Oleh: hendrinova | November 15, 2011

Kumis Penyebab Alergi

Rasulullah SAW memerintahkan umatnya untuk mecukur kumis sampai bersih atau membuatnya menjadi tipis. Nabi SAW melarang kumis umat Islam menyerupai umat lain, seperti sampai menutupi bibir, panjang disisi-sisinya atau membiarkannya tumbuh liar.

Menurut riwayat Muslim, Ahmad, Nasaai, Tirmidzy dari jalan ‘Aaisyah bahwa 10 dari kategori sunnatul fithroh (sunnah2 yg di usung oleh para Nabi) selain memelihara janggut, siwak, memasukkan air ke dalam hidung (istinsyaaq), memotong kuku, membasuh lipatan-lipatan jari jemari/anggota badan lainnya yang berlipat, mencabut bulu ketiak, mencukur bulu-bnulu kemaluan, istinjaa’, dan berkumur2, juga termasuk mencukur kumis.

Oleh ilmu kesehatan modern, ditelitilah mengapa Rasulullah SAW menyuruh umatnya mencukur kumis. Meski yang meneliti bukan umat Islam, hasilnya malah mendukung perintah Rasulullah SAW.

Salah satu ilmuwan barat tersebut bernama Dr Rob Hicks, yang telah membukukan penelitiannya dalam buku Beat Your Allergy. Dikatakannya, seperti pakaian, kulit dan rambut, maka kumis pun rentan sebagai tempat berkumpulnya mikroorganisme dan alergen setiap harinya.

Lelaki yang rajin mencuci kumisnya 2 kali sehari dengan menggunakan sabun dan mencukurnya secara teratur akan lebih sedikit mengonsumsi obat antihistamin dan decongestan. Bayangkan dengan umat Muslim yang disuruh berwuduk 5 kali sehari, hasilnya tentu lebih baik.

Dr Hicks juga mengatakan, rutin mencuci kumis setiap hari, dapat membersihkan dan menyingkirkan segala bentuk mikroorganisme dan alergen yang berkumpul di daerah kumis. Hasilnya, akan menghindarkan sang pemilik kumis alergi seperti bersin-bersin.

Gampangnya seseorang bersin-bersin karena kuman yang ada di kumis, dikarenakan letak kumis paling dekat dengan bibir. Saat berkeringat, dengan mudahnya jatuh ke dalam mulut.

Bersin sendiri merupakan mekanisme alami yang telah dirancang Allah SWT, untuk membersihkan benda asing yang menyerang hidung sekaligus memberikannya perlindungan. Pendapat ini juga dibenarkan Dr James Banks, seorang ahli alergi imunologi Barat.

Kumis juga bisa menjadi tempat berkumpul debu-debu yang berseliweran di lingkungan. Saat kumis basah oleh keringat, akan membuat debu mudah menempel, kemudian menetes masuk ke dalam perut.

Hasilnya juga akan membuat sakit, jika imunitas tubuh pemiliknya lemah. Oleh karena itu, lebih baik mencukur habis kumis, sehingga menghilangkan kesempatan kuman untuk bersarang.

Namun kalau anda merasa tambah ganteng atau galak dengan kumis dan sayang untuk dicukur habis, setidaknya dipotong rapi sampai batas bibir. Paling bagus lagi tentu ditipiskan.

Walau bagaimanapun juga, kumis itu milik anda dan yang akan sakit juga anda. Maka pilihan, ada di tangan anda. Hendri Nova


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: