Oleh: hendrinova | Desember 27, 2011

BII Sangat Memahami Perempuan

Oleh Hendri Nova
Wartawan Harian Singgalang
Studi International Finance Corporation (IFC) yang dilakukan terhadap 20 pengusaha laki-laki dan 58 pengusaha perempuan di Surabaya, serta wawancara terhadap bank-bank nasional dan dua bank daerah tentang pembiayaan, sangat mengejutkan. Pengusaha perempuan tidak menjadi sasaran investasi utama perbankan. Pengusaha perempuan masih dipandang sebelah mata, meski jumlah mereka tidak sedikit.
Di Pasar Raya Padang saja misalnya, rata-rata pedagang adalah kaum perempuan. Jumlahnya mengalahkan kaum lelaki yang ikut membuka usaha yang sama. Keterlibatan kaum perempuan Minang ini, sudah berlangsung sejak lama dan memang terkenal gigih dalam mencari uang.
Aktivitas sulam menyulam mereka bahkan menghasilkan karya cipta seni yang tinggi, dengan harga jutaan rupiah. Mereka juga mampu menyulap sesuatu yang semula kurang berharga, menjadi karya seni bernilai tinggi.
Siapa yang tak kenal dengan songket Minang, hasil tenunan para bundo kanduang. Kemampuan itu terus berkembang, dengan lahirnya batik Minang dengan ciri khas spesifik yang tak dimiliki corak batik daerah Indonesia lainnya.
Tentu satu hal yang sangat merugikan, jika pasar kaum perempuan ini tak digarap perbankan. Dengan membuka mata lebih lebar, pihak perbankan tentunya bisa menangkap potensi besar yang dimiliki pengusaha perempuan.
Sementara Pengamat ekonomi INDEF (The Institute for Development of Economics and Finance), Aviliani sebagaimana ditulis tabloidcleopatra.com berpendapat, perbankan memang cenderung menilai pengusaha perempuan belum memenuhi kriteria 5C (character, capacity, capital, collateral dan condition).
Lima kriteria ini diperlukan perbankan, untuk memitigasi risiko kreditnya. Karena kepercayaan yang rendah, maka perbankan cenderung mematok suku bunga tinggi serta agunan yang ketal untuk pengusaha perempuan. Selain itu, proses pembiayaan kepada pengusaha perempuan juga rumit.
Bank menurutnya tidak mempertimbangkan pengusaha perempuan sebagai sasaran investasi. Padahal, tingkat kelayakan kredil pengusaha perempuan relatif lebih baik dari pengusaha laki-laki.
Dalam berbagai kasus, banyak tenaga kerja perempuan yang tidak dihitung dalam perhitungan tenaga kerja statistik nasional lantaran sebagian besar dari mereka bekerja di sektor domestik. Imbasnya, potensi-potensi pemberdayaan kaum wanita seringkali tidak terakomodasi dalam kebijakan pemerintah. Sebagai contoh, perempuan yang bekerja di pertanian hanya digolongkan membantu suami dan tidak dianggap memiliki nilai ekonomis.
Cakupan bisnis perempuan yang cenderung terkungkung pada bidang-bidang keperempuanan seperti, kecantikan, kebutuhan rumah tangga dan kuliner menjadikan ruang lingkup bisnis mereka terbatas. Dalam permodalan juga tercatat, lebih dari 90 persen wanita yang memiliki usaha kecil dan menengah, menggunakan tabungan pribadi mereka untuk mendirikan usaha.
Sementara Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Linda Amalia Sari Gumelar juga menyoroti perilaku lembaga keuangan yang dinilai tidak memperlakukan adil terhadap pengusaha wanita. Menurutnya ada kendala eksternal perempuan untuk berusaha seperti masalah akses kredit dan aturan yang membelenggu harus segera diuraikan.
Pasalnya perempuan yang melakukan usaha miskro ternyata memiliki peluang besar untuk membantu perekonomian keluarga. Perempuan di sekotr informal secara de facto ikut menyumbangkan pendapatan kotor nasional (GDP) sebesar 55,6 persen.
Linda menyebutkan, terdapat 51,21 juta unit usaha mikro, kecil dan menengah di Indonesia, dengan 60 persen diantaranya dikelola oleh perempuan. Agar usaha wanita Indonesia semakin berdaya, ia sarankan, para pelaku inisiatif pembangunan ekonomi skala UMKM mulai dari lembaga keuangan, pemerintah pusat, daerah, BUMN dan swasta harus menyelipkan aspek-aspek kesetaraan gender pada setiap kebijakan mereka.
Untuk itu, koperasi adalah bentuk paling ideal bagi pemberdayaan perempuan. Dengan berkoperasi, kepercayaan perbankan terhadap pengusaha perempuan akan semakin menguat. Sayangnya, dari 149.793 koperasi yang tercatat di Indonesia , baru sekitar 2,3 persen yang dikelola oleh perempuan.
Besarnya potensi pengusaha perempuan ini, tentunya tidak bisa disia-siakan pihak perbankan. Mereka harus mengambil peluang, untuk menggarap pasar perempuan lebih serius lagi.
Untunglah ada Bank International Indonesia (BII) yang menjadi salah satu klien IFC, yang punya komitmen meningkatkan kualitas produk dan layanan bagi wanita pengusaha, sehingga memudahkan untuk mendapatkan pembiayaan bagi usaha mereka. Mengingat wanita merupakan peluang pasar yang sangat potensial bagi bank komersial, yang belum sepenuhnya terlayani oleh sektor keuangan, terutama di negara-negara berkembang.
IFC mendukung kebijakan ekspansi bisnis UKM BII dalam memberikan akses bagi tersedianya fasilitas UKM di daerah-daerah yang selama ini belum terjangkau. Direktur Perbankan UKM, Komersial dan Syariah BII, Jenny Wiriyanto mengatakan pendanaan dari kerja sama tersebut nantinya akan disalurkan dalam bentuk kredit mencapai Rp 50 juta untuk usaha kecil dan Rp 5 miliar untuk usaha menengah. Dengan kerja sama ini. BII berharap dapat semakin luas mengepakkan sayapnya dalam penyaluran kredit pada UKM/ Komersial.
Dalam menyalurkan kredit ini BII akan menyalurkannya secara linkage bekerja sama dengan BPR dan koperasi-koperasi, sehingga penyaluran kredit ini dapat menjangkau seluruh Indonesia. Pasalnya segmen kredit UKM/komersial merupakan tulang punggung ekonomi Indonesia. Diharapkan melalui kerja sama ini. kontribusi BII terhadap sektor UKM lebih kuat.
Bukan semata memajukan usaha wanita dengan memperkuat jaringan sektor UKM, jajaran manajemen BII juga memahami kebutuhan wanita, dengan memberikan sentuhan khusus menerbitkan tabungan khusus bagi nasabah perempuan.
BII meluncurkan Tabungan BII Woman One. BII mengklaim Tabungan BII Woman One memberikan SATU (ONE) SOLUSIÂ untuk menjawab berbagai kebutuhan Wanita Indonesia, mulai dari bebas biaya administrasi bulanan, perlindungan asuransi female care, smart saving dengan suku bunga tiga kali lipat terhadap kenaikan saldo rata-rata bulanan dan smart spending dengan cash back untuk setiap transaksi. Disamping itu, kartu ATM/Debit Woman One didisain khusus mewakili aspirasi wanita Indonesia.
Tabungan BII Woman One adalah tabungan wanita pertama di Indonesia. Tabungan ini diciptakan untuk menjawab kebutuhan-kebutuhan nasabah wanita yang mempunyai kebutuhan yang spesifik dan makin berkembang dari waktu ke waktu,” kata Stefanus Willy Sukianto, SVP Wealth Management and Funding Business BII.
Menurut Stefanus Willy, keunggulan lain yang dapat diperoleh nasabah dari Tabungan BII Woman One diantaranya akses jaringan yang luas melalui ATM BII, ALTO, ATM Bersama, Prima dan Cirrus serta kemudahan dalam melakukan transaksi belanja di EDC yang berlogo Mastercard, Maestro dan Debit BCA.
Diakui sejak awal tabungan BII Woman One diciptakan untuk menjawab kebutuhan-kebutuhan nasabah wanita yang mempunyai kebutuhan yang spesifik dan makin berkembang dari waktu ke waktu. Misalnya pada 21 April 2011 lalu, saat peringatan Hari Kartini, BII memanjakan wanita dengan Program Kado Woman One, memberikan kesempatan kepada nasabah yang baru membuka rekening tabungan BII Woman One. Dengan minimum pembukaan dana Rp2,5 juta dan mempertahankan dananya tetap di tabungan BII Woman One maka akan mendapatkan kado menarik. Mulai dari large handy bowl hingga FrizyGreen Collection.
Di Kado Woman One juga terdapat program Kupon Woman One, yang memberikan kesempatan kepada nasabah tabungan BII Woman One yang membuka tabungan pendidikan BII EduPIan bagi dana pendidikan putra-putrinya untuk mendapatkan kado menarik lainnya diantaranya Tupperware hingga voucher belanja Rpl juta.
Tercatat Pencapaian Tabungan BII Woman One juga telah meningkat hampir 150% sejak tahun lalu dan juga ikut memberikan kontribusi bagi peningkatan dana simpanan nasabah sebesar 26,5%, menjadi Rp59,9 triliun pada 31 Desember 2010 dari Rp47,3 triliun pada 31 Desember 2009.
Agar nasabah perempuan makin nyaman dengan layanan BII, buatlah kejutan-kejutan spesial bagi mereka. Kejutan bisa berupa hadiah ulang tahun, kado kelahiran bayi, ataupun kado hari pernikahan mereka.
Karena walau bagaimanapun juga, wanita ingin dimengerti dan dipahami. Apalagi kalau perempuan yang menabung uang, mereka biasanya hemat dalam mengeluarkannya kembali, sehingga uang lama mengendap di bank. Itu berarti bisa diputar BII, untuk meraih keuntungan.
Pada acara-acara ulang tahun BII misalnya, adakanlah event yang khusus perempuan. Makin besar perhatian BII pada kaum perempuan, maka akan makin besar pula rekomendasi yang diperoleh, hasil dari promosi dari kaum ibu.
Sebagai bank yang pertama mengerti kaum perempuan, maka produk dari BII harus terus menyesuaikan diri dengan kebutuhan perempuan. Tanyalah pada kaum perempuan akan produk layanan perbankan impian mereka.
Jika semua masukan dirasa masuk akal, maka BII juga yang bakal mendapat keuntungan besar. Nasabah makin banyak dan loyal dan itu berarti keuntungan akan terus meningkat. ***


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: