Oleh: hendrinova | November 15, 2011

Derita Perempuan Afghanistan

Tak ada yang mau lahir dengan status harami atau anak haram. Tapi itu harus menjadi garis takdir Mariam, yang lahir dari hasil hubungan gelap majikan Jalil dan pelayan Nana, ibunya Mariam.
Status sebagai harami membuat Mariam dan Nana dikucilkan di satu tempat yang jauh dari keramaian. Mariam tinggal di rumah sederhana dengan jatah kunjungan sekali-sekali dari sang ayah.
Ibunya sendiri mulai agak stres dengan nasib yang menyampiri hidupnya. Mariam ia proteksi ekstra ketat, sehingga tak bisa melihat dunia luar. Mariam hanya kenal ayahnya Jalil, Bibi Jo, dan Mullah Faizullah yang menjadi guru agamanya.
Sekali-sekali abang Mariam lain ibu datang, namun selalu dihadiahi kata-kata kotor dan makian dari mulut Nana. Tak ada niat Nana menyuguhkan minuman, sebagai obat haus telah mengantarkan bekal Mariam dan ibunya untuk beberapa hari ke depan.
Hingga usianya di atas 13 tahun, Mariam ingin melihat film di bioskop. Jalil yang berjanji dating menjemput tak Nampak batang hidungnya. Mariam sendiri nekat melawan larangan ibunya yang mengancam akan bunuh diri, jika Mariam meninggalkan dirinya.
Kata sang ayah tak kunjung dating, membuat Mariam nekat pergi sendirian. Ia pun menumpang pada salah seorang penduduk, untuk mengantarkan ke rumah ayahnya. Mariam pun sampai di sebuah rumah yang sangat besar dan megah.
Tapi apa yang didapat Mariam di sana? Ayahnya enggan menemui dirinya. Ia dibiarkan tidur berselimut angin malam dan nyamuk-nyamuk ganas. Hati Mariam hancur, dan dia diusir paksa pada pagi harinya.
Mariam diantar sopir Jalil kembali ke rumahnya. Tapi apa yang ia dapatkan, Nana sudah tergantung di seutas tali di sebuah dahan. Mariam lemas dan tak tahu harus berbuar apa. Nana membuktikan ancamannya.
Sejak peristiwa itu, Mariam tinggal di lantai atas rumah Jalil. Kerja Mariam hanya mengurung diri. Keceriaan tercerabut dalam jiwanya. Apalagi setelah niat ayahnya yang ingin segera menikahkannya.
Mariam menolak, namun tak kuasa. Ia dipaksa menjawab ia untuk dinikahkan dengan seorang pria yang sebaya dengan ayahnya sendiri. Setelah itu, mariam pindah ke Kabul bersama Rasheed suaminya.
Jika di awal Mariam merasa canggung, ia akhirnya menerima kenyataan harus mengabdi pada suami. Ia pun hamil dan itu sangat mengembirakan Rasheed yang ingin dapat anak lagi, sebagai pengganti anak lelakinya yang wafat karena terbenam di sungai.
Sayang Mariam keguguran, sewaktu dibawa Rasheed mandi di pemandian air panas. Sejak saat itu Rasheed berubah 180 derajat. Apalagi mariam tak bisa hamil lagi dan terus keguguran. Ia kini jadi sansak dan jadi sasaran kemarahan dengan alasan kecil sekalipun.
Sampai pada suatu ketika, ia harus terima hidup dimadu dengan Laila, seorang wanita tetangga yang sebatang kara karena keluarganya jadi korban perang. Penderitaan Mariam bertambah, karena Rasheed menganggapnya sebagai budak.
Jika sebelumnya Mariam memusuhi Laila, akhirnya malah berteman setelah kelahiran Aziza yang kiranya hasil zina Laila dengan pacarnya Thariq. Laila pun rupanya juga harami, hasil pekerjaan ibunya.
Merasa senasib, Mariam mengikuti ajakan Laila untuk kabur dari rumah Rasheed. Sayang jalan mereka terhambat, oleh ulah Mujahidin yang terlalu ketat terhadap perempuan yang pergi sendirian. Mereka dikembalikan ke Rasheed dan menerima siksaan sangat pedih.
Sejak saat itu, Laila dan Mariam dilakukan bak binatang. Salah sedikit, maka pukulan, tendakan dan tindakan sadis lainnya yang akan menimpa. Siksaan tak mereda, walau Laila berhasil memberi Rasheed seorang anak lelaki.
Saat Rasheed bangkrut, pertengkaran makin sering terjadi. Laila hampir mati jika tidak dibela Mariam. Waktu itu, Mariam nekad berjibaku untuk menyelamatkan Laila yang sudah menjadi bagian hidupnya.
Novel best seller di seluruh negara ini, sekilas menelanjangi kehidupan umat Muslim di Afghanistan saat perang berkecamuk sampai saat ini. Penindasan dan ketidakadilan terhadap wanita, begitu telanjang dalam novel ini.
Penindasan kaum pria inilah yang membuat banyak wanita berzina dengan kekasihnya. Satu hal tragis dengan label Islam di dada. Perlakuan lelaki Afghanistan pada perempuan sangat tidak sesuai dengan ajaran Islam. Tentu anda akan mual melihat betapa kejamnya sebagian lelaki Aghanistan ini.
Dan novel ini ditutup dengan sebuah puncak ketertindasan dengan munculnya perlawanan. Itulah yang dilakukan Mariam pada Rasheed, hingga dirinya dieksekusi mati. Mariam nekad membunuh Rasheed, demi melindungi orang-orang yang ia cintai.
Novel ini membuka mata pembaca, bahwa banyak sungguh ajaran Islam yang diterjemahkan secara picik. Wanita yang sangat dilindungi Rasulullah SAW, diabaikan hak-haknya oleh mereka yang melabeli diri menegakkan syariah, wallahu’alam. Hendri Nova

Judul: A Thousand Splendid Suns
Penulis : Khalled Hosseini
Penerbit : Qanita
Cetakan : Pertama, Desember 2010
Tebal : 510 halaman


Responses

  1. kayaknya menarik banget ni novelnya mas, apa udah ada versi bahasa Indonesianya? kalo udah, judulnya apa ya?

  2. udah ada mbak.. dengan judul yang sama… cari deh…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: