Oleh: hendrinova | Mei 2, 2010

Indonesia Butuh Peraturan Pengendalian Dampak Tembakau

Dampak tembakau bagi kesehatan, sudah sangat banyak ahli yang meneliti, membahas dan memutuskan bahwa memang sangat berbahaya. Beragam penyakit bisa ditimbulkannya, dalam waktu singkat atau dalam waktu lama.

Sungguhpun begitu, nasib tembakau agak lebih baik daripada ganja ataupun tumbuhan-tumbuhan berbahaya lainnya. Jika petani ganja bisa ditangkap dan dikenakan hukuman berat, maka petani tembakau bebas bertanam semaunya.

Pihak keamanan pun tidak tinggal diam. Mereka kerap merazia pihak yang bertanam ganja, baik di ladang paling terpencil sampai area pekarangan pribadi.

Semua orang memang sudah menjustifikasi, ganja sangat berbahaya bagi nyawa. Walau dengan alasan apapun juga, harus dienyahkan dari muka bumi Indonesia.

Padahal sejak dulu kala, masyarakat banyak mengenal daun ganja untuk bumbu masakan. Cita rasa masakan jadi meningkat, dan selera makan makin baik dengan adanya bumbu ganja. Hal ini diakui oleh banyak ibu-ibu Aceh, yang tanahnya sangat gampang ditumbuhi ganja.

Tapi setelah daunnya dihisap sebagai rokok dan menyebabkan si pelaku melayang, larangan bertanam ganja akhirnya keluar. Hasilnya, untuk bumbu masak pun, tumbuhan ganja sulit untuk didapatkan. Padahal menurut banyak kaum ibu, sambal yang diberi bumbu ganja, sangat enak rasanya.

Akan halnya dengan tembakau, juga memiliki riwayat yang sama. Dulu kaum wanita mengunyahnya untuk menghilangkan rasa mual kala hamil. Tapi setelah diketahui akibatnya pada janin, kebiasaan itu bisa digantikan oleh sirih.

Fungsi tembakau turut berkembang, seiring dengan adanya eksperimen kecil-kecilan dalam masyarakat. Ia akhirnya menjadi teman wajib, saat merokok dengan lintingan daun jagung.

Begitu zat nikotin yang diketahui sangat berbahaya bagi kesehatan ada dalam tembakau, pemerintah terkesan diam dan menganggapnya angin lalu. Walau hasil penelitian juga telah membuktikan banyaknya penyakit yang bisa ditimbulkan oleh tembakau, larangan mengembangbiakkan tembakau tak kunjung muncul.

Alhasil, banyak petani yang akhirnya menggantungkan hidupnya dari bertanam tembakau. Coba kalau dari dulu sudah ada peraturan yang melarang bertanam tembakau, keadaannya tentu tidak akan seperti ini.

Lihat saja dikala fatwa haram rokok dikeluarkan Majelis Ulama Indonesia (MUI), berbagai berita negatif langsung bermunculan. Para kuli tinta memberitakan nasib petani tembakau yang merana, buruh rokok yang terancam PHK dan tutupnya pabrik rokok.

Tentu tidak ada pula alasan menyalahkan wartawan yang memberitakannya. Toh dalam kaedah jurnalistik, pemberitaan harus seimbang. Wartawan tentu tidak akan membuat beritanya, jika fakta dilapangan nihil.

Oleh karena itu, perlu pula perundangan atau peraturan yang melindungi petani dan buruh, dari akses pelarangan menanam tembakau nantinya. Misalkan saja, menjelang petani mendapat hasil dari tanaman pengganti, ekonomi rumahtangga mereka harus ditanggung pemerintah. Begitu juga dengan buruh, harus dipikirkan uang lauk pauk mereka, menjelang ada pekerjaan lain.

Menurut informasi yang dihimpun dari mayoclinic.com, diketahui cara tembakau merusak tubuh manusia. Sekitar 4.000 komponen kimiawi langsung diproduksi saat tembakau mulai dibakar. Dari jumlah itu, beberapa komponen berpotensi menyebabkan kanker.

Dalam satu isapan rokok, akan terbawa setidaknya 60 komponen karsinogen (pemicu kanker) ke dalam tubuh. Selain ke-60 komponen itu, juga akan terhisap ammonia (yang mengiritasi paru-paru), karbon monoksida (yang mengurangi oksigen di darah), metanol (racun yang terisap), hidrogen sianida (yang mengganggu fungsi pernapasan), dan formaldehid (mengiritasi bulu mikroskopis yang menutupi permukaan paru-paru).

Nikotin yang dapat membuat pelakunya merasa ketergantungan, sama seperti kokain. Nikotin merupakan sejenis zat kimia dalam tembakau yang membuat perokok tetap ingin merokok.

Saat dihisap, terutama dengan hisapan yang cepat, dalam, dan banyak, nikotin kemudian memberikan efek ketergantungan seperti kokain. Alasannya, nikotin meningkatkan kadar dopamin. Dopamin adalah zat yang membuat perokok merasa senang. Saat dopamin dipaksa untuk menaik, maka proses kecanduan pun dimulai.

Setiap perokok akan mengalami masalah kesuburan. Selain itu, juga dapat meningkatkan risiko gangguan kehamilan pada perempuan, serta impotensi pada pria. Baik pria maupun perempuan, setiap perokok berisiko untuk mengalami infertilitas.

Iming-iming perusahaan rokok yang mengatakan kandungan tar dan nikotin yang rendah, hendaknya jangan membuat masyarakat tertipu. Walau bagaimanapun juga, perokok tetaplah memiliki risiko-risiko kesehatan, seberapa rendahpun kandungan tar dan nikotin pada rokok yang dihisap.

Alasan mengganti rokok dengan rokok “ringan”, tetap tidak akan mengurangi risiko terkena kanker paru-paru, emfisema, serangan jantung, dan penyakit lainnya. Faktanya, pengisap ” rokok ringan” memiliki risiko yang lebih besar untuk terkena beberapa jenis kanker paru-paru daripada mereka yang mengisap “rokok berat”.

Efek nikotin tembakau yang dipakai dengan cara menghisap, menguyah atau menghirup tembakau dengan sedotan, menyebabkan penyempitan pembuluh darah, peningkatan denyut jantung dan tekanan darah, nafsu makan berkurang, sebagian menghilangkan perasaan cita rasa dan penciuman serta membuat paru-paru menjadi nyeri. Penggunaan tembakau dalam jangka panjang dapat menyebabkan kerusakan pada paru–paru, jantung, dan pembuluh darah .

Kasus kematian akibat merokok, benar-benar sangat mengerikan. Seperti yang dimuat http://www.gizi.net, setiap menit 8 orang meninggal akibat rokok. Bahkan menurut praktisi kesehatan yang juga aktivis Lembaga Menanggulangi Masalah Merokok (LM 3), dr Tjandra Yoga Aditama, Indonesia adalah negara kelima terbesar di dunia dalam hal konsumsi rokok. Pada 2002, jumlah rokok yang dihisap oleh penduduk Indonesia mencapai 215 miliar batang.

Urutan pertama ditempati Cina dengan jumlah 1.643 miliar batang, Amerika Serikat 451 miliar, Jepang 328 miliar, dan Rusia di peringkat keempat sebanyak 258 miliar batang.

Sekitar setengah dari jumlah perokok, kata Tjandra, akan meninggal akibat rokoknya. Separuh dari mereka yang meninggal itu akan tutup usia pada umur 35-69 tahun.

Sekitar 100 juta orang meninggal akibat rokok di abad ke-20. Kalau situasinya tetap seperti ini, maka akan ada satu miliar orang yang akan mati akibat rokok di abad ke-21.

Pada 2000, lanjut Tjandra, kematian akibat rokok di kalangan pria di negara maju sebanyak 1,6 juta orang. Di negara berkembang sebesar 1,8 juta orang. Jadi, total pria yang meninggal akibat rokok sebanyak 3,4 juta orang.

Sedangkan wanita di negara maju yang meninggal akibat benda ini sebanyak 0,5 juta orang. Di negara berkembang sebanyak 0,3 juta orang. Totalnya sebanyak 0,8 juta orang.

Dengan demikian, total kematian pada 2000 akibat rokok adalah 4,2 juta per tahun, atau 350 ribu per bulan, atau 11.666 per hari, atau 486 per jam. Tercatat ada delapan orang meninggal dunia setiap menit di dunia, akibat rokok.

Ia melanjutkan, pada asap rokok terdapat sekitar 4.000 bahan kimia berbahaya. Asap ini terbagi dua, yaitu asap utama (main stream smoke) yang keluar dari pangkal rokok dan asap sampingan (side stream smoke) yang keluar dari ujung rokok.

Zat-zat berbahaya tersebut meliputi aseton (cat), ammonia (pembersih lantai), arsen (racun), butane (lighter fuel — bahan bakar ringan), kadmium (aki mobil), karbon monoksida (asap knalpot), DDT (insektisida). Selain itu juga hidrogen sianida (gas beracun), methanol (bensin roket), naftalen (kamper), toluene (pelarut industri), vinil klorida (plastik), dan masih banyak lagi.

Akibat yang ditimbulkan zat-zat berbahaya tersebut adalah gangguan pada paru, yaitu penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) yang meliputi bronkhitis kronik dan emfisema. Juga kanker paru (bukan karsinoma sel kecil dan karsinoma sel kecil), penurunan faal paru, dan penyakit paru lainnya.

Rokok juga mengakibatkan gangguan sperma pada pria. Sedangkan pada wanita berupa nyeri haid, menopause lebih awal, dan infertilitas.

Penyakit atau masalah lain yang ditimbulkan karena rokok adalah rambut (bau dan kotor), mata (berair, sering berkedip, katarak, degenerasi macula, kebutaan), kulit (keriput, penuaan dini), hidung (gangguan penciuman), gigi (diskolorisasi, plak, longgar, gingivitis), dan mulut (bau mulut, nyeri tenggorok, gangguan mengecap rasa).

Berbagai jenis kanker juga mengancam para perokok. Antara lain kanker mulut yang berpotensi lima kali lebih besar, kanker tenggorok sembilan kali lebih besar, kanker kandung kemih dua hingga tiga kali lebih besar, kanker bibir, pipi, lidah, kanker pankreas, esofagus, dan kanker leher rahim.

Pada wanita hamil, rokok bisa menyebabkan keguguran, gangguan tumbuh kembang anak dan penyakit lain pada anak, gangguan oksigen janin, dan gangguan enzim pernapasan. Jika ibu merokok 10 batang per hari, maka kemungkinan anaknya akan menderita asma dua kali lebih besar.

Karena itu jelas Tjandra, kebiasaan merokok harus dihentikan. Caranya dengan mengenali bahaya rokok, ubah kebiasaan, lakukan secara berangsur-angsur, dan yang terpenting ada motivasi yang kuat untuk menghentikan rokok.

Sementara Prof Dr Sunarto seperti yang dikutip dari http://www.detiknews.com menambahkan, Indonesia merupakan satu-satunya negara di kawasan Asia Pasifik yang belum menerapkan konvensi soal pemakaian tembakau dalam Framework Convenstion on Tobaco Control (FCTC). Konvensi ini telah ditandatangani 160 negara di dunia yang salah satunya mengatur mengatur secara ketat pemakaian tembakau untuk rokok seperti produksi, iklan dan penggunanya.

Konvensi itu juga mengatur produksi rokok diturunkan, iklan rokok dihapus hingga larangan merokok bagi anak-anak. Untuk mengurangi bahaya rokok, pihaknya berharap agar pemerintan menerapkan kebijakan tentang rokok seperti beberapa negara lainnya.

Misalnya di Thailand dan Singapura, dalam bungkus rokok selain ditulis peringatan bahaya merokok juga disertai photo korban bahaya rokok. Kebijakan ini lambat laun akan mengurangi jumlah perokok di Indonesia. Penelitian menunjukkan, pemasangan gambar korban rokok pada kemasan bungkus rokok itu berpengaruh terhadap penurunan tingkat pengguna merokok.

Untuk menjamin kesehatan warga Indonesia di masa yang akan datang, maka dampak tembakau harus diatur lebih cepat. Selain untuk kepentingan medis, maka tembakau tidak boleh digunakan dalam rokok.

Produsen rokok harus mencari tetumbuhan lain, sebagai bahan campuran rokok yang aman. Mungkin harus ada kajian mendalam, terkait penggunaan sirih kering, atau herba berkhasiat obat lainnya.

Jika dampak merokok baik untuk kesehatan, tentu tidak akan ada larangan merokok. Masalah sekarang memang ada pada tembakau, yang jelas berbahaya bagi kesehatan jika dikonsumsi mentah ataupun dengan cara dihisap.

Pemerintah harus mengeluarkan peraturan larangan bertanam tembakau, memproduksi rokok tembakau dan pendistribusiannya di tengah-tengah masyarakat. Jika peraturan itu sudah ada, tentu tidak akan ada lagi warga yang menderita beragam penyakit karena rokok.

Bola sekarang ada di tangan pemerintah. Jika memang sayang pada rakyat, maka status tembakau harus disamakan dengan ganja. Semua orang terlarang menanam, memakai dan memperjualbelikannya. Berbagai Sumber Hendri Nova

Iklan

Responses

  1. salam kenal ……brobagus artikelnya bro thanks mampir ke blog saya http://www.ferysunarya.blogspot.com artikel pecinta ganja jangan lupa comentari

  2. salam kenal ……brobagus artikelnya bro thanks mampir ke blog saya http://www.ferysunarya.blogspot.com artikel pecinta ganja jangan lupa comentari


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: