Oleh: hendrinova | Desember 29, 2011

Jamsostek dan Pekerja ; Dua Sisi Mata Uang Saling Mensejahterakan

Oleh Hendri Nova
Jamsostek dan pekerja sudah menjadi dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Jamsostek ada, karena adanya pekerja yang tersebar di berbagai sektor pekerjaan. Sementara pekerja merasa beruntung, karena adanya Jamsostek yang akan melindungi mereka dari sisi jaminan hari tua, jaminan kecelakaan kerja, jaminan kematian dan jaminan pelayanan kesehatan.
Kalau salah satu unsur tidak ada, maka ibarat uang, ia tidak laku dijadikan alat tukar. Begitu juga dalam hubungan antara Jamsostek dengan pekerja. Jika salah satunya tak ada, maka ia akan berjalan timpang.
Pekerja tidak akan nyaman bekerja, tanpa ada yang bisa menjamin mereka dalam bekerja. Sementara Jamsostek akan hilang di muka bumi, jika semua pekerja sudah menyatakan dirinya keluar dari Jamsostek.
Oleh karena itu, Jamsostek harus membuat para pekerja paham akan kinerjanya, dengan selalu ‘memanjangkan telinga’ mendengarkan segala saran dan masukan dari para pekerja. Buatlah pekerja selalu merasa terlindungi dan kesejahteraannya meningkat selama bergabung dengan Jamsostek.
Salah satu program Jamsostek yakni Program Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (JPK) yang menjadi hak tenaga kerja, hendaknya terus direformasi dari waktu ke waktu. JPK sebagai mana dirilis jamsostek.co.id, selama ini mengambil peran membantu tenaga kerja dan keluarganya mengatasi masalah kesehatan. Mulai dari pencegahan, pelayanan di klinik kesehatan, rumah sakit, kebutuhan alat bantu peningkatan fungsi organ tubuh, dan pengobatan, secara efektif dan efisien.
JPK hendaknya terus menyesuaikan diri dengan perkembangan yang terjadi di tengah masyarakat terutama pekerja. Jangan lagi ada rumah sakit rujukan yang bekerja sama dengan Jamsostek, menolak melakukan perawatan tanpa surat rujukan.
Ketentuan ini sangat merugikan dan merepotkan pemegang KPK (Kartu Pemeliharaan Kesehatan) sebagai bukti diri untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Saat mereka sedang panik karena diri atau anggota keluarganya masuk dalam kategori gawat darurat, pihak rumah sakit malah menanyakan rujukan.
Alangkah indahnya layanan rumah sakit rujukan, dengan memberikan ketenangan pada pemegang KPK. Pihak rumah sakit langsung menghubungi petugas Jamsostek, sehingga segala keperluan pemegang KPK bisa terurus baik. Inilah yang dinamakan pelayanan berkualitas dari Jamsostek, bagi pemegang KPK.
Mereka diberikan layanan terbaik, saat mereka sangat membutuhkannya. Ini akan memberikan indikasi, bahwa Jamsostek benar-benar bertanggung jawab pada semua pemegang KPK, dengan memberikan layanan berkualitas.
Pemantauan kebutuhan dan keluhan pemegang KPK hendaknya didengarkan dan segera dicarikan solusi, dengan respon yang cepat dan tak mengecewakan. Lakukan hal itu, hingga pemegang KPK keluar dari rumah sakit. Caranya sangat gampang dengan memanfaatkan teknologi. Bisa dipantau via Twitter ataupun akun Facebook.
Inilah inti dari kata ’jaminan’ dan ’perlindungan’ yang menjadi brand Jamsostek. Peserta tentu akan mengatakan pada dirinya dan orang-orang, bahwa Jamsostek benar-benar memberikan jaminan kesehatan dan perlindungan bagi mereka.
Setelah pekerja keluar dari rumah sakit, mintalah mereka memberikan masukan akan layanan yang diberikan. Mintalah mereka menuliskannya di secarik kertas atau SMS, akan rumah sakit yang melayani mereka dan hal-hal penting lainnya.
Jika banyak pekerja mengatakan rumah sakitnya memberikan ketenangan sehingga cepat mendatangkan kesembuhan, teruskanlah bekerja sama di masa datang. Namun kalau yang terjadi malah sebaliknya, sebaiknya mencari rumah sakit yang kiranya pro pada kesembuhan dan kenyamanan pasien.
Jamsostek juga jangan sungkan-sungkan mensurvei para pekerja, akan seperti apa rumah sakit yang akan melayani mereka jika sakit datang menyapa. Bagi pekerja dari kalangan Muslim yang taat, tentunya sangat berharap rumah sakit yang bisa untuk berprivasi.
Mereka mendapatkan kenyamanan saat terbuka aurat, dan bagi Muslimah dapat layanan dari dokter perempuan. Jika si sakit mendapatkan kenyamanan, maka itu akan mempercepat kesembuhannya dari sakit.
Pemberian rasa nyaman dan menyenangkan hati inilah, yang kini banyak dicontohkan rumah-rumah sakit di negara jiran Malaysia dan Singapura. Masyarakat Indonesia berbondong-bondong berobat ke negara itu, karena mereka ingin pelayanan yang maksimal.
Soal berobat ke luar negeri terutama Malaysia dan Singapura, Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) sebagaimana dimuat oleh vivanews.com terbitan Selasa, 26 Juli 2011, menyebutkan bahwa 20 juta penduduk Indonesia lebih memilih Singapura dan Malaysia untuk berobat. Jumlah ini sama dengan 10 persen penduduk Indonesia.
Hampir 10 persen masyarakat tersebut, termasuk orang-orang kaya di Indonesia. Padahal menurut JK, mereka sangat berpotensi untuk menghidupkan rumah sakit di Indonesia. Mereka memilih pelayanan terbaik dan akurasi jelas soal penyakit yang diderita. Mereka juga tidak mau pusing dengan urusan bayar membayar.
Sementara sekitar 40 persen masyarakat Indonesia masih memilih-milih pelayanan rumah sakit. Sedangkan penduduk yang pasrah pada apa pun kata dokter mencapai 50 persen. Mereka ini orang-orang yang tidak mampu dan pasrah terima apa saja, meski antre berjam-jam.
Menurut JK, penyebab utama masyarakat suka berobat ke luar negeri karena kualitas dokter Indonesia masih ketinggalan dibanding Singapura dan Malaysia. Dokter-dokter luar luar negeri lebih teliti. Sementara di Indonesia, sistem dokter yang masih jelek dapat berpengaruh pada dokternya.
JK mengatakan, dokter Indonesia terkadang tidak teliti dalam mendiaknosa penyakit pasien. Padahal, dokter tidak boleh main hantam saja.
Sementara berdasarkan informasi dari Konsulat Jenderal Indonesia di Penang sebagaimana dirilis hompedin.org, rumah sakit yang banyak dikunjungi orang Indonesia adalah Rumah Sakit Lam Wah Ee dan Rumah Sakit Adventist. Pada tahun 2003 jumlah orang Indonesia yang berobat ke Lam Wah Ee sekitar 12.000 orang (sekitar 32 pasien/hari). Pada periode Januari sampai Juni 2004, jumlah pasien Indonesia sekitar 9.000 orang (sekitar 50 pasien/hari).
Di Rumah Sakit Adventist, selama tahun 2003 ada sekitar 14.000 orang pasien asal Indonesia (sekitar 38 pasien/hari). Kemudian, pada Januari sampai Juni 2004 jumlah ini meningkat menjadi sekitar 10.000 orang (sekitar 55 pasien/hari).
Sementara di Singapura tahun 2003 sebanyak 75.000 orang Indonesia berobat ke sana. Dari jumlah itu, sekitar 7.500 berobat karena mengidap penyakit kanker.
Sedangkan Ketua Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (Persi) Pusat, Dr dr Sutoto di Medan, seperti dirilis investor.co.id terbitan Rabu, 23 Februari 2011 menyebutkan, jumlah orang Indonesia yang berobat ke luar negeri khususnya negara-negara Asia seperti Malaysia, Singapura, Thailand dan China semakin menunjukkan peningkatan.
Berdasarkan, data yang dipublikasi International Medical Travel Journal tahun 2008, jumlah orang Indonesia yang berobat ke Singapura tahun 2007 sebanyak 226.200 orang. Sementara ke Malaysia tahun 2006 sebanyak 70.414 orang, 221.538 (tahun 2007) dan 288.000 (tahun 2008).
Masih berdasarkan jurnal tersebut, Malaysia dan Singapura adalah negara yang paling sering dikunjungi orang Indonesia untuk berobat. Tahun 2008 ada sekitar 500.000 orang Indonesia yang berobat ke luar negeri khususnya ke kedua negara itu.
Dari survei yang dilakukan terhadap pasien yang berobat ke kedua negara itu, diketahui beberapa faktor yang membuat warga negara Indonesia pergi berobat ke luar negeri. Seperti karena kurang puasnya pasien akan pelayanan kesehatan di Indonesia, tarif atau biaya pelayanan yang dikeluarkan memang lebih tinggi dibanding di dalam negeri. Namun karena pelayanan yang cukup baik, hal itu tidak menjadi masalah bagi para pasien itu.
Faktor yang lain adalah pengelola RS di Indonesia belum mengedepankan pasien sebagai konsumen yakni pelayanan yang diberikan terhadap pasien kurang. Khususnya dalam hal komunikasi, waktu tunggu lama dan dokter di Indonesia kurang memberi waktu yang cukup untuk konsultasi atau dokter di Indonesia selalu terburu-buru dalam menghadapi pasien.
Dari hal itu dapat diketahui bahwa pasien sangat membutuhkan dialog dengan dokter. Artinya dokter harus mampu memberikan kenyamanan kepada pasiennya melalui diskusi-diskusi tentang penyakitnya demi terbinanya hubungan yang lebih dekat lagi.
Inilah tugas Jamsostek, yang harus dilakukan di masa datang. Carilah patner rumah sakit yang kiranya bisa seperti itu, sehingga semua pemegang KPK, bangga telah memilikinya.
Layanan yang sama hendaknya juga diberlakukan pada Program Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK). JKK memberikan kompensasi dan rehabilitasi bagi tenaga kerja yang mengalami kecelakaan pada saat dimulai berangkat bekerja, sampai tiba kembali dirumah atau menderita penyakit akibat hubungan kerja.
JKK tentunya bisa menjadi harapan terbaik pekerja untuk meningkatkan kesejahteraannya, jika terjadi resiko kecelakaan diri. Mereka tentunya merasa beruntung memiliki kartu Jamsostek yang sudah memberikan jaminan kalau sekiranya mereka mengalami insiden kecelakaan.
Sementara Program Jaminan Kematian (JK) yang juga menjadi hak anggota Jamsostek diperuntukkan bagi ahli waris dari peserta program Jamsostek yang meninggal bukan karena kecelakaan kerja. Jaminan Kematian diperlukan sebagai upaya meringankan beban keluarga baik dalam bentuk biaya pemakaman maupun santunan berupa uang. Program ini akan membahagiakan keluarga yang ditinggalkan, sehingga mendiang tenang menuju alam baqa.
Sedangkan Program Jaminan Hari Tua (JHT) yang ditujukan sebagai pengganti terputusnya penghasilan tenaga kerja karena meninggal, cacat, atau hari tua dan diselenggarakan dengan sistem tabungan hari tua. Program Jaminan Hari Tua memberikan kepastian penerimaan penghasilan yang dibayarkan, pada saat tenaga kerja mencapai usia 55 tahun atau telah memenuhi persyaratan tertentu. Program ini adalah bentuk kesejahteraan saat usia tua mulai datang.
Jika ditilik empat program ini, bisa dikatakan Jamsostek telah berbuat maksimal untuk jangka pendek maupun jangka panjang. Jaminan ini membuat pekerja lapang menjalani hari-harinya, tanpa harus dirisaukan oleh pikiran-pikiran negatif terkait nasib jika wafat, cacat, sudah tua ataupun sakit.
Akan lebih sempurna lagi, jika Jamsostek melanjutkan rasa untung menjadi anggota Jamsostek ini, dengan Program Sambung Hati (SH) dengan mantan anggota Jamsostek. Program ini hendaknya bisa menjadikan mantan anggota Jamsostek menjadi target program CSR (Corporate Social Responcibility).
Apalagi bagi mantan anggota yang memiliki usaha dan banyak karyawan, mereka tentunya bisa membesarkan usahanya, dengan adanya bantuan modal dari CSR Jamsostek. Jika mereka sukses dalam usaha dan memiliki karyawan yang banyak pula, yakinlah mereka akan mendaftarkan karyawannya jadi anggota Jamsostek.
Dengan demikian, Jamsostek mendapatkan anggota baru, dari mantan anggota yang telah sukses. Inilah dua sisi mata uang yang tak terpisahkan, antara pekerja dengan Jamsostek. Keduanya sama-sama bisa memberikan kesejahteraan, karena hubungan kerjasama yang sama-sama menguntungkan. ***


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: