Oleh: hendrinova | Juni 28, 2011

>Merangkul Swasta dan PT Untuk Swasembada Energi

>
SUMBER ENERGI – Laut menyimpang sumber daya energi yang sangat besar. Sayang pemanfaatannya masih belum digarap maksimal, kecuali oleh para nelayan yang saban hari mengambil hasilnya. Hendri Nova

Oleh Hendri Nova
Wartawan Harian Singgalang

Krisis energi, itulah yang akan dialami banyak negara di masa depan. Untuk sekarang saja, pemerintah sudah direpotkan dengan subsidi premium yang terus membengkak. Sementara minyak tanah, secara halus pemerintah sudah memaksa masyarakat untuk pindah ke gas. Dikatakan secara halus, karena masyarakat makin sulit untuk mendapatkan minyak tanah.

Apalagi di bidang kelistrikan, pemerintah masih belum mampu memberikan listrik murah pada masyarakat, sehingga menimbulkan ekonomi biaya tinggi. Meski memiliki sumber daya energi yang berlimpah, Indonesia masih berleha-leha untuk memanfaatkannya.

Dikatakan berleha-leha, karena teknologi kelistrikan Indonesia benar-benar miskin pengembangan. PLN masih banyak mengandalkan bahan bakar fosil, air dan batu bara. Sementara potensi yang lebih murah dan mudah diperbaharui, terkesan kurang serius ditangani.

Sebutlah listrik tenaga gelombang laut, listrik panas bumi, listrik tenaga surya, tenaga angin dan lainnya, masih jauh dari jangkauan. Sebaliknya, pemerintah malah mengobok-obok masyarakat dengan rencana listrik tenaga nuklir. Padahal sama-sama diketahui, bahan bakar nuklir memiliki tingkat bahaya tinggi.

Pemerintah sepertinya sudah lama melenakan diri, dengan duduk tenang ongkang-ongkang kaki menikmati bahan bakar fosil. Saat cadangannya menipis, geraknya juga masih lamban. Sementara negara lain, mereka makin serius menggarap energi alternatif aman, murah dan pasokannya melimpah.

Energi panas bumi Indonesia saja misalnya, menurut Menteri Energi Sumber Daya Mineral, Purnomo Yusgiantoro seperti dirilis http://www.antaranews.com memiliki potensi sebesar 27.000 MW atau 40 persen dari cadangan panas bumi dunia. Potensi energi panas bumi yang cukup besar itu, hingga kini baru dimanfaatkan sebagian kecil, yakni 992 MW.

Sumber energi berlimpah lainnya yang masih belum diolah maksimal oleh pemerintah berupa energi laut dan samudra. Potensinya tentu sangat besar dengan luas laut yang mencapai 3.2 juta km2 laut teritorial dan 2.9 juta km2 perairan ZEE (www.ristek.go.id).

Menurut http://www.ebtke.esdm.go.id, negara yang melakukan penelitian dan pengembangan potensi energi samudra untuk menghasilkan listrik adalah Inggris, Prancis dan Jepang. Secara umum, potensi energi samudra yang dapat menghasilkan listrik dapat dibagi kedalam 3 jenis potensi energi yaitu energi pasang surut (tidal power), energi gelombang laut (wave energy) dan energi panas laut (ocean thermal energy).

Energi pasang surut adalah energi yang dihasilkan dari pergerakan air laut akibat perbedaan pasang surut. Energi gelombang laut adalah energi yang dihasilkan dari pergerakan gelombang laut menuju daratan dan sebaliknya. Sedangkan energi panas laut memanfaatkan perbedaan temperatur air laut di permukaan dan di kedalaman.

Pemanfaatan energi jenis ini di Indonesia, memang masih memerlukan berbagai penelitian mendalam. Namun secara sederhana dapat dilihat bahwa probabilitas menemukan dan memanfaatkan potensi energi gelombang laut dan energi panas laut, lebih besar dari energi pasang surut.

Pada dasarnya pergerakan laut yang menghasilkan gelombang laut terjadi akibat dorongan pergerakan angin. Angin timbul akibat perbedaan tekanan pada 2 titik yang diakibatkan oleh respons pemanasan udara oleh matahari yang berbeda di kedua titik tersebut. Mengingat sifat tersebut maka energi gelombang laut dapat dikategorikan sebagai energi terbarukan.

Berdasarkan perhitungan ini dapat diprediksikan berbagai potensi energi dari gelombang laut di berbagai tempat di dunia. Dari data tersebut, diketahui bahwa pantai barat Pulau Sumatera bagian selatan dan pantai selatan Pulau Jawa bagian barat berpotensi memiliki energi gelombang laut sekitar 40 kw per m.

Kecepatan arus pasang-surut di pantai-pantai perairan Indonesia umumnya kurang dari 1,5 m per detik, kecuali di selat-selat diantara pulau-pulau Bali, Lombok, dan Nusa Tenggara Timur, kecepatannya bisa mencapai 2,5 – 3,4 m per detik.

Arus pasang-surut terkuat yang tercatat di Indonesia adalah di Selat antara Pulau Taliabu dan Pulau Mangole di Kepulauan Sula, Propinsi Maluku Utara, dengan kecepatan 5,0 m per detik. Berbeda dengan energi gelombang laut yang hanya terjadi pada kolom air di lapisan permukaan saja, arus laut bisa terjadi pada lapisan yang lebih dalam. Kelebihan karakter fisik ini memberikan peluang yang lebih optimal dalam pemanfaatan konversi energi listrik.

Pada dasarnya, arus laut merupakan gerakan horizontal massa air laut, sehingga arus laut memiliki energi kinetik yang dapat digunakan sebagai tenaga penggerak rotor atau turbin pembangkit listrik. Secara global laut mempunyai sumber energi yang sangat besar yaitu mencapai 2,8 x 1014 (280 Triliun) Watt-jam. Selain itu, arus laut ini juga menarik untuk dikembangkan sebagai pembangkit listrik karena sifatnya yang relatif stabil dan dapat diprediksi karakteristiknya.

Sementara menurut Peneliti Puslitbang PLN, Zamrisyaf, seperti dirilis http://www.majalahtambang.com, potensi gelombang laut Indonesia sekitar 20-70 kWh/meter, dengan garis pantai sekitar 81.290 km. Jika bisa dimanfaatkan 10% saja, dapat menghasilkan 16 Giga Watt per jam atau setara dengan 61.000 Mega Watt.

Selain ramah lingkungan, Pembangkit Listrik Tenaga Gelombang Laut (PLTGL) merupakan pembangkit yang murah. Hanya dibutuhkan investasi US$2.000 per kilowatt untuk membangun pembangkit. Sayangnya kata Zamrisyaf lagi, hingga saat ini PLN belum bisa merealisasikan pembangkit ini.

Sementara Dr. Erwandi dari UPT Balai Pengkajian dan Penelitian Hidrodinamika BPPT menyebutkan, wilayah perairan Indonesia, terutama selat-selat yang menghadap Lautan Hindia dan Samudera Pasifik, memiliki arus laut yang kuat, dan cocok untuk pengembangan PLTGL.

Di wilayah NTB dan NTT misalnya, berdasarkan hasil riset yang dikembangkan BPPT, dari 10 Selat yang ada di wilayah itu diperkirakan bisa dihasilkan energi listrik hingga 3.000 MW. Sepuluh Selat itu adalah Selat Alas, Selat Sape, Selat Linta, Selat Molo, Selat Flores, Selat Boleng, Selat Lamakera, Selat Pantar dan Selat Alor.

Bila dari satu selat tadi dapat dipanen energi sebesar 300 MW, dengan dengan asumsi jumlah turbin 100 buah masing-masing sebesar 3 MW (turbine farm), maka bisa dihasilkan energi listrik hingga 3000 MW.

Di Indonesia sendiri masih cukup banyak selat yang belum terdeteksi potensi arus lautnya. Demikian pula dengan sungai yang sangat potensial untuk instalasi turbin arus laut. Dalam hitungan di atas kertas, diduga potensi arus laut di Indonesia menyimpan energi listrik hingga 6.000 MW.

Tentu masih banyak sumber energi lainnya yang bisa digarap sedemikian mungkin. Jika semua tergarap baik, maka tidak tertutup kemungkinan Indonesia akan mengalami surplus listrik.

Oleh karena itu, Indonesia harus menghidupkan kembali semangat gotong royong dengan pola tolong menolong, untuk menggarap semua sumber energi yang ada. Dikatakan tolong menolong, karena didalamnya ada nilai kejujuran.

Pemerintah ditolong masyarakat mengembangkan energi, sementara pemerintah menolong masyarakat dengan harga listrik yang makin murah. Disitulah letak kebersamaan dan saling menguntungkan.

Langkah bijak yang bisa diambil, dengan lebih meningkatkan peran swasta dalam menggarap sumber energi. Bahkan keterlibatan Perguruan Tinggi (PT) dalam menggarap sumber energi alternatif, bisa makin mempercepat Indonesia swasembada energi.

Pemerintah tentu bisa membagikan proyek pengembangan energi alternatif, pada semua PT yang memiliki jurusan elektro. Dengan sumber daya dosen dan mahasiswa yang banyak, bukan tidak mungkin mereka bisa menggarap semua potensi energi alternatif yang ada.

Jika PT yang memiliki potensi laut diarahkan pada PLTGL, maka yang tinggal di area daratan atau perbukitan bisa mengembangkan listrik tenaga hidro, tenaga angin, tenaga surya, tenaga sampah dan lainnya. Yakinlah, mahasiswa akan melahirkan teknologi baru, kalau mereka ditantang untuk itu.

Jika pemerintah memberikan kepercayaan besar pada PT, tentu mereka akan menjaganya dengan sebaik-baiknya. Bagi PT, keberhasilan mereka adalah jaminan mutu untuk dipilih oleh mahasiswa baru.

Apalagi dengan janji bagi keuntungan, akan membuat PT memberikan hasil terbaik. Pokoknya, asal kerjasamanya tidak untuk saling mengkhianati, berkah Allah pun akan turun dalam kerjasama itu.

Sudah saatnya pemerintah memanfaatkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang melimpah, untuk menggarap Sumber Daya Alam (SDA) yang juga melimpah. Buanglah sikap acuh dan tidak percaya, sehingga membuat potensi itu terabaikan.

Jangan tunggu dulu energi fosil sekarat, setelah itu baru kasak kusuk. Jika swasembada energi terwujud, masyarakat tentunya akan makin kreatif dalam berusaha.

Energi murah yang diberikan pemerintah, tentu akan mereka manfaatkan untuk berusaha. Perusahaan-perusahaan makanan juga bisa menerapkan biaya produksi rendah, sehingga hasil produk jadi lebih terjangkau.

Maka dari itu, jangan tunda lagi untuk menggarap semua energi alternatif yang ada. Marilah bersama-sama dengan semangat gotong royong, untuk memajukan sektor energi di Indonesia. ***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: