Oleh: hendrinova | September 6, 2010

Pendidikan Karakter Berbasis Ajaran Ki Hajar Dewantara di Era Globalisasi

Oleh Hendri Nova*

Setelah sekian lama terperangkap dalam program meloloskan anak didik 100 persen dalam Ujian Nasional (UN), pola pendidikan Indonesia kembali melirik ke zaman dahulu. Itu terjadi setelah pendidikan zaman modern, tidak berhasil membentuk jiwa anak yang berkarakter (berbudi pekerti luhur).

Siswa lebih suka tawuran ramai-ramai, daripada belajar diskusi ramai-ramai. Siswa lebih senang menantang sekolah lain adu fisik, daripada mengadu isi kepala.

Tawuran yang mereka lakukan, tidak sekedar memberi pelajaran pada lawan, tapi juga meningkat pada penghilangan nyawa. Lihat saja senjata yang mereka bawa untuk tawuran, rata-rata dari logam yang berpotensi membunuh lawan.

Perangai siswa makin meningkat, seiring majunya teknologi seluler. Bukannya memanfaatkan kamera Hand Phone (HP) untuk berkreasi seperti duo lipsync Keong Racun Sinta dan Jojo, mereka malah merekam perbuatan tidak senonohnya dengan sang pacar.

Gambar yang mereka rekam, secara tidak sengaja tersebar ke HP lain, dan akhirnya membuat geger. Tidak sedikit anak didik yang kesandung masalah video porno, karena kebebasan mereka terhadap akses teknologi.

Jika siswa-siswa itu berbudi pekerti luhur/berkarakter, tentu mereka akan menggunakan segala teknologi yang ada, untuk menunjang kemajuan pendidikan. Mereka bisa merekam hasil karyanya, dan kemudian memperoleh hasil darinya.

Sayang mereka tidak memiliki karakter, sehingga apapun yang ada saat ini, lebih banyak digunakan ke arah negatif. Hasilnya, jika mereka jadi artis seperti Ariel Peterpan, mereka berpotensi pulamengulang dosa yang sama.

Memang tidak ada kata terlambat, untuk memperbaiki sesuatu yang telah berjalan salah. Ibarat berjalan, kalau memang sudah tersesat, jangan malu untuk menyusuri lagi jalan yang telah di tempuh di belakang. Dengan cara itu, maka akan ditemukan jalan lain yang lebih terang.

Jika pendidikan Indonesia kembali menjadikan pendidikan karakter menjadi tujuan, maka hasil cemerlang bisa dipetik dikemudian hari. Jiwa yang dibangun dengan karakter kuat, tidak gampang terayu oleh hal-hal negatif.

Hal ini sejalan dengan konsepsi dasar pendidikan yang diletakkan oleh Bapak Pendidikan Nasional Ki Hajar Dewantara, bahwa pendidikan berarti daya upaya untuk memajukan budi pekerti (kekuatan batin), pikiran (intellect), dan jasmani anak-anak, selaras dengan alam dan masyarakatnya (Dewantara, 1967, http://kampus.okezone.com).

Anak didik yang memiliki karakter, mampu meniru ilmu ikan. Walau ia hidup di lingkungan asin, ia sedikitpun tidak tercemar. Ia tetap bisa mempersembahkan daging yang manis pada manusia, walau hari-hari dikelilingi lingkungan yang asin.

Begitu juga manusia dengan karakter kuat. Ia tidak akan mudah melakukan korupsi, karena merasa ada Allah yang selalu memantau perbuatannya. Ia menjaga diri seperti menjaga puasa Ramadhan, agar tidak rusak dari segi nilai dan kewajibannya.

Seperti puasa, hanya yang bersangkutan dan Allah saja yang tahu, bahwa ia telah mengkorupsi setetes air saat berwudhu. Atau saat ia mencuri kesempatan makan di kamar, tanpa seorang pun tahu ia telah makan kenyang.

Puasa adalah rahasia antara Allah dan makhluknya. Tidak salah Allah berujar, kalau puasa itu untuk-Ku. Karena Allah saja yang tahu nilai dan kadar puasa seorang anak manusia.

Saat seseorang yang memiliki karakter melakukan korupsi, ia cepat sadar kalau Allah akan menghukumnya, sehingga akhirnya tidak jadi ia lakukan. Begitu juga saat berbuat mesum dengan pasangan, tidak jadi dilakukan walau kesempatan untuk itu terbuka lebar.

Inilah jiwa yang punya karakter, tidak gampang terbawa arus yang menghadang. Ia teguh bak batu karang, dan istiqamah seperti matahari. Batu karang tegar di timpa ombak, sementara matahari tidak mempermasalahkan awan yang menghalanginya menyinari bumi.

Berkat keistiqamahannya, awan menghindar dan bumi kembali disinari cahaya. Begitu pulalah sosok manusia berkarakter, ia akan istiqamah memegang nilai-nilai kebaikan, walau nyawa harus jadi taruhannya.

Untuk menanamkan nilai-nilai pendidikan karakter ini, Bapak Pendidikan Nasional Ki Hajar Dewantara, telah memberi ajaran terbaik. Ki Hajar Dewantara gigih memperjuangkan pentingnya pendidikan bagi anak bangsa, sejak zaman penjajahan.

Gagasannya tentang pendidikan melalui ajaran ing ngarso sung tulodho, ing madya mangun karsa serta tut wuri handayani, maupun konsepnya tentang Niteni, N iroake dan Nambahi masih tetap relevan sampai sekarang. Kalau kembali dipelajari, maka Indonesia bisa kembali jadi bangsa bermartabat.

Pendidikan karakter dan moral pada dasarnya adalah “to guide the young towards voluntary personal commitment to values”, pekerjaan membimbing generasi muda untuk secara sukarela mengikatkan diri mereka kepada norma-norma atau nilai-nilai (Philip H Phenix, 1964). Yang penting di sini ialah bahwa “commitment to values” atau pengikatan diri kepada nilai-nilai harus terjadi secara sukarela, harus tumbuh dari dalam, dan bukan karena ancaman atau ketakutan kepada sesuatu di luar hati.

Dengan kerelaan tersebut, nilai-nilai moral diharapkan akan tercermin dalam akhlak kehidupan sehari-hari. Hal ini menuntut kreativitas dan pengayaan program pengajaran melalui berbagai kegiatan yang aplikatif dan tepat sasaran dalam menuntun akhlak sehari-hari peserta didik. Pengembangan “kantin kejujuran” di sejumlah sekolah misalnya, merupakan bentuk terobosan kegiatan pendidikan moral.

Di sejumlah madrasah bahkan telah pula dikembangkan “kelas kejujuran” di mana siswa terbiasa mengerjakan soal-soal ujian tanpa pengawasan guru. Jika hal ini menjadi kesadaran kolektif, kita niscaya tidak akan mendengar lagi “perburuan bocoran kunci jawaban” di setiap ujian nasional (UN) dan dalam jangka panjang dapat membangun karakter moral yang kuat.

Pelajaran agama yang menjadi pijakan utama pendidikan moral misalnya, tidak boleh dikesankan sebatas penyampaian doktrin-doktrin agama. Juga tentang halal-haram, tata cara ibadah berikut pahala-surga dan ancaman dosa-neraka, tetapi harus banyak berbicara dimensi pemaknaan yang mengajak peserta didik meraih kesadaran (conscience) terhadap nilai.

Unsur-unsur ajaran agama menyangkut ibadah dan hukum-hukum agama, tentu saja harus disampaikan. Tetapi tidak boleh dilupakan, bahwa tujuan utama pendidikan agama adalah internalisasi nilai sehingga menjadi karakter.

Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hajar Dewantara, sudah mewarisi sikap luhur pahlawan sejati dan perlu meneruskan buah pemikirannya, tentang tujuan pendidikan nasional yakni memajukan kualitas semua komponen anak bangsa secara keseluruhan. Arah tujuan hakiki bagi kemanusiaan, tanpa membeda-bedakan asal-usul, agama, etnis, suku, budaya, adat, kebiasaan, status ekonomi, status sosial, dan sebagainya. Konsep pendidikan terpadu yang harus didasarkan kepada nilai-nilai kemerdekaan yang asasi.

Otokritik tersebut diungkapkan oleh pengamat pendidikan yang juga rektor Universitas Pendidikan Indonesia, Prof Sunaryo Kartadinata, Menurutnya, dalam sistem pendidikan nasional jelas tertuang bahwa tujuan pendidikan bukan sekadar membentuk siswa yang terampil dan cerdas. Siswa juga harus beriman, bertakwa, berakhlak mulia, mandiri, kreatif, supaya menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. Hal ini diatur secara eksplisit dalam Undang-Undang No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Pendidikan juga berfungsi membangun karakter, watak, serta kepribadian bangsa. Hal itu harus dipahami di dalam praktiknya, jangan sampai pendidikan justru tercerabut dari akarnya.

Kondisi tersebut, tambah Sunaryo, tidak terlepas dari kebijakan pemerintah di bidang pendidikan saat ini. Sebagai contoh, kebijakan tentang delapan standar pendidikan mulai dari standar isi, proses, kompetensi lulusan, pendidik, hingga sarana dan prasarana.

Standar lulusan, misalnya, yang diuji hanya kelompok mata pelajaran tertentu, terutama eksakta. Penekanan itu masih berat pada tujuan individual, belum kolektif untuk membentuk karakter yang beradab.

Mengutip hasil riset McCrae (2005), Sunaryo mengungkapkan, karakter, emosi, dan kemampuan komunikasi masyarakat Indonesia saat ini masih sejajar dengan negara-negara Afrika macam Nigeria, Ethiopia, atau Uganda. Pendidikan Indonesia butuh terapi kultural. Nilai-nilai etnografi yang mengakar dari budaya lokal, misalnya kerja keras, jujur, dan demokratis harus mulai mendapat tempat dalam pendidikan nasional.

Sementara penulis buku Etnopedagogig, Prof Chaedar Alwasilah, menambahkan, pendidikan selama ini seolah terbius dengan dogma, dalil-dalil, atau ajaran asing. Padahal Indonesia punya ajaran yang hebat dari Ki Hajar Dewantara. Pendidikan formal jangan sampai seolah-olah justru memberangus nilai-nilai kearifan lokal yang hidup dalam masyarakat.

Ketua Harian Komisi Nasional Unesco Arief Rachman mengatakan, sekolah tidak boleh lupa menanamkan akhlak baik. Hal itu dilakukan melalui keteladanan guru. Guru matematika, kimia, dan IPA juga adalah guru agama yang memberikan teladan akhlak baik.

Menurut Arief, pendidikan harus diarahkan untuk mengembangkan potensi siswa. Pendidikan harus menanamkan watak serta karakter yang baik. Bukan justru menyeragamkan potensi itu, seperti yang terlihat dari semangat ujian nasional saat ini. Suatu hal yang tidak mungkin mengajar kerbau menjadi terbang. Jika karakter baik itu sudah ada, ucapnya, tidak mungkin berbagai indikasi pelanggaran UN muncul (http://edukasi.kompas.com).

Untuk mengembalikan nilai-nilai Ki Hajar Dewantara seperti Ing Ngarso Sungtulad (di depan memberi teladan), maka guru terutama dan masyarakat umumnya, harus berusaha menjadi suri teladan terbaik bagi diri sendiri, keluarga, dan bangsa. Untuk ajaran Ing Madyo Mangun Karso (di tengah menciptakan peluang untuk berprakarsa), bisa dilakukan dengan berupaya membangun kreatifitas pengembangan diri dalam setiap kesempatan, dan ajaran Tut Wuri Handayani (di belakang memberi dorongan), bisa dengan berusaha mengarahkan motivasi sosok personal demi kemajuan bersama (http://tusuda.com).

Mengingat akhlak bangsa yang nyaris kehilangan karakter di era globalisasi ini, maka pendidikan Indonesia harus memformat ulang setiap ilmu yang diajarkan. Pendidikan karakter harus dilakukan di setiap disiplin ilmu, agar nyawanya merasuk dalam diri peserta didik.

Dalam arti kata, harus ada gerakan karakterisasi pendidikan Indonesia. Tentu tidak perlu mencetak buku baru, cukup dengan sisipan dan latihan terhadap guru yang bersangkutan.

Hasilnya nanti tentu akan gemilang, karena anak yang jadi kontraktor, tidak akan ‘memakan’ besi, kerikil, kayu, jembatan dan lainnya. Ia akan menjadi kontraktor jujur, sehingga rumah yang ia bangun sesuai dengan besi standar, dan hasil rumah tahan gempa.

Kalau mereka jadi akuntan, mereka tidak akan bekerjasama dengan perusahaan menggelapkan pajak. Ia tidak akan memark up laba, supaya dikira perusahaan berprestasi dan sebagainya.

Andai mereka jadi presiden, ia akan jadi presiden yang tidak hanya memikirkan jabatan 5 tahun yang akan datang. Ia akan berbuat sebaik mungkin dengan jabatannya, untuk menciptakan kedamaian, kesejahteraan dan wibawa negara di mata dunia.

Hal yang sama juga berlaku untuk profesi lainnya. Karakter yang ada dalam dirinya, akan menjadi tolak ukur dalam bertindak sehari-hari. Apa yang dilakukannya selalu mempertimbangkan baik dan buruk dan keamanan bagi semua orang.

Aktualisasi ajaran Ki Hajar Dewantara di era globalisasi ini untuk membangun karakter bangsa, sudah sangat mendesak diterapkan. Kalau itu dilakukan, Indonesia akan bebas dari predikat negara terkorup, birokrasi terburuk, dan lainnya. Perlu langkah bersama untuk mewujudkannya, sehingga Indonesia berubah jadi bangsa berkarakter tinggi.

* Wartawan Harian Singgalang

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: