Oleh: hendrinova | Juni 23, 2011

>Sukses Bersama Perubahan Abad 21

>
Perubahan dahsyat gaya hidup bangsa Indonesia di awal abad 21, ditandai dengan adanya 180 juta telepon seluler (ponsel) di saku mereka. Hampir separuh ponsel tersebut smart phone yang layak untuk berinternet.

Satu kemajuan yang tentunya membuat arus informasi gampang terserap dari kota hingga pelosok desa. Ponsel telah membuat masyarakat terpencil sekalipun, bisa mendapatkan informasi yang sama dengan mereka yang tinggal di kota besar.

Setiap kabar, perubahan, peristiwa atau apapun juga, gampang terserap oleh semua masyarakat. Kebebasan pers ikut mendorong arus informasi jadi milik siapa saja, tanpa ada batasan umur, pangkat atau ras sosial.

Komunitas alay, punk, underground atau lainnya, tidak hanya ada di kota, tapi tumbuh subur pula di kota. Narkoba dan minuman keras (miras) tak hanya konsumsi masyarakat kota, tapi juga konsumsi pemuda desa.

Sex bebas bukan hanya monopoli artis ataupun masyarakat individualis kota, tapi juga mewabah di desa. Jangan heran pula, jika beragam penyakit kelamin juga mulai terdeteksi di desa-desa.

Masyarakat dengan gaya hidup seperti ini, menjadi penopang ekonomi Indonesia yang sampai akhir tahun 2010 mencatatkan income/capita 3.000 dolar Amerika Serikat. Hidup konsumtif sudah menjadi bagian masyarakat, dengan fenomena kerakusan luar biasa.

Hampir setiap rumah kini memiliki motor dan ponsel. Pengeluaran mereka juga rutin untuk bensin dan voucher telepon. Sekali seminggu ada jadwal makan bersama dan keluar rumah ke tempat-tempat hiburan.

Gaya hidup premium dengan kegiatan rutin mencari info di Google, Yahoo, facebook, Wikipedia, Detik.com, Kompas Online, Kaskus dan lainnya, sudah jadi bagian pengisi hari. Bentuk persaingan berubah dan metoda mencari keuntungan juga ikut berevolusi.

Hampir semua acara kuis lebih mengutamakan kemudahan dalam memberikan jawaban, agar makin banyak pulsa konsumen yang terserap dalam nomor yang telah ditentukan. Alih-alih mendapat hadiah dari perusahaan yang mengadakan kuis, malah konsumen yang dijadikan ajang mendapat keuntungan lebih besar.

Jika total hadiah yang diberikan pada konsumen Rp1 Milyar, maka target keuntungan sudah dipatok perusahaan bisa samapi lebih Rp2 Milyar. Perusahaan yang menggelar kuis tak ada lagi kata rugi, malah dapat untung besar. Jelas tak ada apa-apanya dengan arisan, dengan sistem talang dana sementara.

Di sisi lain, juga bermunculan komunitas cracker yang jumlahnya terus bertambah seiring perputaran waktu. Keberadaan mereka tidak hanya bertujuan untuk memperbaharui organisasi atau perusahaan, tapi juga industrinya.

Banyak yang kaget dengan aksi mereka, sehingga menimbulkan aksi balasan. Langkah radikal, serangan radikal menjadi bagian yang saling mengisi. Mereka dengan gampang bisa menari dan berpesta di kebin-kebun anda, laksana tetangga yang seperti baik hati, namun sebenarnya seorang pencuri.

Buku berjudul ‘Cracking Zone’ ini merupakan buku terlaris di tahun 2011. Pertama kali dilempar kepasaran Januari 2011, sudah memasuki cetakan kedua di bulan Februari. Penulisnya Prof.Rhenald Kasali,Ph.D merupakan jaminan bagaimana bermutunya buku ini.

Prof.Rhenald Kasali,Ph.D adalah seorang guru besar di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI), pemikir sekaligus praktisi perubahan. Tulisannya mampu mengubah pikiran orang, sekaligus memperbaiki organisasi, perusahaan beserta kepemimpinan dan sikap karyawan.

Buku-bukunya dibaca oleh hampir semua CEO Indonesia, para pemimpin dan pendidik, serta pelaku perubahan. Seminarnya juga diminati oleh kalangan yang sangat luas.

Bukunya kali ini mampu membuka mata semua orang yang membaca, dengan dahsyatnya perubahan karena adanya ponsel, iPad, dan lainnya. Bagaimana grup musik Kangen Band mampu memutarbalikkan fakta, bahwa wajah tak selalu modal untuk sukses.

Ledakan Kangen Band membuat guncang publik Indonesia. Mereka dibenci anak-anak kelas menengah yang membawakan musik rock, hip hop atau lainnya. Mereka juga diboikot di dunia maya, dengan kata-kata rasis.

Namun mereka ngetop di industri CD bajakan, hingga akhirnya diangkat sebuah label. Musik mereka yang dianggap menghancurkan musik Indonesia malah disuka banyak orang. Mereka akhirnya harus diterima, bukan karena wajah yang oke, tapi karena lirik dan musik yang disuka jutaan orang.

Internet juga membuat banyak orang jadi Asri alias asik sibuk sendiri. Jika dulu mereka yang tertawa sendiri bisa dicap gila, sekarang tak lagi. Orang banyak tertawa sendiri karena aktivitasnya di jejaring sosial, bersama rekan komunitas yang ada di seluruh dunia.

Banyak juga yang bicara sendiri, tertawa dan menangis, dengan teman curhatnya di ponsel. Semua sudah menjadi fenomena biasa, dan tak ada lagi cemoohan sebagai orang gila.

Kemajuan teknologi informasi juga menghadirkan komunitas Alay (anak alay) dengan gaya lebay dan lainnya. Bahasa yang mereka gunakan membuat marah pecinta bahasa Indonesia, namun mereka sangat sulit untuk diberantas.

Mereka seolah-olah menantang penggiat bahasa Indonesia, apakah zaman yang harus menyesuaikan diri dengan bahasa, atau bahasa yang harus menyesuaikan diri dengan zaman. Tantangan itu belum dijawab pejuang bahasa Indonesia, karena bahasa Alay terus berkembang menekan bahasa pokem atau bahasa gaul yang mulai timbul dan tenggelam.

Buku ini akan membuka mata anda apa yang harus dilakukan di zaman sekarang. Fenomena operator XL yang mampu membuat gamang Telkomsel, juga diungkap luas dalam buku ini.

Rugi kalau anda tidak memilikinya, karena dikuatirkan tak mampu membuat proteksi. Pastikan buku ini anda baca dan miliki, karena manfaatnya sangatlah besar. Hendri Nova

Judul: Cracking Zone
Penulis : Prof.Rhenald Kasali,Ph.D
Penerbit : PT.Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : Kedua, Februari 2011
Tebal : 356 Halaman

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: