kini harus membesarkan keempat anaknya seorang diri. Ia harus menjadi ibu, sekaligus kepala rumah tangga.

Disebut anugerah, karena Rizal termasuk tipe lelaki pemalas tak bertanggung jawab. Ia juga ringan tangan, dan tak sanggup juga membuatkan rumah bagi anak dan istrinya. Mamak Nina, Mak Uniang, merasa menyesal telah menikahkan Nina dengan Rizal. Ia pun merugi, karena uang hilang pembeli Rizal tak kembali.

Lepas dari tangan Rizal, membuat Nina giat berusaha berkat dorongan dari Riko. Ia mulai usaha kecil-kecilan membuat kerupuk jengkol, mengambil upah jahit, sulaman dan lainnya. Asal kerja halal, Nina mau melakukannya. Ia sangat butuh biaya banyak untuk membesarkan dan menyekolahkan anak-anaknya.

Mak Uniang tak tinggal diam. Setelah Nina resmi bercerai, ia menunjukkan tanggungjawabnya sebagai Mamak. Ia terus memantau perkembangan Nina, dan terus membela keponakannya. Ia pun memberi lampu hijau atas hubungan Nina dan Riko.

Waktu berjalan dan Nina mulai merasakan nikmatnya sebagai wanita karir. Ia dapat bantuan dana penambah modal, sehingga membuat Kayah, ibu Rizal, ingin merujukkan mereka kembali. Namun Nina sudah patah arang, dan ia tidak ada minat kembali ke pelukan Rizal.

Hubungan Nina dan Riko yang belum dijelaskan statusnya, memberi peluang hadirnya Dokter Andre dalam kehidupannya. Dokter yang lagi bermasalah dengan istrinya itu, ingin memperistri Nina pula. Di sisi lain, ada Diana, seorang gadis yang tergila-gila pada Riko, ingin merusak hubungan keduanya.

Novel berjudul ‘Ketika Rembulan Kembali Bernyanyi’ ini, mencoba menelanjangi adat Pariaman terkait uang jemputan. Di novel ini disebutkan, bahwa uang hilang menjadi penyebab sukarnya anak Pariaman untuk mendapatkan pasangan. Istilah lelaki Pariaman harus dibeli, sangat gamblang dibahas.

Novel beralur maju ini, terdapat bagian cerita yang hilang, khususnya di halaman 48. Diana yang baru melihat Nina, langsung mengenal nama dan membencinya. Mbok ya diceritakan dulu Diana itu gadis dari mana, tinggal di mana, sehingga ia tahu siapa Nina.

Sementara sosok Mamak dalam hal ini Mak Uniang, layak diberikan jempol akan tanggung jawabnya pada ponakan. Tentu tidak semua mamak yang bisa berbuat seperti Mak Uniang, karena banyak mamak yang malah menjual harta pusaka.

Sedangkan Nina, sepertinya termasuk perempuan yang gampang jatuh dalam pelukan lelaki yang ia sukai. Kalau tak ingat Allah SWT, Nina tentu sudah berzina. Padahal sebagai wanita baik-baik, ia harus menolak berduaan dengan lelaki yang bukan muhrim. Namun Nina tidak melakukan itu, sehingga perbuatan zina hampir berlaku di rumah tante Riko.

Membaca novel ini, memang tidak ditemukan satu hal yang baru, khususnya kesan mendalam. Ceritanya sendiri umum, dan sudah banyak dibahas di novel-novel lainnya. Tentu lain ceritanya, jika novel ini memberikan sesuatu yang khas dari Pariaman, khususnya yang belum pernah dilirik penulis lain. Hendri Nova

Judul: Ketika Rembulan Kembali Bernyanyi
Penulis : Kartini
Penerbit : Yayasan Sinar Gunung Sungai Geringing
Cetakan : Pertama, November 2010
Tebal : 169 Halaman


Responses

  1. judul bukunya puitis banget ya…….
    rumah buku

  2. assalamualaikum…
    admin, ada ga menganalisis novel Ketika rembulan kembali bernyanyi ini…
    klo ada bagi donk mind, tugas kull ne..🙂

    • belum ada tuh…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: