Oleh: hendrinova | Juni 27, 2011

>Sumber Daya Air dan Lingkungan Terjaga, Hidup Sehat Sejahtera

>Oleh Hendri Nova
Wartawan Harian Singgalang

Lama kelamaan, tingkat ketergantungan masyarakat perkotaan pada air bersih yang disuntikkan Perusahaan Air Minum (PAM) makin tinggi, bahkan bisa tak terlepas lagi darinya. Hal itu disebabkan oleh kondisi air tanah yang tak layak konsumsi.

Air tanah yang terus tercemar berbagai limbah, membuat masyarakat takut menggunakannya untuk kebutuhan sehari-hari. Jangankan untuk diminum, untuk dipakai mandi pun jadi berpikir sekian kali.

Air tanah tak lagi sehat. Kebanyakan tercemar tinja, limbah kimia, rembesan air laut dan sebagainya. Masalah itu terus menjadi penyakit akut, sehingga menimbulkan berbagai jenis penyakit.

Masyarakat hanya bisa bereuni, kalau mereka dulunya pernah menikmati air bersih dari sungai yang mengalir. Masyarakat di tepian Ciliwung misalnya, kini hanya bisa bernostalgia akan air bersih yang dulu sempat dinikmati.

Meski begitu, sebagian mereka ada yang nekad masih menggunakan air yang warnanya kuning untuk keperluan mencuci, mandi dan kakus. Mereka mencoba menutup mata, akan pentingnya air bersih bagi kehidupan.

Tentu tidak hanya di Jakarta, kota-kota besar lainnya di Indonesia hampir mengalami masalah serupa. Sungai-sungai kini banyak dijadikan tempat membuang sampah rumah tangga maupun tempat membuang kotoran.

Tak mengherankan jika sungai banyak diisi sampah plastik atau kotoran yang hanyut saban hari. Sungai tak lagi nyaman untuk dijadikan tempat-tempat mandi-mandi, sebagaimana dulunya.

Menurut Asian Development Bank (2008) sebagaimana dirilis idcreativity.blogspot.com, menyebutkan pencemaran air di Indonesia telah menimbulkan kerugian Rp45 triliun per tahun. Biaya yang ditimbulkan akibat pencemaran air, mencakup biaya kesehatan, biaya penyediaan air bersih, hilangnya waktu produktif, citra buruk pariwisata, dan tingginya angka kematian bayi.

Dampak lainnya yang tidak kalah merugikan dari pencemaran air adalah terganggunya lingkungan hidup, ekosistem, dan keanekaragaman hayati. Air yang tercemar dapat mematikan berbagai organisme yang hidup di air.

Kondisi ini tentu tidak boleh dibiarkan berlarut-larut dan harus diadakan gerakan menyelamatkan sumber daya air dan lingkungan. Pemerintah harus bertegas-tegas, menyelamatkan lingkungan dengan mengeluarkan Perda. Pelaksanaan harus diawasi, sehingga teraplikasi dengan baik sampai ke akar rumput.

Penyelamatan sumber daya air di daerah perkotaan sangat penting, karena banyak warga yang tidak peduli dengan hal itu. Keengganan membayar sedot WC, membuat banyak warga melobangi septic tank.

Alhasil, tinja mereka mengotari air tanah sehingga tercemar dan tak bisa lagi digunakan. Di pihak lain, lemahnya pengawasan pada perusahaan yang menghasilkan limbah dalam skala besar, juga membuat mereka curang dalam pengelolaan. Mereka ada yang meniru gaya penduduk, dengan melobangi bak penampungan. Akhirnya, air tanah makin tercemar.

Susahnya mendapatkan akses air bersih, juga disebabkan oleh lingkungan yang semakin terkontaminasi. Beragam pencemaran mengancam, baik pencemaran udara maupun pencemaran air sungai. Kondisi ini membuat sumber-sumber kehidupan di arena pendudukan menjadi kolaps, dan akhirnya air PAM menjadi solusi yang tak bisa tidak.

Sementara air bersih yang tersisa, ada di dalam hutan dan area pegunungan. Sumbernya sebagian besar masih terjaga, karena tak berhubungan langsung dengan pemukiman penduduk.

Sayangnya, hutan Indonesia juga mengalami ancaman kerusakan yang tidak sedikit. Sebagaimana dirilis http://www.walhi.or.id, temuan dari Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (Food and Agriculture Organization, FAO) melaporkan bahwa dalam periode tahun 2000-2005 Indonesia telah kehilangan hutan seluas 1,5 juta hektar per tahun.

Bahkan menurut Conservation International Indonesia dan WALHI (Wahana Lingkungan Hidup), laju kerusakan hutan Indonesia lebih dari 3 juta hektar per tahun, atau seluas 6 lapangan sepak bola per menit. Ini merupakan ancaman besar terhadap ketersediaan air bersih.

Pemerintah sebagai penguasa air seperti yang dimuat UUD’45 pasal 33, harus memberikan perhatian serius terhadap masalah ini. Pemerintah berkewajiban menyediakan air bersih pada rakyatnya agar makin sehat dan sejahtera.

Pemerintah mungkin harus meniru manajemen Aqua dalam memberikan air bersih pada pelanggannya. Pendekatan 9-5-1 yang dipegang Aqua, patut untuk ditiru.

Menurut Wahyu Triraharja, Water Resource Manager, Danone AQUA mengatakan, dalam diskusi panel di Rumah Imam Bonjol-Jakarta Selatan, Rabu (8/12/2010) lalu, Danone AQUA menggunakan pendekatan dan mengaplikasikan studi hidrogeologis (yaitu ilmu yang mempelajari penyebaran dan pergerakan air tanah di dalam tanah dan batuan) untuk melakukan seleksi sumber air.

Pertama, sumber mata air tersebut harus memenuhi sembilan kriteria yang sangat spesifik termasuk jumlah debit air, parameter fisik, kimia, biologi dan lain-lain. Jika kriteria awal tersebut telah terpenuhi, maka sumber mata air tersebut kemudian menjalani lima tahap penelitian, yang dimana biasanya untuk menentukan apakah sebuah sumber dapat menjadi sumber mata air Aqua dapat memakan waktu total lebih dari satu tahun. Jadinya pendekatan itu disebut 9-5-1, yang juga mengakibatkan tidak semua mata air pegunungan bisa menjadi sumber air AQUA.

Berdasarkan kriteria tersebut, katanya, Aqua mencari sumber dari lapisan air tanah dalam yang sifatnya tertekan artesis sebagai sumber air AQUA sehingga tidak mempengaruhi pasokan air permukaan yang dipergunakan oleh masyarakat maupun sumber-sumber air lainnya.

Jika pun tidak bisa memenuhi metoda 9-5-1, minimal ketersediaan air bersih sehat harus dijadikan sasaran. Pemerintah harus membandingkan besaran dana yang dikeluarkan yakni Rp45 triliun/tahun, yang mencakup biaya kesehatan, biaya penyediaan air bersih, hilangnya waktu produktif, citra buruk pariwisata, dan tingginya angka kematian bayi.

Coba bandingkan dengan biaya menyelamatkan air tanah, dengan membuat penampungan tinja milik pemerintah. Semua tinja dan limbah masyarakat diolah, menjadi pupuk atau sebagainya.

Dengan cara ini, tak hanya air tanah yang terjaga, namun juga bisa menjamin ketersediaan pupuk alami. Tanah tentu tak akan terkotori lagi oleh tinja dan limbah, dan pengeluaran pemerintah jadi berkurang.

Segala penyakit yang ditimbulkan oleh air tercemar tidak akan terjadi, dan itu berarti penghematan pada pengeluaran pemerintah. Masyarakat pun makin senang, karena pemerintah menunjukkan tanggung jawab sebagai penguasa. ***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: