Oleh: hendrinova | November 16, 2011

Mengawasi Anak yang Suka Online

Kecil-kecil sudah FB-an ? Itu bukan lagi satu hal yang aneh, di era sekarang ini. Jika orangtua tidak melek teknologi, maka ia dengan mudah bisa dikecoh oleh sang anak.

Jadi alangkah lebih baiknya dalam mengamankan anak dari ancaman dunia maya, dengan mengedukasi mereka dengan segudang informasi. Baik terkait keuntungan ataupun tentang bahaya dan risiko yang mengintai mereka di internet.

Meski anda memiliki software parental control yang menawarkan solusi efektif untuk memonitoring aktivitas anak saat online. Tools ini tetap hanyalah sebagai alat bantu, dan tidak dijadikan ’satpam’ pengganti orang tua.

Tidak serta merta dengan menggunakan software ini, menginstalnya di komputer lalu mengamati aktivitas anak dari jarak jauh, maka anak dijamin aman dari ancaman dunia maya. Karena cukup banyak celah di internet untuk hal-hal negatif.

Apalagi untuk berinternet ria saat ini tidak hanya lewat komputer saja. Anak sekarang sudah bisa berinteraksi dengan orang lain lewat HP yang sudah terkoneksi internet, atau mengakses Facebook dan Twitter dari PC sekolah atau komputer di rumah temannya.

Kalau sudah begini, maka software parental tidak akan berguna. Dan jika anda bergantung hanya pada ini, maka teledorlah anda.

Sebagian anak yang sudah menginjak remaja, banyak yang tidak suka jika orangtuanya memata-matai aktivitas onlinenya. Oleh karena itu, ia akan cari alternatif lain untuk bisa online.

Untuk itu, orangtua bisa memilih cara lain yang lebih bijak seperti yang dirilis tips-dunia-anak.blogspot.com. Silahkan pilih trik yang sesuai dengan anak anda, karena masing-masing anak berbeda.

Langkah pertama, pastikan anda menjadi temannya di Facebook. Buat kesepakatan dengan anak, bahwa jika ia ingin membuat akun Facebook, maka ia harus berteman dengan Anda selaku orangtuanya, bisa ibu dan/atau ayah.

Aturan ini tidak bisa dinego. Jika anak menginginkan membuat akun Facebook maka ia harus setuju dengan aturan ini.

Lalu lanjutakan dengan berteman dengan orang tua temannya anak anda. Bentuklah perkumpulan dengan para orangtua anak yang lain, yang notabene bersahabat dengan anak Anda.

Dengan begitu, anda akan mengetahui lebih banyak tentang orang tua teman anak anda tersebut dan tingkat tanggung jawab mereka terhadap anak. Ingatlah bahwa buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya.

Untuk PC, tempatkan di area terbuka di rumah. Secara psikologi, anak akan memperlihatkan sikap canggung dan merasa tidak aman, jika ada orang lain yang bisa leluasa melihat apa yang mereka lakukan di depan komputer. Apalagi jika ia membuka situs yang aneh-aneh (tidak pantas).

Jika anak online menggunakan laptop, buat aturan bahwa ngenet tidak boleh dilakukan di kamar tidur. Itu penting agar anda bisa tetap mengontrol aktivitas anak di internet.

Jangan awasi Twitter, Facebook, YouTube dan Foto kejadian buruk seperti cyberbullying (aksi pelecehan via internet) tidak hanya terjadi di Facebook. Cobalah awasi foto-foto apa saja yang diposting anak, apa yang mereka baca di internet, apa yang mereka tweet dan retweet, apa yang mereka lihat di YouTube.

Lalu cek isi ponsel secara random, jika memungkinkan. Periksa foto dan video apa saja yang ada di dalamnya, jam berapa anak sms-an dan menerima sms, apakah ada yang mengancam anak Anda, dan lain-lain. Anak akan menunjukkan gelagat yang mencurigakan jika di ponselnya terdapat gambar, video, ataupun pesan aneh sehingga akan berusaha menolak jika orangtua ingin melihat isi ponselnya.

Cobalah cek history browser. Sama seperti ponsel, jika memungkinan cek history log browser yang digunakan anak Anda. Kalau anak menghapus jejak mereka ber-internet agar tidak dicurigai orangtua, maka Anda perlu lebih waspada mengawasi aktivitas yang dilakukan anak saat online.

Buatlah aturan waktu. Ini berlaku untuk ponsel dan komputer. Sama halnya memberlakukan aturan bahwa tidak boleh menonton televisi jika belum mengerjakan pekerjaan rumah (PR), selama jam makan malam atau setelah jam 9 malam. Aturan serupa hendaknya juga diberlakukan untuk ponsel dan internet.

Dan jangan lupa berilah hari bebas ponsel/internet. Jika perlu, buatlah kesepakatan tentang hari bebas ponsel/internet, bisa seharian atau beberapa jam saja. Cabut steker listrik komputer atau modem.

‘Sita’ ponsel Anda dan anak Anda, jauhkan sejenak saat keluarga sedang melakukan kegiatan yang menyenangkan seperti bermain di halaman rumah, berenang dan sebagainya. Jangan lupa untuk terus berdialog dengan anak.

Andi harus menjadi sahabat yang baik bagi anak. Terangkan padanya tentang bahaya predator dan cyberbully, risiko berbagi foto dan pesan yang bersifat cabul, dan pentingnya pengaturan privasi. Biarkan mereka tahu mengapa Anda melakukan semua ini.

Jelaskan alasan-alasannya secara gamblang, dan jangan lupa beri kesempatan kepada anak untuk menyuarakan keberatan atau masalah mereka. Jangan ragu untuk berkompromi, namun harus tetap berpegang teguh pada aturan-aturan yang Anda anggap penting.

Satu hal yang sangat penting, tanamkan ilmu dan pengamalan agama yang kuat pada anak. Katakan pada mereka, Allah SWT selalu mengawasinya, meski orangtua tak mampu melihatnya.

Tanamkan rasa takut pada Allah dalam hatinya, sehingga ia memiliki pengontrol diri yang paling hebat. Hasilnya, anda akan melihat anak yang benar-benar terjaga dari kejahatan dunia online. Hendri Nova


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: