Oleh: hendrinova | Mei 14, 2010

Hancurnya si Anak Kyai


Punya ayah seorang Kyai, tidak menjamin anaknya bakal menjadi shaleh dan shalehah. Iman memang tidak bisa diwarisi, walau itu dari orangtua yang paling bertakwa sekalipun.

Iman juga tidak dapat dijual beli, walau seluruh jagat ini sebagai penebusnya. Maka dari itu, jangan terlalu bertauladan banyak pada anak kyai, karena memang tidak semuanya yang dipilih Allah SWT menjadi hambanya yang shaleh dan shalehah.

Hal inilah yang dialami Naufal, seorang anak Kyai di Jawa, pengasuh pondok pesantren. Walau anak Kyai, ia tidaklah seteguh karang dalam mengamalkan Islam. Buktinya, dalam memilih jodoh, kecantikan dijadikan sebagai prasyarat utama.

Waktu kuliah, ia tergila-gila pada Naura, seorang gadis yang gampang bergaul dengan lelaki mana saja. Naura tidak berjilbab, dan pergaulannya dengan lelaki non muhrim, seperti pergaulan bebas masa kini.

Naufal nekad merebut Naura dari Bowo, lelaki yang juga dicintai Naura. Tapi berbekal kerasnya hati Naufal, ia bisa mengikat Naura dalam ikatan pertunanganan.

Pertunanganan itu nyaris batal, ketika Naufal memergoki Naura dan Bowo dalam sebuah cafe. Tapi ia kembali tenang, ketika air mata Naura dengan permohonan maafnya, dipamerkan kepadanya.

Pendek kata, keduanya menikah dan Naufal kemudian bekerja di sebuah perusahaan. Karirnya terus meningkat dan mendapat gaji besar. Karena dapat rumah dinas, Naura meregek minta pindah. Padahal kondisinya sedang hamil besar.

Di kantornya, Naufal mendapat keadaan yang tidak menenangkan. Ia menangkap ada yang tidak beres di kantor. Ia pun menceritakan pada bosnya dan malah dapat promosi jabatan pemimpim di pelabuhan.

Surat pemecatan pejabat lama plus surat pengangkatannya diberikannya pada Pak Seno. Sejak saat itu, ia resmi jadi kepala kantor dengan seabrek kegiatan. Walau sebelum pergi, ia tidak diizinkan Naura yang sedang hamil tua.

Ia mulai gelisah, ketika tidak mendapat kabar kelahiran anaknya. Begitu pulang ke rumah setelah dapat cuti, ia mendapati Bowo berada dalam kamar. Naufal ngamuk dan menendang jebol pintu kamar. Ia pun menghajar lelaki itu.

Setelah beberapa lama, Naufal kembali masuk kerja. Ia pun bertemu Aditya, teman masa kuliah itu. Lelaki inilah yang memperkenalkan anak sang kyai pada dunia malam.

Walau lolos pada tahap awal, Naufal akhirnya jatuh juga pada alkohol dan kehidupan sex bebas. Bahkan meningkat pada penyelundupan barang, dan kehidupan hura-hura berbumbu sex dengan siapa saja ia lakoni.

Novel karya Taufiqurrahman Al-Azizy ini, kalau memang gambaran sebenarnya, sungguh sangat kasihan dengan sang Kyai. Begitu cepat Naufal jatuh dalam dunia hitam, padahal anak pesantren.

Judul Kuhapus Namamu dengan Nama-Nya ini, sepertinya agak dipaksakan. Soalnya, taubat Naufal belum teruji. Sebelumnya Naufal juga sudah berjanji bertaubat, namun tetap kembali ke jalan sesat. Hendri Nova

Judul : Kuhapus Namamu dengan Nama-Nya
Penulis : Taufiqurrahman Al-Azizy
Penerbit : Abdika Press
Cetakan : Pertama, Januari 2010
Tebal : 304 Halaman

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: