Oleh: hendrinova | Februari 14, 2011

>Kenali Narkoba, Musuhi, dan Jauhkan dari Kehidupan

>Oleh Hendri Nova
Wartawan Harian Singgalang

Yulia hanya bisa mengurut dana, ketika mendapat laporan anaknya tak sadarkan diri di pos ronda. Warga komplek perumahan yang kenal dengannya mengabarkan, anaknya habis mengisap lem, kemudian jatuh tergeletak di tempat ia diam-diam menikmati aroma lem kesukaannya.

Tidak ada yang bisa dilakukannya, selain menyuruh Adi, anaknya yang tertua untuk menjemput anaknya itu. Sepeninggal anaknya itu, ia kembali menangis menyesali nasib sebagai orangtua tunggal.

Yulia memang sudah lama ditinggal mati suaminya yang diagnosis dokter mati mendadak. Suaminya dikatakan mengalami penyumbatan di jantung, karena pengaruh rokok yang selama ini konsumsi. Setidaknya dua bungkus rokok berhasil dihisap suaminya setiap harinya.

Kedua putranya, ikut jejak ayahnya sebagai perokok. Jika anak yang pertama termasuk perokok berat, maka anak ketiganya lebih parah lagi. Ia mengaku kurang bisa mengontrol perilaku anaknya itu, karena harus banting tulang di pasar mencari nafkah.

Sebenarnya, anaknya yang bernama Aris, dulunya anak yang baik. Sewaktu masih tinggal di desa menemani sang suami menjadi guru, perilaku Aris masih dalam kendali. Namun takdir berkata lain, karena sang suami harus mendahuluinya karena wafat oleh serangan jantung.

Waktu itu, sang suami sudah membeli rumah di Padang. Mau tidak mau, ia harus hijrah ke Padang, menempati rumah yang telah dibelikan sang suami. Untuk beberapa waktu, ia hidup dengan uang pensiun suaminya.

Lama kelamaan, kebutuhan makin tinggi juga dan dana pensiun tak sanggup menutupi kebutuhan. Ia nekad menggadaikan SK suami ke bank, untuk mendapatkan modal kerja. Ia pun memilih berdagang barang-barang kebutuhan sehari-hari di Pasar Pagi Padang.

Sejak saat itu, ia jadi susah membagi perhatian pada kelima putranya. Ironisnya, anak ketiganya terjerumus pergaulan anak punk. Sejak kenal komunitas punk, anaknya itu kerajingan menyobek-nyobek pakaiannya.

Rambutnya dibuat ala mohank dan terkadang di cat. Ia sering pulang dengan mata sayu, seperti orang habis mengisap narkoba. Selidik punya selidik, selain menghisap ganja dengan teman-temannya, anaknya itu juga sering melampiaskan kecanduan pada lem, kalau tak ada uang.

Aris juga nekad mencuri uang dan harta beharga lainnya di rumah. Lemari Yulia sudah tidak bisa dikunci lagi, karena dibongkar secara paksa. Uang simpanan Yulia hilang, hingga akhirnya ia kesulitan membayar utang dagangan.

Kisah kehidupan Yulia, hanyalah sebagian kecil dari efek buruk narkoba yang bermula dari merokok. Akibat buruknya dialami Aris, di mana kini putus sekolah dan hidup tak menentu.

Jatuhnya Aris ke lembah narkoba, merupakan efek tidak langsung dari kebiasaan buruk sang ayah yang seorang perokok berat. Anak yang setiap hari melihat ayahnya rutin merokok, beranggapan hal itu suatu kebiasaan baik. Ia pun tidak takut meniru, karena toh orangtuanya juga melakukan hal yang sama.

Dari awal-awalnya mencuri-curi rokok orangtua, lalu meningkat memakai uang jajan sendiri dan akhirnya maling uang orangtua untuk merokok. Dari rokok itu pula, Aris awalnya mengisap ganja.

Semua karena ulah teman-temannya anak punk, yang mengerjainya saat minta rokok. Rupanya tembakau yang ada di rokok sudah diganti dengan ganja. Sejak saat itu, Aris menjadi ketagihan.

Jika dirunut dari asal muasal seorang anak terlibat narkoba, hampir semuanya berawal dari rokok. Jika anak tidak merokok, maka ia tidak akan terpengaruh pergaulan anak-anak yang tidak sehat.

Rokok sering mereka identikkan dengan cara pergaulan yang jadi tradisi. Mereka jelas salah, karena masih banyak media lain seperti buku, permen atau lainnya, sebagai bahan untuk mencari pertemanan sehat.

Oleh karena itu, agar keluarga terlindungi dari narkoba, tidak ada jalan lain selain menjadikan rokok musuh keluarga. Jangan biarkan rokok masuk ke rumah, meski dari tamu sekalipun. Cegah tamu merokok, dengan cara baik-baik sehingga ia tidak tersinggung.

Tidak salah kiranya, jika rokok dimasukkan kategori haram. Jadi paham ini harus dicamkan pada anak-anak, selagi ia masih kecil. Ia harus memusuhi rokok, sehingga tidak ada keinginan untuk mencoba.

Sedari kecil, sang anak sudah dikenalkan dengan unsur-unsur pembentuk rokok, zat-zat berbahaya yang terkandung didalamnya, sampai akibat yang akan ditimbulkannya. Paling bagus pendidikan dasar narkoba disertai gambar.

Bahkan kalau ada rekaman video penderita narkoba, tentu akan lebih baik lagi. Apalagi kalau ada video yang menampakkan akibat dari merokok, yang menguraikan satu persatu zat yang dikandung didalamnya, tentu lebih sempurna.

Misalkan, saat seseorang merokok, dalam tubuhnya langsung dipenuhi beragam zat berbahaya. Dalam video tersebut, hendaknya diuraikan kemana sasaran masing-masing zat tersebut, sampai mencapai anti klimaks.

Dengan diiringi efek musik yang mengerikan, dan akhir yang dibuat setragis mungkin, tentunya akan ada kengerian besar dalam diri sang anak. Dalam dirinya akan muncul tekad, untuk tidak akan merokok selamanya.

Anak yang tidak merokok, dengan sendirinya akan menghindari berteman dengan para perokok. Informasi tentang bahaya perokok pasif, akan selalu diingatnya kala akan berteman dengan perokok.

Jika dia tidak merokok, temannya pasti para hobis bidang lain. Bisa saja kelompok pecinta buku, game atau lainnya. Ia pun akan menjauhi minuman keras, karena juga sudah tahu informasi akibatnya sedari kecil.

Selain itu, dengan memperkuat ilmu agama sang anak, juga akan makin menjauhkannya dari narkoba. Apalagi kalau ia sampai mengidolakan Rasulullah Muhammad SAW yang bukan perokok, tentunya ia akan aman dalam pergaulan.

Perpaduan ilmu agama yang dibungkus dengan ilmu kesehatan ini, akan membuat sang anak menjauhi narkoba dimana pun ia berada. Walau jauh dari orangtua, ia tidak akan berani coba-caba mengkonsumsi narkoba.

Ia telah menjadikan Allah beserta malaikatnya sebagai penjaga. Pada akhirnya, kemanapun ia pergi, akan tetap merasa diawasi dan dalam lindungannya.

Sementara terkait faktor lingkungan yang selama ini banyak menjerumuskan anak-anak, maka hal ini memerlukan satu kesepakatan bersama antar keluarga-keluarga tempat bermukim. Berembuklah dengan semua kepala keluarga, agar bisa menjaga lingkungan dari narkoba.

Kalau punya ketua RT yang peduli pada narkoba, maka siskamling jadi perlu digalakkan, untuk mengamankan kampung atau komplek perumahan dari narkoba. Berilah hukuman paling berat pada warga yang coba memakai dan mengedarkan narkoba.

Keberadaan perumahan anti narkoba, tentunya akan makin mantap jika digalakkan pula antar kecamatan. Dalam hal ini, bupati atau walikota kalau dapat harus mengadakan pemilihan kecamatan terbaik dalam penanganan narkoba. Adanya apresiasi dari Pemda, tentu akan menambah semangat warga.

Jika dilingkungan kecamatan sudah menjadi budaya, maka perlombaan tingkat kabupaten/kota juga layak untuk diadakan. Dalam hal ini, penghargaan dari gubernur sangat mengambil peranan. Sehingga pada akhirnya nanti, semua kabupaten/kota terbebas dari narkoba.

Untuk tingkat provinsi, tentunya juga perlu penghargaan berupa provinsi anti narkoba dari presiden. Predikat hanya bisa diberikan pada gubernur yang benar-benar berhasil menghilangkan narkoba dari daerah kekuasaannya.

Program ini memang tampaknya sedikit susah, namun akan jadi gampang jika dimulai dari sekarang. Didikan tentang narkoba harus masuk kurikulum sekolah, dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sampai Perguruan Tinggi (PT).

Jika di setiap bangku sekolah anak-anak dididik untuk anti narkoba, maka ia akan menghindari narkoba selama hidupnya. Oleh karena itu, peran keluarga, sekolah dan lingkungan amat menentukan.

Lebih penting lagi akan adanya pengetahuan tentang ilmu agama, plus ilmu kesehatan dan kewirausahaan, akan makin menjauhkan anak dari narkoba. Menyalurkan bakat anak pada hal-hal positif, akan menyibukkannya dan mampu melupakan pada kebiasaan-kebiasaan buruk.

Yakinlah, tidak akan ada lagi anak punk di lingkungan masyarakat, jika mereka memiliki ilmu tentang narkoba. Eksesnya juga akan tampak pada banyaknya anak-anak yang taat pada agama dan anti narkoba.

Oleh karena itu, orangtualah yang pertama kali harus menyatakan perang pada narkoba. Janganlah ada lagi ayah yang menghisap rokok di depan anak-anaknya. Jangankan merokok, bungkusnya saja jangan sampai terlihat oleh anak.

Gerakan ini harus dilakukan bersama, untuk menuju Indonesia sehat di masa mendatang. Jika Indonesia sehat, bangsa ini akan menuju era kejayaan di masa mendatang. ***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: