Oleh: hendrinova | Juli 3, 2010

SDM Berkualitas Berawal Dari PAUD Berkualitas


MASA EMAS – Mendidik anak kala usia dini, akan mengantarkan mereka jadi profesional di usia dewasa. Seperti kegiatan mewarnai ini, bisa dijadikan alat ukur untuk melihat bakat sang anak di bidang seni. Hendri Nova

Oleh Hendri Nova

Ada kesalahan besar dalam pengelolaan Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia dewasa ini. Para pengajar hebat berduyun-duyun jadi dosen atau guru besar di banyak Perguruan Tinggi (PT), dan banyak yang sama-sama menolak kalau disuruh mengajar di lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).

Padahal jika dibandingkan, tentu lebih banyak jumlah anak-anak dibanding jumlah mahasiswa. Sayangnya lagi, Pemerintah Indonesia lebih menaruh perhatian besar pada pendidikan yang dimulai dari SD sampai Perguruan Tinggi (PT). Dan hanya ada sedikit dana untuk PAUD, sehingga gurunya hidup dalam keprihatinan.

Pendidikan gratis yang didengung-dengungkan Pemerintah, hanya teruntuk pendidikan sampai 9 tahun, yakni SD sampai SLTP (Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama). PAUD sama sekali luput dari bantuan dana, sehingga banyak anak keluarga tidak mampu urung masuk PAUD.

Seharusnya, perhatian Pemerintah utamanya harus tercurah pada PAUD, sebagai masa Golden Age (usia emas) dalam pembentukkan otak manusia. Pemerintah harus membuat PAUD-PAUD berkualitas tinggi, dengan pengajar-pengajar profesional, dan biayanya digratiskan.

Jika ini dilakukan, di 15 atau 20 tahun mendatang, akan lahirlah anak-anak yang berjiwa pengusaha, atlet hebat, pemikir jenius, pemusik tenar, dan lainnya. Kalau pendidikan PAUD dipadukan dengan pendidikan agama, maka akan lahirlah anak bangsa yang takut pada Tuhannya. Mereka takut melakukan tindak korupsi walau sebesar zahrah sekalipun, pada profesi yang digeluti.

Diserahkannya pengelolaan PAUD pada profesor-profesor yang paham akan tahap perkembangan anak, tentu dapat membantu si anak menemukan bakat dirinya sejak dini. Jika dari pengamatan sang profesor si anak mahir menggondol si bola bundar, maka ia harus digodok menjadi pesepak bola hebat.

Kalau ini dilakukan, maka tidak mustahil Indonesia bisa masuk salah satu negara yang bertanding dalam piala dunia. Tidak seperti sekarang, Indonesia hanya jadi penonton di setiap perhelatan sepak bola dunia digelar.

Kemampuan dalam bidang olahraga ini, hanya mampu dilihat oleh profesor atau ahli didik yang memahami ilmu kecerdasan kinestetik. Kinestetik itu sendiri menurut May Lwin, Dkk, 2003, merupakan kemampuan untuk menggabungkan antara fisik dan pikiran, sehingga menghasilkan gerakan yang sempurna.

Anak yang memiliki kemampuan kinestetik ini, bisa diarahkan untuk jadi penari, aktor, pendekar, atlet, dokter bedah, mekanik dan lainnya. Kemampuan melihat bakat anak sejak dini ini, tentu tidak dimiliki oleh guru biasa, yang hanya mampu mengajar sekedarnya.

Profesor atau pendidik ahli di bidang PAUD, juga mampu melihat anak yang memiliki kecerdasan linguistik, yakni kecerdasan yang dimiliki para orator, negosiator, pengacara, negarawan dan lainnya.

Menurut May Lwin,dkk,2003, kecerdasan linguistik terkait dengan kemampuan menyusun pikiran dengan jelas dan mampu menggunakannya secara kompeten melalui kata-kata, seperti bicara, membaca dan menulis. Anak yang memiliki kemampuan ini, sampai dewasa mampu mempengaruhi orang lain dengan mudahnya.

Gaya bahasa, tutur kata, gerak verbal, mimik yang pas ketika bicara, semuanya mengandung daya pikat yang luar biasa. Ia bahkan mampu meyakinkan siapapun, sehingga segala hal yang diucapkannya laksana ‘sabda’ yang penuh kekuatan.

Berikutnya, kecerdasan yang bisa diamati di usia PAUD terkait dengan kecerdasan matematis-logis. Kemampuan ini biasanya dimiliki oleh para ilmuwan, matematikawan, saintis, filsuf, agamawan dan lainnya.

Menurut May Lwin,dkk,2003, kecerdasan ini terkait dengan kemampuan untuk menangani bilangan dan perhitungan serta pola berpikir logis dan ilmiah. Kecerdasan ini memiliki dua unsur, yakni matematika dan logika. Keduanya sama-sama mengikuti dasar yang sama, yakni konsistensi.

Potensi lainnya terkait kecerdasan visual-spasial, yang dapat menjadikan si anak menjadi arsitek, insinyur, fotografer, pengarang, navigator, detektif, penemu dan lainnya. Anak yang memiliki kemampuan ini, memiliki kemampuan untuk melihat suatu objek dengan sangat detail.

Si anak mampu merekam apa yang ia lihat dalam waktu yang sangat lama. Jika suatu saat ia ingin menjelaskan apa yang dilihatnya pada orang lain, ia mampu melukiskannya dalam selembar kertas dengan sangat sempurna (May Lwin,dkk,2003).

Kecerdasan berikutnya disebut kecerdasan musikal, yakni kecerdasannya para musisi, seniman, budayawan, penyair, penari dan lainnya. Menurut Plato, pelatihan keterampilan musikal merupakan suatu instrumen yang lebih potensial daripada yang lainnya, karena irama dan harmoni merasuk ke dalam diri seseorang melalui tempat-tempat tersembunyi.

Sementara menurut May Lwin,dkk,2003, kecerdasan musikal merupakan kemampuan untuk menyimpan nada dalam benak seseorang, mengingat irama, dan secara emosional terpengaruh oleh musik. Anak-anak dengan kemampuan ini, bisa dilihat dari keterampilannya dalam menyanyi dan bersyair.

Kemampuan lainnya disebut kecerdasan interpersonal, yang dimiliki oleh para direktur, motivator, konselor, sosiolog, psikolog, dan lainnya. Anak yang memiliki kecerdasan yang satu ini, bisa dilihat dari kemampuannya untuk berhubungan dengan orang lain di sekitarnya. Biasanya mereka memiliki kepekaan hati, sehingga bisa bersikap tanpa menyinggung atau menyakiti perasaan orang lain.

Selanjutnya terkait dengan kecerdasan intrapersonal. Kecerdasan ini menjadi cikal bakal anak menjadi pengusaha, pemimpin, konselor, motivator, trainer, pemikir dan lainnya.

Menurut May Lwin,dkk,2003, kecerdasan ini merupakan kemampuan untuk memahami diri sendiri dan bertanggung jawab atas kehidupannya sendiri. Kecerdasan ini juga sebagai penyeimbang terhadap kecerdasan interpersonal.

Di lembaga PAUD, juga bisa dilihat potensi anak dalam hal kecerdasan naturalis, yakni kecerdasan yang menjadi cikal bakal anak menjadi antropolog, biolog, zoolog, etimolog dan botanik. Anak dengan kecerdasan ini, menurut Sri Widayati dan Utami Widjijati, 2008, bisa dilihat dari kemampuannya mengetahui asal usul binatang, pertumbuhan tanaman, terjadinya tata surya, berbagai galaksi dan sebagainya.

Terakhir terkait dengan kecerdasan eksistensial (spiritual). Kecerdasan ini dimiliki para spiritualis, sufi, agamawan, cendikiawan, filsuf dan lainnya. Anak dengan kecerdasan ini, tampak dari minatnya terhadap hal-hal yang berbau agama.

Jika pendidik berhasil membuat peta kemampuan si anak, mereka tentu bisa merekomendasikan pada orangtuanya, jenjang pendidikan anaknya yang paling tepat. Kalau si anak memiliki beberapa jenis kecerdasan, tentu bisa diarahkan pada kecerdasan mana yang lebih kuat.

Seperti kecerdasan kinestetik tadi, guru mulai bisa menyarankan atau merekomendasikan pada orangtua murid untuk memasukkan anaknya pada sekolah bola, jika memang tampak anaknya hobi bola. Jika dari kecil kemampuan mereka telah diasah, baik sebagai penyerang, gelandang, bek, kiper, kapten atau lainnya, maka akan ada banyak Cristiano Ronaldo, David Beckham, Kaka baru yang lahir dari negara Indonesia.

Indonesia tentunya tidak lagi dipandang sebelah mata oleh penduduk dunia lainnya, yang hingga kini belum juga mampu tampil dalam piala dunia. Padahal penduduknya nomor 4 terbanyak di dunia, dan tidak ada satupun yang mahir dalam olah bola sekaliber pemain bola profesional di dunia internasional. Indonesia hanya mampu bertanding dengan bangsa sendiri saja.

Penelusuran, pengarahan, pembinaan keahlian anak dari usia dini, akan melahirkan generasi-generasi berkualitas di masa datang. Setiap meraka akan dewasa dengan kehebatannya masing-masing, sehingga mereka bisa jadi manusia mandiri.

Anak berjiwa wirausaha saja misalnya. Dengan pembinaan dan pengarahan yang baik, mereka akan menjelma jadi pengusaha-pengusaha baru. Pengusaha-pengusaha baru akan menyerap banyak tenaga kerja dari berbagai bidang.

Jika 30 persen saja dari penduduk Indonesia yang jadi pengusaha, minimal 30 persen lagi sudah terserap oleh 30 persen pengusaha tadi. Itu berarti, 60 persen penduduk sudah tidak menggantungkan diri jadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Kalau sektor pemerintah berhasil pula menyerap PNS 40 persen dari jumlah penduduk, maka Indonesia sudah bisa sejahtera.

Sayangnya, hingga saat ini menurut Presiden Direktur Primagama Group, Purdi E. Chandra, potensi warga Indonesia yang jadi pengusaha masih 0,08 persen, dari jumlah penduduk yang berjumlah 230 juta lebih.

Sementara menurut sosiolog Dr David McClelland dari Harvard dalam bukunya “The Achieving Society (Van Nostrand, 1961), suatu negara dapat mencapai kemakmuran jika 2% dari jumlah penduduknya menjadi pengusaha. Dengan demikian Indonesia membutuhkan 5 juta dari 230 juta penduduknya untuk menjadi pengusaha.

Namun, ternyata angka itu masih jauh dari harapan. Jumlah pengusaha Indonesia dalam pengamatannya saat ini ada sekitar 400.000 pengusaha. Dengan kata lain “hanya” 0,18% dari jumlah penduduk Indonesia. Di samping itu, kebanyakan usaha yang ada di Indonesia masih bersifat mikro (UMKM) sehingga tidak memberikan peluang terbukanya lapangan pekerjaan yang besar.

Sementara di bidang ilmu pengetahuan seperti kedokteran, akan muncullah anak-anak Indonesia yang ahli dibidangnya. Tidak seperti sekarang, untuk membuat vaksin saja dokter-dokter Indonesia belum mampu.

Fakta ini bisa dilihat dari masih tingginya ketergantungan Indonesia kepada Amerika dan negara lainnya, sebagai penghasil vaksin. Bahkan umat Islam yang akan menunaikan ibadah haji terpaksa menerima, ketika dirinya disuntik vaksin yang berasal dari unsur babi.

Jika Indonesia memiliki dokter-dokter cerdas, tentu hal ini tidak perlu terjadi. Sayangnya, hingga saat ini Indonesia masih memposisikan diri sebagai konsumen belaka. Sungguh sangat disayangkan.

Pemerintah Indonesia harus mulai mengubah pola pendidikan, dengan memberi perhatian lebih pada PAUD. Tugaskanlah ahli-ahli hebat di masing-masing 9 kecerdasan tadi, untuk melihat potensi anak sejak dini.

Kalau hal ini tidak dilakukan, maka Indonesia akan terus kehilangan generasi emas. Tingkat kehidupan akan terus begini, dengan jumlah penduduk miskin yang tak kunjung berkurang. Data terakhir penduduk miskin seperti dirilis http://lintasforum.blogspot.com, di tahun 2010 diperkirakan bakal mengalami kenaikan sebanyak 200.000 penduduk menjadi 32,7 juta, dibandingkan tahun ini yang mencapai 32,5 juta.

Sementara itu, tahun 2008 mencapai 35 juta penduduk. Demikian disampaikan Peneliti Pusat Penelitian Ekonomi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2E-LIPI), Agus Eko Nugroho.

Jika pemerintah serius mengelola PAUD, tentu pendidik profesional seperti profesor, atau minimal doktor, akan dipekerjakan di lembaga PAUD. Warga tentu akan melihat, bahwa PAUD benar-benar sudah diperhatikan.

Langkah selanjutnya tinggal sosialisasi pentingnya PAUD pada orangtua murid. Jika orangtua/wali murid sudah paham, maka mereka dengan penuh kesadaran memasukkan anaknya ke lembaga PAUD. Semua orangtua tentu sangat menginginkan anaknya menjadi hebat dan profesional di bidangnya.

Pembinaan PAUD profesional, dengan sendirinya memposisikan Indonesia sebagai negara super kualitas di masa mendatang. Indonesia tentunya akan memiliki SDM berkualitas tinggi yang siap mengelola Sumber Daya Alam (SDA) Indonesia yang berlimpah ruah.

Laut Indonesia akan menghasilkan ikan yang banyak, rumput laut kaya gizi dan potensi wisata menjanjikan. Begitu juga dengan lahan pertanian Indonesia, tidak ada lagi yang berstatus lahan tidur tapi menjadi lahan subur dengan kualitas pertanian tinggi.

Prestasi itu tentu juga berlaku di bidang lain seperti kedokteran, listrik, farmasi, teknologi dan lainnya. Generasi emas Indonesia, tentu akan membuat negara ini jadi disegani semua bangsa yang ada di dunia.

*Wartawan Harian Singgalang

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: