Oleh: hendrinova | Mei 16, 2010

Pewarna Sintetis, Mengancam Kesehatan

Bukan rahasia lagi, hampir semua makanan olahan memakai zat pewarna sintetis atau buatan. Jika pun ada yang memakai pewarna alami, maka jumlahnya bisa dihitung dengan jari.

Keengganan produsen makanan memakai pewarna alami dalam produksinya, dikarenakan harganya yang mahal. Sementara pewarna buatan atau sintetis, harganya lebih murah dan lebih gampang didapat.

Otomatis, pewarna sintetis dapat mendatangkan keuntungan yang lebih nyata dibandingkan pewarna alami. Memang pewarna sintetis memiliki warna yang lebih kuat, lebih seragam, dan lebih stabil, jika dimasukkan dalam makanan.

Berdasarkan rumus kimianya, zat warna sintetis dalam makanan menurut ”Joint FAO/WHO Expert Commitee on Food Additives (JECFA) dapat digolongkan dalam beberapa kelas yaitu : azo, triaril metana, quinolin, xantin dan indigoid. Berdasarkan penelitian yang terus dilakukan, maka jumlahnya akan bertambah pula.

Proses pembuatan zat pewarna sintetik biasanya melalui perlakuan pemberian asam sulfat atau asam nitrat, yang sering kali terkontaminasi oleh arsen atau logam berat lain yang bersifat racun. Pada pembuatan zat pewarna organik sebelum mencapai produk akhir, harus melalui suatu senyawa antara yang kadang-kadang berbahaya dan sering kali tertinggal dalam hasil akhir, atau terbentuk senyawa-senyawa baru yang berbahaya.

Untuk zat pewarna yang dianggap aman, ditetapkan bahwa kandungan arsen tidak boleh lebih dari 0,00014 persen dan timbal tidak boleh lebih dari 0,001 persen. Sedangkan logam berat lainnnya tidak boleh ada.

Kelarutan pewarna sintetik ada dua macam yaitu dyes dan lakes. Dyes adalah zat warna yang larut air dan diperjual belikan dalam bentuk granula, cairan, campuran warna dan pasta. Digunakan untuk mewarnai minuman berkarbonat, minuman ringan, roti, kue-kue produk susu, pembungkus sosis, dan lain-lain.
Sementara lakes adalah pigmen yang dibuat melalui pengendapan dari penyerapan dye pada bahan dasar. Biasa digunakan pada pelapisan tablet, campuran adonan kue, cake dan donat.

Salah satu pewarna buatan yang tidak boleh masuk makanan bernama rhodamin B. Selain itu juga ada Metanil Yellow Rhodamin B, yang memiliki rumus molekul C28H31N2O3Cl, dengan berat molekul sebesar 479.000.

Rhodamin B berbentuk kristal hijau atau serbuk-unggu kemerah-merahan, sangat mudah larut dalam air yang akan menghasilkan warna merah kebiru-biruan dan berflourensi kuat. Selain mudah larut dalam air juga larut dalam alkohol, HCl dan NaOH.

Selain itu juga biasa dipakai dalam pewarnaan kertas, di dalam laboratorium digunakan sebagai pereaksi untuk identifikasi Pb, Bi, Co, Au, Mg, dan Th. Rhodamin B sampai sekarang masih banyak digunakan untuk mewarnai berbagai jenis makanan dan minuman (terutama untuk golongan ekonomi lemah), seperti kue-kue basah, saus, sirup, kerupuk dan tahu (khususnya Metanil Yellow), dan lain-lain.

Menurut Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Barat, ciri-ciri makanan yang diberi Rhodamin B adalah warna makanan merah terang mencolok. Biasanya makanan yang diberi pewarna untuk makanan warnanya tidak begitu merah terang mencolok.
Jika sudah pada puncaknya, maka Rhodamin B akan memperlihatkan efek pada tubuh. Tanda-tanda dan gejala akut karena Rhodamin B antaranya, jika terhirup dapat menimbulkan iritasi pada saluran pernafasan. Jika terkena kulit, dapat menimbulkan iritasi pada kulit.

Kalau terkena mata, dapat menimbulkan iritasi pada mata, mata kemerahan, udem pada kelopak mata. Jika tertelan dapat menimbulkan gejala keracunan dan air seni berwarna merah atau merah muda.

Metanil Yellow juga merupakan salah satu zat pewama yang tidak diizinkan untuk ditambahkan ke dalam bahan makanan. Metanil Yellow digunakan sebagai pewama untuk produk-produk tekstil (pakaian), cat kayu, dan cat lukis. Metanil juga biasa dijadikan indikator reaksi netralisasi asam basa.

Lalu apa resiko yang akan diterima konsumen yang terus menerus memakan zat pewarna dalam makanannya? Berbagai penelitian dan uji telah membuktikan ia dapat menyebabkan kerusakan pada organ hati.

Pada uji terhadap mencit, diperoleh hasil sangat mengejutkan. Faktanya, terjadi perubahan sel hati dari normal menjadi nekrosis, dan jaringan disekitarnya mengalami disintegrasi atau disorganisasi.

Kerusakan pada jaringan hati ditandai dengan terjadinya piknotik (sel yang melakukan pinositosis ) dan hiperkromatik (pewarnaan yang lebih kuat dari normal) dari nukleus. Degenerasi lemak dan sitolisis dari sitoplasma. Batas antar sel tidak jelas, susunan sel tidak teratur dan sinusoid tidak utuh.
Semakin tinggi dosis yang diberikan, maka semakin berat sekali tingkat kerusakan jaringan hati mencit. Secara statistik, terdapat perbedaan yang nyata antara kelompok kontrol dengan kelompok perlakuan dalam laju rata-rata pertambaan berat badan mencit.

Sedangkan menurut studi yang dilakukan oleh Universitas Hokoriku, Kanazawa, Jepang. Efek Rhodamine B pada kosmetik adalah pada proliferasi dari fibroblas yang diamati pada kultur sistem. Rhodamine B pada takaran 25 mikrogram/ml dan diatasnya secara signifikan menyebabkan pengurangan sel setelah 72 jam dalam kultur.

Studi ini menghasilkan bahwa 50 mikrogram/ml dalam rhodamine B menyebabkan berkurangnya jumlah sel setelah 48 jam dan lebih. Studi ini juga menyarankan bahwa zat warna rhodamine B menghambat proliferasi tanpa mengurangi penggabungan sel. Gabungan [3H] timidine dan [14C] leusin dalam fraksi asam tidak terlarut dari membran sel secara signifikan dihambat oleh 50 mikrogram/ml Rhodamine B.

Rhodamine 6G menyebabkan kerusakan sel yang parah dan rhodamine B secara signifikan mengurangi jumlah sel. Rhodamine 123 tidak memiliki efek yang berarti. Lebih jauh lagi, rhodamine B mengurangi jumlah sel vaskuler endothelial pada pembuluh darah sapi dan sel otot polos pada pembuluh darah hewan berkulit duri setelah 72 jam dalam kultur. Sehingga tidak berlebihan jika studi ini menyimpulkan bahwa rhodamine B menghambat proses proliferasi lipo fibroblast pada manusia.

Ditingkat pasar, ada beberapa nama lain dari Rhodamine B. Jika anda menemuinya dalam makanan, baiknya tidak usah membelinya. Nama lainnya antara lain; Acid Bruliant Pink B, ADC Rhodamine B, Aizen Rhodamine BH, Aizen Rhodamine BHC, Akiriku Rhodamine B, Briliant Pink B, Calcozine Rhodamine BL, Calcozine Rhodamine BX, Calcozine Rhodamine BXP, Cerise Toner, dan
[9-(orto-Karboksifenil)-6-(dietilamino)-3H-xantin-3-ylidene]dietil ammonium klorida.

Berikutnya, Cerise Toner X127, Certiqual Rhodamine, Cogilor Red 321.10, Cosmetic Briliant Pink Bluish D conc, Edicol Supra Rose B, Elcozine rhodamine B, Geranium Lake N, Hexacol Rhodamine B Extra, Rheonine B, Symulex Magenta, Takaoka Rhodmine B, dan Tetraetilrhodamine

Semua kini tergantung pada anda. Jika ingin hidup sehat sampai tua, maka hindarilah makanan yang memakai pewarna buatan atau sintetis. Hidup secara alami tentu lebih baik. Jika tak ada pilihan, maka segeralah makan herba pemusnah racun dalam tubuh, begitu selesai memakan makanan yang mengandung pewarna. Hendri Nova

Iklan

Responses

  1. ijin share ya.. 🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: