Oleh: hendrinova | Desember 27, 2011

Pengelolaan Air Terpadu untuk Pelestarian Lingkungan

Oleh Hendri Nova
Warga Perumahan Karya Rei Belimbing Padang sangat heran dengan kondisi air sumur mereka. Soalnya, rumah mereka yang berhadap-hadapan, memiliki kualitas air yang bertolak belakang.

Rumah yang ada di depan dengan tipe banyak batu, memiliki air yang jernih dan layak untuk minum. Sementara tetangga depan airnya kuning, meski sudah digali lumayan dalam.

Pada akhirnya, warga kembali memasang air PAM dan tidak sedikit juga yang memakai sumur bor. Mereka sangat butuh air bersih, untuk kepentingan memasak, mencuci ataupun konsumsi.

Tak hanya di Perumahan Karya Rei Belimbing Padang, kasus serupa juga ditemukan di Perumahan Bumi Kordang Damai, Balai Baru, Kuranji Padang. Bahkan kondisi air di salah satu blok kuning kehitaman, sementara di hadapannya bersih dan layak konsumsi.

Kondisi ini tentu sangat mengejutkan, apalagi di Indonesia. Namun kalau membaca fakta di lapangan, dunia pun terkejut dengan kondisi terakhir air tanah. Sebagaimana dirilis citarum.org, diketahui dua juta ton limbah dibuang ke sungai dan danau setiap harinya. Satu liter limbah dapat mencemari delapan liter air bersih, dan jika pencemaran air terus berlanjut, dunia akan kehilangan 18.000 km3 air bersih pada 2050 (UN World Water Development Report, 2009).

Kondisi ini telah menyebabkan setiap delapan detik seorang anak meninggal dunia karena penyakit terkait air. Dan 80% penyakit di negara berkembang, disebabkan karena kontaminasi air (data UNEP).

Maka dari itu, kini banyak dicetuskan konsep, pengelolaan sumber daya air terpadu/ integrated water resource management (IWRM). IWRM adalah proses yang mengutamakan fungsi koordinasi dan pengelolaan air, tanah dan sumber daya terkait, guna memaksimalkan hasil secara ekonomis dan kesejahteraan sosial dalam pola yang tidak mengorbankan keberlangsungan ekosistem vital (Global Water Partnership-Technical Advisory Committee, 2000).

Konsep IWRM ini membawa paradigma baru yaitu lebih mengutamakan keterpaduan lintas sektor, keterpaduan pengelolaan, keterpaduan lingkungan dan keterpaduan antar individu. Konsep ini memilih pendekatan bottom up ketimbang top down dan mendorong pengelolaan sumber daya secara multi sektor serta multi disiplin.

Pendekatan terpadu pada pengelolaan sumber daya air akan mengedepankan kemajuan penggunaan sumber daya air, dan memupuk keberlangsungan sumber daya air dan kesetaraan sesama pemangku kepentingan. Dalam Agenda 21 UN Conference on Environment and Development, Rio de Janeiro, 1992, dicetuskan bahwa pengelolaan sumber daya air secara menyeluruh dan terpadu lintas sektor dalam kerangka kebijakan sosial ekonomi nasional adalah sungguh penting.

Sebagai elemen vital yang menunjang kehidupan dan pembangunan, maka pengelolaan berkesinambungan harus mempertimbangkan faktor sosial ekonomi dan lingkungan. IWRM adalah proses utama dimana berbagai faktor terhubung, sehingga memungkinkan pengambilan keputusan dari berbagai level dalam kerangka koordinasi dan perencanaan lintas sektor dari berbagai kalangan terkait.

Prinsip utama IWRM, sesuai dengan prinsip Dublin 1991 adalah pembangunan dan pengelolaan Sumber Daya Air harus berdasarkan pendekatan partisipatif. Ia melibatkan berbagai pengguna, perencana dan pembuat kebijakan di semua tingkat.

Konsep IWRM atau pengelolaan sumber daya air terpadu kemudian diadopsi pemerintah Indonesia dalam UU No. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air. Disebutkan dalam pasal 3 UU SDA bahwa ”Sumber daya air dikelola secara menyeluruh, terpadu dan berwawasan lingkungan hidup…”. Lebih lanjut dalam pasal 85 ayat 1 UU SDA menyebutkan, ”Pengelolaan sumber daya air mencakup kepentingan lintas sektoral dan lintas wilayah yang memerlukan keterpaduan tindak untuk menjaga kelangsungan fungsi dan manfaat air dan sumber air.”

Kemudian pasal 85 ayat 2 menyebukan, ”Pengelolaan sumber daya air dilakukan melalui koordinasi dengan mengintegrasikan kepentingan berbagai sektor, wilayah, dan para pemilik kepentingan dalam bidang sumber daya air.”

IWRM seperti dirilis m.politikana.com, memberi solusi dengan membuat integrasi kebijakan pengelolaan air. Gambarannya, Pemerintah pusat berwenang dalam penetapan kebijakan nasional dan menetapkan Norma, Standar, Pedoman dan Manual (NSPM), melakukan koordinasi, menjadi fasilitator penyelesaian sengketa antar provinsi, memberikan rekomendasi dan bantuan teknis kepada pemerintah provinsi dan kabupaten/kota, menjaga efektivitas, efisiensi dan ketertiban pelaksanaan pengembangan sistem irigasi primer dan sekunder lintas provinsi, lintas negara dan daerah irigasi strategis nasional.

Selain itu, pemerintah pusat memiliki kewenangan melaksanakan pengelolaan sistem irigasi primer dan sekunder. Luasnya lebih dari 3.000 ha atau pada daerah irigasi lintas provinsi, lintas negara dan daerah irigasi strategis nasional.

Pemerintah provinsi melakukan hal yang sama dengan skala dan cakupan yang lebih sempit, mengatur hubungan pengelolaan antar kota provinsi tersebut. Memiliki kewenangan melaksanakan pengelolaan sistem irigasi primer dan sekunder pada daerah irigasi yang luasnya 1.000 ha sampai dengan 3.000 ha atau pada daerah irigasi lintas kabupaten/kota.

Pemerintahan kabupaten/kota menetapkan kebijakan kabupaten/kota, melaksanakan pengelolaan sistem irigasi primer dan sekunder pada daerah irigasi yang luasnya kurang dari 1.000 ha, memberi izin penggunaan dan pengusahaan air tanah di wilayah kabupaten/kota serta memfasilitasi penyelesaian sengketa antar daerah dalam satu kabupaten/kota.

Jika IWRM berjalan mulus, maka yang harus dilakukan selanjutnya, dengan membuat septic tank terpadu. Pihak developer harus menyediakan satu tempat, untuk menampung semua feses warga perumahan.

Feses tersebut kemudian diolah sedemikian rupa, untuk dijadikan pupuk. Hasil dari pupuk feses tersebut, bisa digunakan untuk memupuk pohon lindung yang ditanam di jalan-jalan komplek perumahan.

Perihal feses yang sudah diolah ini, bukan lagi berita baru. Sayang di Indonesia belum diterapkan, sehingga warga banyak yang membiarkan septic tanknya bocor dan mencemari air tanah.

Padahal di negara lain seperti dirilis civilcorner.tk, kotoran manusia dijadikan “pencegah” pemanasan global. Kotoran manusia dijadikan biogas dan pupuk untuk mengurangi efek pemanasan global.

Hal tersebut diungkapkan oleh Bindeshwar Pathak, pendiri Organisasi Sulabh International Social Service, sebuah organisasi nirlaba yang didedikasikan untuk membuat sanitasi. Organisasi ini sendiri sudah beranggotakan lebih dari 55 anggota dari 42 negara.

Bindeshwar mengawali pendirian organisasi ini dan telah berhasil membuat toilet untuk lebih dari 730 juta penduduk di India, yang kurang memahami pentingnya toilet. Dalam toilet yang dikembangkan, Bindeshwar membuat sebuah sistem yang secara organik mengubah kotoran manusia menjadi senyawa biogas, yang dapat dijadikan tenaga listrik atau bahan bakar untuk memasak. Kemudian, untuk air kencingnya diubah jadi berbagai macam pupuk. Ia mengklaim sudah berhasil mengimplementasikan toilet ramah lingkungan ini di Kabul Afghanistan.

Bahkan di Korea Utara sebagaimana dirilis kaskus.us, Profesor Kim Young-Soo dari Sogang University di Seoul, Korea Selatan mengatakan, kotoran manusia terjual seperti “kue panas.” Informasi tersebut diperoleh dari hasil wawancaranya dengan pembelot Korea Utara.

Menurut Kim, orang memanfaatkan kotoran manusia sebagai pupuk dan toko-toko mulai menjualnya akibat kelangkaan pasokan pupuk. Setiap rumah tangga biasa menggunakan kotoran manusia sebagai pupuk sehingga tak heran banyak tersedia di pasar.

Untuk menghindari efek negatif tinja karena banyak bahan kimia beracun yang terdapat di dalamnya, dilakukan pengolahan secara intensif. Tinja bisa sangat aman dan berguna sebagai kompos, jika dipanaskan pada suhu antara 131F hingga 170F untuk membunuh patogen.

Tentu sangat disayangkan jika Indonesia terus ketinggalan dengan penerapan teknologi di bidang toilet. Jika pemerintah menerapkannya, maka air tanah akan terjadi sehat selalu tak lagi terkontaminasi banyak kuman yang berasal daru tinja.

Dengan sendirinya lingkungan akan terjaga dan begitu juga mineral dalam tanah. Air akan berkualitas lagi dan kembali bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: