Oleh: hendrinova | Juli 24, 2010

Tantangan Pendidikan Karakter di Era Globalisasi

Oleh Hendri Nova

Pentingnya pendidikan karakter atau lazim juga disebut pendidikan akhlak bagi masyarakat Indonesia, kembali hangat dibicarakan. Keadaan ini menimbulkan kesan, kalau pendidikan yang satu ini sudah lama tersepelekan begitu saja.

Penyebabnya tidak lain karena tingginya fokus guru dan siswa untuk lulus Ujian Nasional (UN). Alhasil, perlahan namun pasti, kepentingan ini telah menggerogoti pentingnya pendidikan karakter bagi siswa.

Guru lebih memfokuskan diri untuk menamatkan semua mata pelajaran, agar anak didiknya tidak ketinggalan satu materi pun. Mengerti atau tidak, itu urusan lain. Satu hal yang terpenting, jika ada soal UN terkait materi tersebut, bisa dijawab siswa dengan mudah.

Beda sekali keadaannya, jika dibandingkan dengan zaman dulu. Di mana pendidikan karakter jadi fokus utama setiap guru, di tiap mata pelajaran yang dibimbingnya. Setiap guru menekankan pada dirinya, bahwa ia tidak sekedar mendidik, tapi juga mengajar akhlak.

Wali kelas di Sekolah Dasar (SD) misalnya. Dulu mereka menyediakan banyak waktu untuk membacakan cerita penuh hikmah pada muridnya, agar dapat diteladani di kehidupannya kelak. Kesimpulan yang mereka berikan di akhir cerita, terpatri di benak anak didik hingga dewasa.

Sementara saat ini, guru seolah-olah belajar melupakan fungsi mengajar atau pendidikan karakter bagi sang murid. Baginya, jika semua materi pelajaran dalam buku pegangan sudah selesai diberikan tepat waktu, itu baru dinamakan prestasi.

Urusan akhlak dikembalikan pada orangtua, karena merekalah yang lebih wajib mengajarkan akhlak atau pendidikan karakter pada anak-anaknya. Celakanya, orangtua sama sekali tidak tahu bahkan tak punya banyak waktu, untuk membentuk jiwa anak-anaknya.

Syukur-syukur jika sang anak hidup di lingkungan agamis, sehingga jiwanya terbentuk bagus oleh lingkungan. Tapi kalau lingkungannya tidak baik, maka ia akan jadi anak yang liar dan jauh dari norma-norma kebaikan.

Anak-anak yang tumbuh dari lingkungan yang tidak baik ini, akhirnya berubah menjadi anak-anak nakal di sekolah maupun di lingkungan. Mereka gampang terlibat tawuran, hanya karena masalah sepele. Mereka gagal mengendalikan emosi, dan lebih mengedepankan otot dalam menyelesaikan persoalan.

Sewaktu penulis menjadi guru jurnalistik di salah satu SMA ternama di Kota Padang, hal inilah yang banyak penulis dapatkan dari anak-anak. Mereka jauh berbeda dengan murid-murid di tahun 1980-1990-an.

Walau sudah diancam dengan nilai merah, mereka tanpa takut tetap melawan guru. Mereka tidak mengerjakan tugas, dan maunya membuat keonaran di dalam kelas. Kalau dilarang dan dihukum keluar kelas, mereka malah senang.

Sewaktu hal ini ditanyakan pada guru mata pelajaran lainnya, ternyata mereka juga diperlakukan sama. Guru-guru akhirnya memasang aksi tidak peduli, dengan tetap memberikan mata pelajaran pada siswa yang masih mau mengikuti pelajaran.

Lain lagi kisah Rica Susanti, mahasiswa praktek lapangan jurusan Pendidikan Luar Sekolah. Sewaktu ia praktek mendidik anak jalanan di Taman Imam Bonjol Padang, ia mendapati masalah yang sulit terpecahkan.

Rata-rata anak jalanan telah tercuci otaknya dengan doktrin yang diajarkan orangtua. Mereka sangat susah diajak belajar membaca, dan lebih mengutamakan meminta-minta atau mengamen di lampu merah. Terpaksa Rica dan rekan-rekannya bersabar menunggu anak jalanan kembali ke tempat mereka, begitu lampu hijau menyala.

Anak jalanan yang dididik Rica dan rekan-rekannya, rata-rata berstatus pengamen dan minta-minta. Mereka telah merasakan enaknya mendapat uang, dengan hanya menyanyi sebentar saja. Walau uang receh, jika dikumpulkan jumlahnya jadi banyak juga.

Sementara mereka yang meminta-minta, rata-rata bertubuh sehat tidak kurang apapun juga. Rasa malu mereka benar-benar hilang, walau nantinya bertemu dengan anak tetangga. Bagi mereka, mengemis adalah pekerjaan dan tidak perlu malu untuk melakoninya.

Rica dan rekan-rekannya menyimpulkan, kalau ingin mengubah karakter anak jalanan, mereka harus dikeluarkan dari lingkungannya dan diletakkan di lingkungan yang lebih berkarakter. Hanya dengan cara itu, pola pikir mereka bisa diubah perlahan-lahan, sehingga kembali memiliki harga diri.

Kasus yang dihadapai Febri Indriyani, guru Taman Kanak-Kanak (TK) Husnul Khatimah Padang lain lagi. Walau mendidik anak-anak yang masih hijau, ia mengaku kesulitan juga mengubah karakter anak.

Terutama anak-anak yang didikannya amat disepelekan orangtua. Ia mencontohkan anak-anak yang makan sambil berdiri atau jalan, tidak bisa berdoa sebelum dan sesudah makan dan sebagainya.

Saat hal itu ia diskusikan dengan orangtua anak, mereka rata-rata mengaku kalau anaknya meniru kebiasaan ayah ataupun ibu. Saat orangtua sudah mengubah hal itu, anaknya dengan mudah bisa dididik lebih baik.

Masalah pendidikan karakter ini, diungkapkan Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Mohammad Nuh, pada Upacara Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), di Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas), Jakarta, Minggu (2/5/2010). Ia menemukan fenomena lucu, terkait karakter bangsa Indonesia saat ini (http://www.penapendidikan.com).

Menurutnya, masalah karakter bangsa di Indonesia kadang-kadang menjadi lucu dan mengherankan. Betapa tidak mengherankan, penegak hukum yang mestinya harus menegakkan hukum ternyata harus dihukum.
Para pendidik yang mestinya mendidik, malah harus dididik. Para pejabat yang mestinya melayani masyarakat, malah minta dilayani dan itu adalah sebagian dari fenomena sirkus yaitu tercerabutnya karakter asli dari masyarakat. Itu semua menurutnya bersumber pada karakter.

Agar bangsa Indonesia kembali memiliki karakter, maka dibutuhkan gerak bersama di semua elemen masyarakat. Buku-buku pelajaran yang ada sekarang, kalau tidak memungkinkan diganti dengan buku baru, hendaknya bisa disisipi dengan pelajaran karakter.

Pendidikan karakter sendiri bisa dimasukkan dalam setiap mata pelajaran. Ilmunya mudah berpadu, karena mengajar anak didik untuk jadi lebih baik.

Oleh karena itu, langkah pertama yang harus dilakukan, dengan melakukan penataran para pendidik dari lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sampai Perguruan Tinggi (PT). Kalau pendidik memiliki bekal ilmu karakter, maka mereka dengan mudah bisa membentuk jiwa anak didiknya menjadi lebih baik.

Hasilnya, jika sang anak nantinya menjadi dokter, ia memiliki akhlak terpuji. Ia tidak akan mengutamakan uang dalam menolong pasien dan tidak pernah berniat menelantarkan pasien.

Tidak seperti sekarang. Jika tidak ada uang, jangan harap dapat layanan prima dari dokter yang bersangkutan. Mereka dengan kasar akan diusir pulang, karena tidak punya dana untuk biaya rumah sakit.

Kalau sang anak nantinya jadi kepala proyek, maka ia tidak akan mengurangi ukuran yang telah ditetapkan. Ia tidak akan menukar besi dengan yang tidak standar, tidak akan memperkecil besar tiang dan sebagainya.

Bangunan yang ia bangun sesuai standar dan tidak mudah roboh kalau dihoyak gempa. Ia menjadikan hasil kerjanya, seumpama rumah yang akan ia tempati sendiri.

Jika anak didiknya menjadi presiden, maka ia akan jadi pemimpin yang dicintai rakyat. Ia tidak akan memperkaya diri, di saat rakyatnya mati kelaparan.

Contoh untuk pemimpin yang paling hebat karakternya ini, ada pada Nabi Muhammad SAW. Di masa pemerintahan beliau, tidak ada alokasi khusus untuk menggaji tentara, karena semua umat Muslim adalah tentara.

Zakat harta dari negara yang tunduk di bawah pemerintahan Islam, semuanya disalurkan pada yang berhak. Ia hidup miskin dan bisa merasakan kemiskinan yang dirasakan umatnya sendiri. Sulit mencari pemimpin yang sehebat ini di dunia, karena memang tidak ada tandingannya.

Semua anak didik yang telah memiliki karakter baik, akan merasakan ada Allah yang akan mengawasi setiap tindak tanduknya. Ia akan menjaga diri, walau tidak ada satupun manusia yang menyaksikan perbuatannya. Ia menjaga diri dari perbuatan dosa, sebagaimana ia menjaga puasa.

Dalam ajaran puasa, tidak ada satupun orang yang tahu kadar puasa seseorang. Hanya Allah yang tahu, kalau seseorang telah mengkorupsi setetes air wudhuk, saat ia mau shalat. Hanya ia dan Allah yang tahu, kalau puasanya telah batal adanya.

Kalau semua warga Indonesia terutama pejabat merasa ada Allah yang mengawasi perbuatannya, maka korupsi tidak akan menjadi penyakit akut di Indonesia. Di semua jabatan pemerintahan, tidak akan ada pejabat yang melakukan korupsi. Mereka takut pada Allah yang selalu mengawasi gerak geriknya.

Pendidikan karakter tentunya harus dimulai juga dari keluarga. Jika dalam satu keluarga terbina karakter yang baik, maka lingkungan dengan sendirinya akan menjadi baik.

Tentu lebih baik lagi, jika dimulai dari diri sendiri, khususnya bagi yang tidak lagi di bangku sekolah atau kuliah. Dengan menjadikan diri berkarakter, maka bangsa Indonesia kembali menjadi bangsa yang memiliki harga diri.

Anak bangsa takkan mudah terkena pengaruh negatif globalisasi. Walau masyarakat menganut budaya seks bebas, anak bangsa tidak akan ikut-ikutan pula mereka adegan pribadinya, karena takut suatu saat jatuh pada tangan tidak bertanggung jawab.

Derasnya pengarush budaya masyarakat dunia melalui media maya, sedikitpun tidak mempengaruhi karakternya. Pribadinya kokoh bak ikan laut yang hidup di air asin.

Walau banyak limbah yang dibuang manusia ke laut, banyak lumpur yang dibawa hujan dan sebagainya, ia tetap bisa menjaga dagingnya tetap manis. Lingkungan baginya hanya sarana mencari penghidupan, bukan sebagai pengubah karakter diri.

Bangsa ini akan bermatabat di hadapan masyarakat dunia, bila memiliki karakter hidup yang kuat. Hanya diri pribadilah yang bisa menjadi kontrol, dari pengaruh buruk yang datang dari dalam maupun dari luar.

Oleh karena itu, pendidikan karakter bangsa ini harus menjadi fokus mulai tahun ajaran 2010-2011 ini. Menteri Pendidikan harus mengumpulkan semua rektor yang ada di Indonesia, untuk melakukan pendidikan karakter di setiap mata kuliah.

Lalu lanjutkan pada guru-guru dari PAUD sampai SLTA. Tekankan masalah pendidikan karakter anak pada mereka. Kalau semua sudah bersatu padu membentuk karakter bangsa yang baik, maka Indonesia akan menjadi negara unggul di muka bumi. ***

Iklan

Responses

  1. Artikel dan materinya cukup menarik dan terimakasih telah memberi pencerahan. Mohon ijin untuk referensi tulisan saya. Selamat dan terus berkarya, terima kasih.

    • sama2… tq

    • alhamdulillah… makasih juga

  2. […] sumber  https://hendrinova.wordpress.com/2010/07/24/tantangan-pendidikan-karakter-di-era-globalisasi/ […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: