Oleh: hendrinova | Oktober 21, 2010

Abrasi parah Melanda Pesisir Sumatra Barat

Padang, Singgalang
Akibat abrasi yang terus melanda Pantai Kota Padang, warga jadi kehilangan tempat bermain di laut. Apalagi jika bicara sampah, main rumah-rumahan di bibir pantai yang sering dilakoni anak-anak, jadi tak nyaman lagi.

Dulu sebelum batu grib dipasang Pemko Padang, hampir tiap air pasang warga takut. Air menghempas-hempas tepat di dekat dapur penduduk. Jika sudah begitu, tak ada jalan lain selain harus mengungsi.

“Batu grib sangat membantu, sehingga ada rasa nyaman tinggal di bibir pantai. Walau saat pasang batu tersebut dilompati air, tapi tak terlalu berbahaya,” kata Ani, warga Patenggangan Air Tawar Padang kepada Singgalang, terkait abrasi pantai.

Kini ia hanya mewaspadai angin kencang yang sewaktu-waktu bisa saja mengganggu kenyamanan. Keberadaan batu grib bagi warga sekitarnya, benar-benar telah menghentikan proses abrasi yang selalu saja terjadi sepanjang tahun.

Lain lagi cerita Wardi, warga Pantai Api-Api Bayang Pesisir Selatan. Pemda setempat masih rela melihat warganya terkena abrasi di sepanjang tahun.

Niat baik Pemda dengan menanam pinus, ternyata tak mampu melawan ganasnya ombak pasang. Kini perumahan mereka terancam, dan ombak semakin dekat dengan pinggir jalan.

“Entah kapan Pemda Pessel membuatkan kami grib seperti yang ada di Pantai Padang. Entah apa lemahnya bupati kami, sehingga ia merasa tak berdaya menakhlukkan ombak pasang. Ia tega melihat warga miskin disapu gelombang di setiap tahunnya,” katanya.

Padahal dari segi material untuk membuat grib, Pessel mempunyai banyak batu-batu besar. Semua hanya terpulang pada niat baik pemda, dalam rangka melindungi warganya yang terancam gelombang.

Ia bercerita, kalau dulunya kehidupan di bibir pantai sangatlah nikmat. Warga setelah shalat Zuhur, akan ramai-ramai menuju muara Api-Api, untuk mencari remis dan lokan. Sorenya, mereka pulang dengan membawa bahan untuk disambal esok hari.

Harmoni indah itu kini hilang karena abrasi pantai. Muara Api-Api sudah hilang karena abrasi. Hanya sungai kecil yang tersisa, dengan tingkat polusi yang tinggi. Remis dan lokan tak lagi ada, begitu juga ikan yang jarang sekali ditemukan.

Banyak kenangan masyarakat yang kini habis oleh abrasi. Adapun Pemda Pessel dari tahun 80-an sampai sekarang, hanya berdiam diri melihat kenyataan ini. Walau berganti gubernur, tak ada satupun yang menjadikan abrasi sebagai prioritas untuk ditanggulangi. Hendri Nova

Iklan

Responses

  1. masyarakat api-api jangan terlalu berharap dari pemkab pessel, krn pemkab pesseltdk menghiraukan keluhan masya pinggir pantai


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: