Oleh: hendrinova | Juni 23, 2011

>Mengendalikan Anak Jahil

>”Kenapa sih kamu jahil banget?”
Kata-kata di atas seringkali terlontar dari seorang anak yang sedang dijahilin, atau si ibu yang kebingungan mengatasi anak yang selalu jahil terhadap adik atau temannya.

Jahil memang satu perilaku anak yang terkadang dapat memicu pertengkaran orangtua dengan tetangga, atau antara bapak dan ibu. Apalagi kalau orangtua si anak jahil, suka membela anak dengan cara membabi buta. Pembelaan atas tindakan jahil tersebut, akan membuat si anak di atas angin, dan ingin mengulanginya kembali.

Sikap jahil sebetulnya suatu prilaku sianak, untuk menunjukkan egonya. Ia ingin diperhatikan atau rasa penasaran akan respon orang yang sedang dijahilinnya. Atau mungkin juga ia merasa senang apabila melihat orang menangis atau marah.

Selain pengungkapan ego, sikap jahil anak juga bertujuan untuk mendapatkan perhatian orang tua, teman atau lingkungannya. Bisa juga disebabkan oleh rasa cemburu pada saudaranya, terutama yang lebih diperhatikan oleh orang tua.

Bentuk kejahilan itu sendiri bermacam-macam, antaranya merebut, mendorong, memukul, menyembunyikan, mengejek dan cara lainnya. Semua tergantung pada pengalaman dijahilin yang pernah dialami sianak.

Sebenarnya anak jahil bisa diatasi, karena umumnya sifat jahil muncul karena anak menuntut perhatian. Jadi berilah selalu perhatian yang sama terhadap anak-anak, terutama jika punya anak dua atau lebih.

Luangkan waktu bersama dan selalu beri sianak pujian-pujian yang mendidik. Jangan sekali-kali mengatakan kepada sianak “kamu kok jahil banget”, “kamu kok nakal”, dan lain sebagainya. Hal itu akan membuat sianak makin mengulangi perbuatannya.

Cara tepat untuk menasehati adalah dengan kata-kata yang membuat sianak mengerti akan kasalahannya. Katakan kalimat seperti ini, “Mama sedih melihat kamu mengganggu adik, tuh lihat adik jadi menangis,” “Mama tidak suka, karena kamu anak pintar yang tidak suka mengganggu”.

Bisa juga dengan mengalihkan sifat jahil anak, menjadi perilaku yang baik. Misalnya, apabila anak mengucapkan kata-kata yang tidak baik, alihkan dengan perkataan yang baik-baik.

Begitupun dengan sikap memukul, tepis tangannya dan jelaskan bahwa tangan ini bukan untuk memukul tapi untuk menyayangi. Berikan pemahaman, bagaimana rasanya bila dijahili atau diganggu dengan perkataan yang dapat dipahami anak.

Sifat jahil mungkin juga didorong oleh rasa bosan, karenanya berikan aktivitas yang menyenangkan. Terutama kegiatan yang dapat menyalurkan energi anak dengan cara positif dan kreatif.
Kegiatan yang memungkinkan untuk itu, bisa berenang, menggambar, bermain permainan edukatif seperti menyusun balok, puzzle, dan lainnya. Semua itu akan menyita energinya, sehingga melengahkan dia dari aktivitas kejahilan.

Apabila anak sudah diberi penjelasan, namun masih saja mengulangi sikap jahilan, maka mulailah bersikap tegas dengan memberi sanksi. Tentunya bukan berupa hukuman fisik yang bisa berdampak buruk dan malah menambah kejahilan.

Cara terbaik bisa dengan menghentikan kesenangannya atau hobi yang sering ia lakukan. Hukuman tersebut perlu, agar anak mengerti mana prilaku yang benar dan salah.

Terlepas dengan cara-cara tersebut,orang tua juga perlu membekali anak dengan ilmu agama. Insyaallah, apabila anak sudah mengenal tuhannya, maka ia akan takut akan perbuatan salah yang ia lakukan.

Orangtua juga harus mencontohkan sikap-sikap baik dan selalu menanamkan prilaku yang baik kepada anak setiap hari. Insyaallah sifat jahil yang sering ditunjukan anak, perlahan-lahan akan berubah. Orangtua itu harus ingat, segala sesuatu itu butuh proses bukannya instan. Hendri Nova

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: