Oleh: hendrinova | Februari 14, 2011

>Akhir Manis Penderitaan

>
Firman benar-benar tidak akan tahu latar belakang kehidupannya, jika lelaki yang dianggapnya ayah selama ini, Burhan, tidak meninggal dunia. Firman merasa kehidupannya oleng, begitu mengetahui siapa lelaki yang telah merampas kebahagian dari kehidupannya.

Ia ternyata anak orang kaya, korban dari gerombolan Burhan yang telah membunuh kedua orangtuanya. Namun Firman tak bisa menaruh benci apalagi dendam pada Burhan, karena berkat ayah angkatnya itulah, ia selamat dari amukan api dan dibesarkan layaknya anak sendiri.

Awalnya mereka berdua tinggal di hutan, dengan mengandalkan hidup dari hasil bercocok tanam. Namun seiring dijadikan daerah itu sebagai daerah transmigrasi, kawasan itu menjadi lebih ramai. Walau antara daerah transmigrasi dan tempat tinggalnya, dibatasi sungai yang terkadang berair deras.

Hingga suatu hari, ayah angkat Firman muntah darah dan sebelum ajal menjemput, ia menceritakan asal usul Firman. Sejak saat itu, Firman hidup sebatang kara, dan gairah hidup tercerabut dari dirinya.

Ia pun banyak menangis di pusara ayah angkatnya, sampai akhirnya ia dicap gila oleh warga transmigrasi. Penderitaannya bertambah, di kala ia menolong anak perempuan Pak Salim yang terjatuh di jalan.

Firman dituduh berbuat tak senonoh dan hujanan hinaan serta pukulan mendarat di tubuhnya yang ceking. Ia pun diusir bak anjing buduk, dan akibat pukulan itu, ia hanyut di sungai tanpa sadar.

Untunglah ia ditemukan Budiman, direktur di perusahaan minyak. Kisah nasibnya yang tragis, membuat ia diangkat sebagai anak oleh keluarga Budiman.

Sayang kebahagiannya sebagai bagian dari keluarga Budiman tak berlangsung lama. Setamat SD, ia harus kehilangan ayah angkatnya yang kedua, karena kecelakaan kerja. Setelah itu, Firman harus kehilangan ibu angkatnya, yang dibawa anggota keluarganya ke Medan. Firman kembali sebatang kara.

Ia pun memutuskan merantau ke Tanah Jawa dengan berbekal seadanya. Berbagai kejadian ia alami, hingga ia tak sengaja menghina kuburan Sunan Ampel.

Dari mimpi bertemu sang sunan, ia diberitahu kalau ia termasuk dalam garis keturunan Sunan Kalijaga. Ia juga disebut sebagai kader dakwah, yang akan meneruskan syiar Islam.

Novel berjudul Umang ini, sarat pesan moral akan semangat bangkit dari derita yang menimpa. Jelas mengandung motivasi hebat bagi semua pembaca.

Mungkin anda yang menjadikan kemiskinan sebagai alasan tidak bisa sekolah, menjadi malu setelah membaca buku ini.Lihatlah perjuangan Firman yang sungguh-sungguh, sehingga akhirnya bisa melanjutkan kuliah ke Qatar. Muhammad Hamdi Naufal

Judul: Umang
Penulis :Ferry Irawan. AM
Penerbit :DIVA Press
Cetakan :Pertama, Juni 2009
Tebal :356 Halaman

Iklan

Responses

  1. ajaib! Sungguh nalar pendalaman baca saudara. Dan… detail dalam singkat. saya bangga dengan Anda.

    • tq fery… saya belum sehebat itu…

  2. novel ini pertama dari triloginya: Umang (Diva Press), Tuah (Elsyarif) dan Puyang Keramat ( Akan terbit)

    • kalu gitu ditunggu kitiman novel tuah ya n puyang keramat…
      soalnya belum dikirim Diva tuh…
      kalo ngak bisa dikirimin, terpaksa tunggu lama…
      di gramedia padang belum ada…mungkin ya…
      kalo dikirim, ntar diresensi lagi deh… tq ya bro…..

      • Tuah kayknya udh ada. ok, tlg alamat lgkapnya, insyaallah kt krim

  3. Bg, masih ade kah novel tu ? Saye nak beli untuk kajian proposal saye..

  4. Bg, masih ada novel nya ? Saye nak beli, untuk kajian proposal saye..

    • coba lihat di toko buku online ya….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: