Oleh: hendrinova | Juli 25, 2010

Inovasi Nuklir untuk Kebutuhan Listrik Berwawasan Lingkungan

Oleh Hendri Nova*

Krisis listrik yang terjadi di Indonesia, telah menimbulkan dampak beruntun. Bahkan kebijakan pemerintah menaikkan Tarif Dasar Listrik (TDL) Juli 2010, telah menyebabkan melambungnya harga dipasaran.

Komoditas yang langsung terkena imbas, bahkan tidak ada sangkut pautnya dengan listrik. Produk pertanian seperti cabai, sayur-sayuran, beras, dan bahan sembako lainnya, harganya langsung melonjak tajam.

Cabai merah yang semula tenang dikisaran Rp10.000 sampai Rp15.000/kg di Pasar Raya Padang, langsung naik menjadi Rp40.000 sampai Rp70.000/kg. Tentu tidak hanya di Padang, di pasar-pasar lainnya di seluruh Indonesia juga terkena dampak serupa.

Sementara PLN yang telah menaikkan TDL, tidak juga kunjung berhasil memuaskan konsumen dalam hal listrik. Pemadaman masih sering dilakukan, sehingga tagihan bulanan masyarakat jadi meningkat.

PLN sendiri tanpa ada rasa bersalah terus melakukan pemadaman, meskipun terus diumpat masyarakat. Hak monopoli listrik yang diberikan pemerintah pada lembaga ini, menyebabkan aspek kepuasan pelanggan jadi terpinggirkan.

Kemampuan PLN dalam upaya mencarikan listrik murah pada masyarakat, belum juga tampak hasilnya hingga saat ini. Sebaliknya, yang terjadi hanyalah arogansi menaikkan TDL di tiap tahun atau kapan PLN mau menaikkan.

Alasan ketekoran selalu dijadikan andalan, untuk memaksa pemerintah menyetujui kenaikan TDL. Akibatnya, daya beli masyarakat semakin menurun, karena tidak memiliki uang yang banyak untuk belanja. PLN sepertinya tidak mau ambil pusing dengan perkara ini, karena bagi mereka yang penting bayaran dari langganan lancar. Kalau menunggak, pemutusan akan dilakukan tanpa kenal kompromi.

Sebenarnya, kalau pemerintah mau mendorong masyarakat untuk berinovasi, mungkin jalan keluar dari krisis listrik bisa didapatkan. Sayangnya, rangsangan ke arah itu sangat minim, sehingga jadilah bangsa Indonesia penjiplak dari negara-negara yang telah lebih dulu menguasai teknologi yang bersangkutan.

Sementara Sumber Daya Alam (SDA) yang bisa diperbaharui, untuk menghasilkan listrik di Indonesia cukup banyak. Namun SDA seperti panas bumi, tenaga surya, tenaga angin, sampah, dan lainnya, tidak mendapat perhatian maksimal.

PLN hanya mau senang saja, dengan menjiplak teknologi kelistrikan yang telah dikuasai negara lain. Salah satunya teknologi nuklir, sebagai alternatif solusi kelangkaan energi.

Energi nuklir sendiri di bawah Sumber Daya Manusia (SDM) yang tidak cakap, hanya akan menjadi bahaya paling menakutkan. Tragedi Chernobyl di Ukraina pada 26 April 1986 lalu, bisa dijadikan contoh dari kegagalan SDM dalam menanganinya. Sejumlah kecelakaan lain dalam eskalasi lebih kecil juga terjadi, antara lain di Jepang.

Ketakutan masyarakan akan bahaya nuklir tentu sangat beralasan. Contoh terdekat bisa dilihat di negara Jepang. Senjata nuklir “Little Boy” yang dijatuhkan di kota Hiroshima pada tanggal 6 Agustus 1945, diikuti dengan pada tanggal 9 Agustus 1945, dijatuhkan bom nuklir “Fat Man” di atas Nagasaki.

Akibatnya 140.000 orang di Hiroshima dan 80.000 di Nagasaki pada akhir tahun 1945 mati terbunuh. Sejak saat itu, ribuan telah tewas akibat luka atau sakit yang berhubungan dengan radiasi yang dikeluarkan oleh bom. Pada kedua kota, mayoritas yang tewas adalah penduduk (http://id.wikipedia.org).

Sementara kepastian berapa sebenarnya jumlah korban akibat tragedi Chernobyl tidak ada angka pasti. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut angka 9.000 orang yang menjadi korban akibat radiasi.
Organisasi lingkungan hidup Greenpeace memperkirakan jumlah korban bisa mencapai 93.000 orang. PBB menyatakan, sekitar 7 juta orang masih hidup di wilayah berbahaya, karena memiliki tingkat radiasi di luar ambang batas aman (http://www.eramuslim.com).

Di Indonesia sendiri, rencana pembangunan PLTN Muria masih terus didengungkan pemerintah. Masyarakat Jawa Tengah, khususnya di Semenanjung Muria pun resah, mengingat tragedi Chernobyl yang bisa saja terjadi pula di daerah mereka.

Jika suatu saat terjadi kebocoran reaktor di PLTN Muria, baik oleh faktor kelalaian manusia maupun kejadian alam, maka dampaknya tidak hanya dirasakan oleh masyarakat Semenanjung Muria (Jepara, Kudus, dan sekitarnya) saja, tetapi Pulau Jawa, bahkan seluruh Indonesia kemungkinan akan terkena akibatnya.

Selain itu, penanganan limbah nuklir dan dampak radiasi terhadap lingkungan dan manusia masih menjadi hal menakutkan. Limbah radioaktif mempunyai tingkat bahaya cukup tinggi bagi kehidupan dan memerlukan waktu sangat lama untuk dapat terurai. Kemampuan pengelola PLTN dalam menangani limbah nuklir ini, menjadi pertanyaan besar bagi masyarakat Indonesia (http://www.batan.go.id).

Rencana pemerintah untuk membangun PLTN, dapat dikatakan sebagai langkah mundur dalam pemilihan energi alternatif. Sebab, ketika di beberapa negara yang selama ini menggunakan tenaga nuklir berkeinginan menutup reaktor nuklirnya, justru pemerintah Indonesia baru berencana membangunnya.

Amerika Serikat yag memiliki 110 buah reaktor nuklir atau 25,4% dari total seluruh reaktor yang ada di dunia, akan menutup 103 reaktor nuklirnya. Demikian halnya dengan Jerman, negara industri besar ini, juga berencana menutup 19 reaktor nuklirnya. Penutupan pertama dilakukan pada tahun 2002 kemarin, sedang PLTN terakhir akan ditutup pada tahun 2021.

Keadaan lain juga terjadi di Swedia, yang menutup seluruh PLTN-nya yang berjumlah 12, mulai tahun 1995. Sampai negara tersebut bebas dari PLTN pada tahun 2010 mendatang
Apa itu Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir?

PLTN merupakan kumpulan mesin, untuk pembangkit tenaga listrik yang memanfaatkan tenaga nuklir sebagai tenaga awalnya. Prinsip kerjanya seperti uap panas yang dihasilkan untuk menggerakkan mesin yang disebut turbin.

Secara ringkas dan sederhana, rancangan PLTN terdiri dari air mendidih, boild water reactor bisa mewakili PLTN pada umumnya, yakni setelah ada reaksi nuklir fisi, secara bertubi-tubi, di dalam reaktor, maka timbul panas atau tenaga lalu dialirkanlah air di dalamnya. Kemudian uap panas masuk ke turbin dan turbin berputar poros turbin dihubungkan dengan generator yang menghasilkan listrik.

Dampak Nuklir pada Rakyat dan Lingkungan

Reaktor nuklir sangat membahayakan dan mengancam keselamatan jiwa manusia. Radiasi yang diakibatkan oleh reaktor nuklir ini ada dua. Pertama, radiasi langsung, yaitu radiasi yang terjadi bila radio aktif yang dipancarkan mengenai langsung kulit atau tubuh manusia.
Kedua, radiasi tak langsung. Radiasi tak langsung adalah radiasi yang terjadi lewat makanan dan minuman yang tercemar zat radio aktif, baik melalui udara, air, maupun media lainnya.

Keduanya, baik radiasi langsung maupun tidak langsung, akan mempengaruhi fungsi organ tubuh melalui sel-sel pembentukannya. Organ-organ tubuh yang sensitif akan dan menjadi rusak. Sel-sel tubuh bila tercemar radio aktif uraiannya sebagai berikut: terjadinya ionisasi akibat radiasi dapat merusak hubungan antara atom dengan molekul-molekul sel kehidupan, juga dapat mengubah kondisi atom itu sendiri, mengubah fungsi asli sel atau bahkan dapat membunuhnya.

Pada prinsipnya, ada tiga akibat radiasi yang dapat berpengaruh pada sel. Pertama, sel akan mati. Kedua, terjadi penggandaan sel, pada akhirnya dapat menimbulkan kanker, dan ketiga, kerusakan dapat timbul pada sel telur atau testis, yang akan memulai proses bayi-bayi cacat.

Selain itu, juga menimbulkan luka bakar dan peningkatan jumlah penderita kanker (thyroid dan cardiovascular) sebanyak 30-50% di Ukrania. Penyakit lainnya berupa radang pernapasan, dan terhambatnya saluran pernapasan, juga masalah psikologi dan stres yang diakibatkan dari kebocoran radiasi.

Ada beberapa bahaya laten dari PLTN yang perlu dipertimbangkan. Pertama, kesalahan manusia (human error) yang bisa menyebabkan kebocoran, yang jangkauan radiasinya sangat luas dan berakibat fatal bagi lingkungan dan makhluk hidup.

Kedua, salah satu yang dihasilkan oleh PLTN, yaitu Plutonium memiliki hulu ledak yang sangat dahsyat. Sebab Plutonium inilah, salah satu bahan baku pembuatan senjata nuklir. Kota Hiroshima hancur lebur hanya oleh 5 kg Plutonium. Ketiga, limbah yang dihasilkan (Uranium) bisa berpengaruh pada genetika.

Di samping itu, tenaga nuklir memancarkan radiasi radio aktif yang sangat berbahaya bagi manusia. WALHI menyerukan agar pemerintah menghentikan rencana pembangunan PLTN di Indonesia, mengingat potensi dampak negatif yang begitu besar dan mengajak seluruh masyarakat untuk melakukan hal yang sama. (http://forumkimia.multiply.com).

Mengingat belum adanya jaminan keamanan terhadap penggunaan nuklir untuk pembangkit listrik, ada baiknya rencana pemerintah ditunda sampai benar-benar aman. Nuklir yang digunakan nantinya harus berwawasan lingkungan, sehingga bermanfaat bagi kebaikan bangsa dan negara.

Jika Indonesia telah memiliki SDM yang terampil mengelola PLTN, maka sosialisasikanlah kepada masyarakat dengan baik. Jangan ada sesuatu yang disembunyikan, sehingga masyarakat merasa tertipu.

Seperti gas 3 Kg yang saat ini menjadi momok menakutkan bagi masyarakat, hendaknya jangan terulang. Masyarakat tentu akan mendukung hadirnya PLTN, jika manfaat yang didapat lebih besar dikemudian hari. Namun kalau mudharatnya lebih besar, baiknya jangan dibuat dan hentikan saja seperti negara-negara maju lainnya.

Untuk menanggulangi masalah krisis listrik, ajaklah anak bangsa untuk berinovasi menciptakan alat pembangkit listrik murah berwawasan lingkungan. Buatlah kontes dengan piala bergengsi, bagi inovator terbaik.

Kalau alat pembangkit listrik tersebut aman digunakan dan bisa dikomersilkan, bantulah inovatornya dalam hak paten dan mencari investor untuk memperbanyak alat serupa. Dengan demikian, krisis listrik bisa diatasi.

Selain itu, pemerintah juga harus terus mendorong PLN agar mencari energi murah dan ramah lingkungan. Salah satunya sampah yang saban hari dihasilkan dalam kehidupan.

Kalau listrik energi sampah sudah teralisasi, maka bahan bakunya tidak akan habis-habis. Begitu juga dengan listrik tenaga surya, panas bumi dan lainnya. Dengan demikian, listrik murah akan terus tersedia bagi masyarakat dan industri. Hasilnya, harga-harga akan turun dan daya beli masyarakat jadi jauh meningkat.

Terkait tenaga nuklir sendiri, kalau belum juga didapatkan jaminan keamanan keselamatan dan lingkungan, gunakan saja untuk keperluan lain. Seperti penggunaan Sinar-X pada abad XX ini, merupakan salah satu hasil dari teknologi nuklir.

Di Bidang peternakan, para peneliti Indonesia berhasil menggunakan isotop radioaktif untuk mendayagunakan pakan sehingga dengan jumlah pakan yang sama akan dapat dikomsumsi oleh lebih banyak ternak. Namanya adalah Urea Molasses Multinutrient Block (UMMB) yang telah digunakan oleh para peternak di Jabar, Jateng, dan kawasan timur Indonesia, khususnya Nusa Tenggara Barat.

Sementara di bidang pertanian, Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi (PAIR) telah menghasilkan sejumlah varietas unggul yang baru dengan cara mutasi oleh imbas radiasi. Sebutlah varietas padi untuk dataran rendah dan dataran tinggi, kedelai, dan kacang hijau.

Di Bidang pertambangan, Tritium radioaktif dan cobalt 60 digunakan untuk merunut alur-alur minyak bawah tanah dan kemudian menentukan srategi yang paling baik untuk menyuntikkan air ke dalam sumur-sumur. Hal ini akan memaksa keluar minyak yang tersisa di dalam kantung-kantung yang sebelumnya belum terangkat. Berjuta-juta barrel tambahan minyak mentah telah diperoleh dengan cara ini.

Untuk bidang kedokteran, dengan menggunakan radiasi dari isotop radioaktif cobalt pada dosis tertentu terhadap sel-sel kanker, sel-sel ini akan mati. Sedangkan sel-sel normal tidak begitu terpengaruh selama pengobatan. Selain itu untuk mendiagnosa penyakit pasien tanpa harus melakukan pembedahan, para dokter biasanya menggunakan sinar-X.

Adapun mengenai masalah limbahnya telah ditemukan suatu cara yang aman dan permanen seperti yang telah dilakukan oleh Kanada. Limbah nuklir dikubur jauh di bawah tanah, pada lapisan batuan granit yang stabil. Penelitian geologi menunjukkan bahwa formasi batuan granit dapat stabil hingga 1,5 juta tahun atau bahkan lebih
(http://twice-k.blogspot.com).

Nah… bisakah Indonesia mendapatkan teknolgi yang dimiliki canada ini? Kalau berhasil, berarti tinggal memikirkan jika terjadi akibat terburuk lainnya. Hanya dengan cara ini saja, masyarakat bisa yakin kalau teknologi nuklir ramah pada lingkungan dan memberi banyak keuntungan. ***

*Wartawan Singgalang

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: