Oleh: hendrinova | Oktober 18, 2010

Diversifikasi Pangan untuk Kemakmuran Indonesia

Oleh Hendri Nova

Makin menyempitnya areal pertanian di Indonesia, mengancam ketersediaan pangan masyarakat. Tingginya ketergantungan pada beras, kini berhadapan dengan alih fungsi sawah menjadi areal perumahan, industri atau lainnya.

Menurut data yang dirilis http://www.detikfinance.com, luas lahan pertanian di Indonesia terus berkurang setiap tahunnya. Bahkan menurut Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Rusman Heriawan, sebanyak 27 ribu hektar lahan pertanian berkurang di Indonesia setiap tahunnya, dan dialihfungsikan untuk kepentingan lainnya. Penurunan terbesar terjadi di Jawa Barat dan Nusa Tenggara Barat.

Jika alih fungsi lahan ini tidak segera diatasi dengan pembukaan lahan baru, maka di masa depan akan terjadi kekurangan beras yang menghebohkan Indonesia. Kondisi rawan pangan akan mengulang sejarah turunnya rezim penguasa dari kursinya.

Pada tahun 1966 lalu, salah satu amanat Tritura adalah turunkan harga (beras)! Sukarno akhirnya jatuh dengan andil yang cukup signifikan dari keadaan perberasan.

Demikian juga dengan pemerintahan Soeharto jatuh karena dipicu oleh anomali iklim yang menyebabkan turunnya produksi beras dan melonjaknya harga beras sampai tiga kali lipat! Pemerintahan Amangkurat I di Mataram diperkirakan juga jatuh karena masalah pangan, khususnya beras, karena anomali iklim (masa paceklik yang panjang) yang menyebabkan kurangnya penyediaan beras pada zaman itu (http://www.gizi.net).

Sejarah tentu akan berulang, apabila masalah ini tidak juga dicarikan jalan keluarnya. Apalagi dengan pertambahan penduduk Indonesia yang tinggi, membutuhkan ketercukupan pangan.

Sebagaimana dilansir http://www.klipberita.com, jika Program KB gagal, maka penduduk Indonesia di Tahun 2015 akan menembus angka 264 Juta. Namun kalau berhasil, maka jumlah penduduk di tahun yang sama menjadi 237 juta jiwa.

Indonesia tentunya harus menyiapkan ketahanan pangan dari segi beras. Kalau itu tidak dilakukan, maka bencana besar tentu akan terjadi di tahun 2015.

Tentu bukan tidak ada jalan keluar dari masalah pemberasan ini. Salah satu cara yang bisa ditempuh, dengan melakukan diversifikasi pangan.

Diversifikasi pangan adalah kegiatan dan/atau serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk menghargai keragaman budaya pangan, termasuk pola pangan, dan penghargaan atas keragaman sumber daya pangan. Dengan demikian, diversifikasi tidak hanya sekadar mengubah pola pangan dan meningkatkan kualitas konsumsi pangan, tetapi juga mencakup aspek-aspek penghargaan terhadap keragaman budaya nusantara. Diversifikasi diselenggarakan untuk memaksimalkan pemanfaatan keragaman sumber daya pangan, kelembagaan dan budaya lokal serta untuk meningkatkan kualitas konsumsi masyarakat (http://www.gizi.net).

Diversifikasi pangan akan membuat masyarakat tidak lagi terfokus pada beras sebagai bahan kebutuhan sehari-hari. Mereka akan memandang pangan tidak hanya beras, tetapi juga segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati dan air, baik yang diolah maupun tidak diolah, sebagai makanan atau minuman bagi konsumsi manusia.

Dengan demikian, cakupan pangan sangat luas, tidak hanya dihasilkan dari tanaman pangan (atau bahkan beras saja), tetapi hortikultura, peternakan, perikanan dan kehutanan dan hasil-hasil industri pangan. Masyarakat tentu harus membiasakan diri dengan pola makan baru, dengan tidak terfokus pada beras lagi.

Pemantapan ketahanan pangan, harus dilakukan dengan cara mengutamakan produksi dari dalam negeri, dan menjamin tersedianya pangan dan nutrisi dalam jumlah dan mutu yang dibutuhkan pada tingkat harga yang terjangkau. Selain itu dengan mengandalkan keunggulan keragaman sumber daya bahan pangan, kelembagaan dan budaya (termasuk budaya dan kebiasaan pangan) lokal dan peningkatan pendapatan petani dan nelayan.

Agar program diversifikasi pangan sukses dilakukan, maka pemerintah harus merangkul pelaku usaha dalam upaya mempercepatnya. Pola pikir masyarakat harus diubah, sehingga mereka tidak memandang makan nasi sebagai suatu kewajiban.

Lewat iklan-iklan di televisi oleh perusahaan swasta, tentunya program ketahanan pangan bisa mencapai targetnya. Masyarakat akhirnya memiliki banyak alternatif untuk mengenyangkan perut, dan tak lagi mengatakan nasi sebagai satu-satunya.

Kurangnya ketergantungan pada beras, dengan sendirinya akan mengurangi beban pemerintah untuk menyediakannya. Masalah kekurangan lahan tentu tak perlu lagi dirisaukan, karena masyarakat menjadi tidak begitu bergantung pada beras.

Pemerintah juga harus memberikan edukasi pada masyarakat, bahwa mengkonsumsi nasi secara berlebihan juga berbahaya bagi usus. Nasi yang bersifat lengket, tidak semuanya mampu dikeluarkan ampasnya oleh tubuh. Sisanya akan lengket di usus, dan bisa menyebabkan beragam penyakit.

Untuk menerangkan hal ini, maka tim kesehatan dan gizi juga harus dirangkul. Bersama mereka, tingkat kepercayaan masyarakat bisa menjadi lebih tinggi.

Pelaku usaha perfilman juga harus ikut serta mengkampanyekan hal ini dalam film produksi mereka. Kalau bisa nasi tidak lagi disertakan dalam menu makan. Kalaupun ada, fokuskan pola makan pada makanan lain.

Memang bukan sesuatu yang gampang mengubah pola makan masyarakat. Semua berawal dari didikan orangtua semasa kecil. Oleh karenanya, orangtua harus ikut diberi didikan, akan pentingnya pengenalan jenis pangan lainnya selain beras.

Sejak balita, anak sudah perlu dikenalkan pada pangan nonberas atau penganekaragaman (diversifikasi) pangan , seperti sagu, jagung, ubi, singkong, talas, pisang, dan lain-lain. Sumber pangan tersebut bisa disajikan dalam pelbagai bentuk makanan dengan cita rasa, warna, aroma, dan bentuk menarik. Tujuannya, supaya kita tidak terus tergantung pada beras.

Contoh sumber karbohidrat dari serealia adalah jagung, jali, jawawut, gandum, dan sorgum (cantel). Contoh umbi-umbian: uwi, ganyong, gadung, gembili, garut, sente, suweg, singkong, talas, ubi jalar, dan kentang, sedangkan buah-buahan yaitu pisang, sukun, dan nangka muda.

Untuk memudahkan penerimaan masyarakat, sebaiknya bahan-bahan tersebut ditepungkan terlebih dahulu. Dari bahan tepung selanjutnya dapat dikembangkan menjadi berbagai makanan olahan, misalnya roti, biskuit, makaroni, mi, keripik, bubur, serta aneka macam kue.

Ikut terlibatnya pelaku usaha, tim kesehatan dan lainnya dalam mempercepat upaya diversifikasi pangan, akan membuat Indonesia makmur di masa depan. Indonesia tidak perlu lagi membeli beras dari negara tetangga, karena jumlahnya sudah mencukupi bagi seluruh rakyat Indonesia.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: