Oleh: hendrinova | Oktober 18, 2010

Makanan Berkode E, Wajib Diwaspadai

Beragam jenis makanan kini beredar di sekitar manusia. Makanan-makanan dalam kemasan tersebut, rata-rata mengandung zat berkode E. Biasanya ada juga dicantumkan dengan nama “Food additive” (zat tambahan makanan).

Food additive dulunya diistilahkan sebagai bahan asing dalam makanan. Pengujian toxikologis/keracunan bahan ini, semula boleh langsung dilakukan oleh produsen (perusahaan pembuat). Namun hasil yang ditampilkan tentunya disesuaikan dengan tujuan ekonominya, hingga tidak jarang perobahan dalam temuan
hasil, berlawanan.

Di negara-negara Eropa tahun 1967, 45 zat-zat pewarna buatan dipasarkan, 9 tahun kemudian 8 jenis diantaranya dilarang lagi. Bahkan pada negara tertentu, semua pewarna buatan dilarang
karena merusak kesehatan.

Hingga tidak heran, mengapa begitu banyak zat tambahan yang diizinkan ini, setelah pengujian kembali melalui Labor-labor bebas/indepedent beberapa tahun kemudian, dilarang lagi.
Walaupun sejak 1981 (diperbarui 1993) bahan-bahan ini telah harus dicantumkan pada kemasan makanan, namun pembeli tidaklah tahu jumlah yang ditambahkan pada makanan yang tertera pada etiket. Sekaligus tentu juga tidak tahu gangguan kesehatan dari beberapa zat tambahan itu.

Semula Kode E untuk beberapa negara Eropa berbeda-beda peraturannya. Jerman misalnya masih banyak batasannya, hingga sering timbul pertentangan dengan EG (Masyarakat Eropa) yang melakukan pengesahan dimana sebelumnya tidak dibolehkan. Dan sejak EG pula, batasan inipun mulai longgar kembali, melalui
perdagagan tanpa batasnya.

Untunglah masih banyak lembaga institut penelitian yang rajin melakukan uji laboratorium, dan media yang selalu kritis memberikan kontrol baik untuk konsumennya. Karena walau bagaimanapun juga, bahan-bahan ini tidak bisa dipisahkan dengan kehidupan modern serba praktis di berbagai negara.

Food additive dalam daftar Kode E, biasanya dikelompokkan atas 18 bagian. Ia sering digunakan sebagai pengawet, pewarna, antioksidan, pemadat tekstur, emulgator, pengasam, pengatur keasaman, penguat rasa, pengganti gula, pelembut/pegempuk dan lainnya.

Di antara bahan-bahan di atas, tidak semuanya membahayakan kesehatan. Walau begitu, tentu ada beberapa bahan yang perlu diperhatikan, terkait halal dan haramnya. Semua tergantung pada bahan dasar/asal pembuatnya.

Sebagian bahan berkode E, masih dalam tahap percobaan pada hewan skala Laboratorium. Sayangnya, kebanyakan pengujian Laboratorium dilakukan masih pada tingkat penggunaaan satu jenis zat saja. Padahal makanan yang sering dikonsumsi, bisa mengandung 4-6 jenis zat tambahan berkode E. Tentu resikonya bisa jadi lebih berlipat ganda.

Tahap awal, gejala yang timbulkan rata-rata dalam bentuk alergi. Gejala ini tergantung pada spesifikasi sifat tubuh seseorang, dan jelas juga tidak sama pada setiap orang. Sebagian alergi bisa tidak berakibat apa-apa, namun bisa sangat berbahaya bagi sebagian lainya, walau hanya sedikit saja.

Penderita asma misalnya, walau dalam dosis kecil bisa berakibat fatal. Food additive yang sifatnya berbahaya atau diragukan ini, efeknya ada yang tidak langsung. Ia baru menyerang tubuh, setelah sekian lama dikonsumsi.

Saat tubuh sudah kewalahan dalam menetralisir bahan yang bersifat racun, maka berbagai penyakit dengan mudah akan menyerang. Soalnya, tidak semua racun makanan bisa dikeluarkan sepenuhnya oleh tubuh manusia.

Agar terhindar dari makanan berkode E, baiknya beralih kemakanan alami. Jika bisa membuat sendiri, maka baiknya dibuat saja. Jika kangen memakan makanan tersebut, usahakan tidak sering-sering. Satu kali seminggu cukuplah, dan biarkan tubuh menetralisir racunnya.

Tentu saja daya tahan tubuh juga harus bagus, agar kuat membuang racun. Memakan makanan berkhasiat obat seperti daun pepaya, jeruk atau lainnya, tentu bisa membantu memperkuat imunitas tubuh. Hendri Nova dari berbagai sumber

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: